Misteri Api "Gaib" di Seyegan, BPBD Sleman Gandeng Gegana dan Pakar Lintas Kampus

5 Juni 2026 06:04 5 Jun 2026 06:04

Fajar Rianto, Rahmat Rifadin

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Misteri Api "Gaib" di Seyegan, BPBD Sleman Gandeng Gegana dan Pakar Lintas Kampus

Kobaran api kecil dan bara yang tiba tiba muncul dan membakar sejumlah barang serta kardus di salah satu sudut rumah warga di Dusun Kasuran, Margomulyo, Seyegan. Fenomena kemunculan api secara acak yang telah terjadi lebih dari 91 kali sejak, 23 Mei 2026. (Foto: Fajar R/Ketik.com)

KETIK, SLEMAN – Fenomena alam di luar nalar tengah melanda Dusun Kasuran, Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman. Sejak Jumat, 23 Mei 2026 lalu, titik-titik api misterius muncul secara acak dan membakar rumah warga hingga puluhan kali.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman mencatat, intensitas kemunculan api yang belum diketahui sumbernya ini telah mencapai angka yang mencengangkan, lebih dari 91 kali kejadian. Pemerintah Kabupaten Sleman pun langsung bergerak cepat dengan menerjunkan tim gabungan lintas sektoral untuk menyelidiki sekaligus mengamankan lokasi demi menenangkan warga yang mulai dicekam kecemasan.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman, Bambang Kuntoro, AP MSi, menegaskan bahwa pemerintah menaruh perhatian penuh dan sangat prihatin atas musibah yang menimpa warga Seyegan. Hal tersebut disampaikannya langsung dalam paparan resmi penanganan bencana pada Kamis, 4 Juni 2026.

"Pemerintah Kabupaten Sleman menyampaikan tentang keprihatinan atas kejadian yang terjadi di Seyegan dan berkomitmen untuk secara serius dalam penanganan kejadian ini," tegas Bambang Kuntoro dalam pernyataannya.

Foto Kalak BPBD Sleman, Bambang Kuntoro, AP MSi, saat memberikan keterangan terkait perkembangan penanganan fenomena kebakaran berulang di Seyegan serta kondisi kesiapsiagaan bencana di wilayah Sleman, Kamis 4 Juni 2026. (Foto: Prokompim Slmn for Ketik.com)Kalak BPBD Sleman, Bambang Kuntoro, AP MSi, saat memberikan keterangan terkait perkembangan penanganan fenomena kebakaran berulang di Seyegan serta kondisi kesiapsiagaan bencana di wilayah Sleman, Kamis 4 Juni 2026. (Foto: Prokompim Slmn for Ketik.com)

Selidiki Unsur Gas Kimia dan Struktur Geologi

Guna menguak tabir di balik munculnya api misterius tersebut, BPBD Sleman tidak bekerja sendirian. Kolaborasi skala besar dilakukan dengan melibatkan Basarnas, BPPTKG, BRIN, TNI, Polri, hingga para pakar dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta.

Bambang memaparkan bahwa investigasi penyebab kebakaran dilakukan secara menyeluruh dari berbagai disiplin ilmu.

"Polri melalui tim gegana melakukan analisa terhadap kemungkinan bahan gas, kimia, atau biologi yang terdapat di lokasi sebagai pemicu terjadinya kebakaran. Sementara akademisi dari UGM dan UPN melakukan penelitian secara geologi, geofisika, dan analisa gas baik di dalam rumah serta terhadap lingkungan di sekitar lokasi kebakaran berulang dengan menganalisa pemicu terjadinya kebakaran yang saat ini masih dalam tahap penelitian," jelas Bambang.

Lebih lanjut, instansi tingkat kementerian dan lembaga seperti BPPTKG juga diterjunkan untuk menganalisis kemungkinan adanya timbulan gas maupun sumber lain sebagai pemicu kebakaran. Para ahli tengah meneliti intensif apakah fenomena ini disebabkan oleh gas metana, gas udruken, atau gas rawa. Hasil kajian ilmiah dari para pakar tersebut nantinya akan menjadi dasar bagi BPBD untuk menentukan status darurat khusus serta mengambil keputusan terkait pengosongan atau pengungsian warga.

Foto Petugas saat menurunkan bantuan air minum dalam kemasan (AMDK) dari armada pikap untuk warga terdampak fenomena kebakaran berulang di Dusun Kasuran, Margomulyo, Seyegan. Bantuan dari PDAM Sleman ini guna membantu mencukupi kebutuhan logistik harian warga serta relawan yang bersiaga penuh di lokasi kejadian. (Foto: Fajar R/Ketik.com)Petugas saat menurunkan bantuan air minum dalam kemasan (AMDK) dari armada pikap untuk warga terdampak fenomena kebakaran berulang di Dusun Kasuran, Margomulyo, Seyegan. Bantuan dari PDAM Sleman ini guna membantu mencukupi kebutuhan logistik harian warga serta relawan yang bersiaga penuh di lokasi kejadian. (Foto: Fajar R/Ketik.com)

Warga Alami Trauma hingga Tidur di Halaman

Dampak psikologis dan material yang dialami warga terdampak sangat masif. Karena ancaman api yang bisa muncul kapan saja tanpa diprediksi, beberapa korban terpaksa mengungsi ke rumah sebelah, bahkan ada yang memilih tidur di atas rumput halaman selama 13 hari terakhir karena didera rasa takut dan tidak bisa bekerja. Kondisi tersebut membuat warga mengalami trauma mendalam.

Menyikapi hal tersebut, Pemkab Sleman memastikan penanganan dampak sosial dan psikologis berjalan beriringan. Dinas Sosial bersama BPBD Sleman telah mendistribusikan bantuan logistik pangan berupa makanan bagi korban terdampak. Selain itu, bantuan non-pangan seperti tempat tidur, selimut, dan matras juga disalurkan, sembari berkoordinasi dengan BPBD DIY untuk mencukupi kebutuhan logistik bagi para relawan yang piket di lokasi kejadian.

Mengingat trauma mendalam yang dialami keluarga korban, Dinas Kesehatan turut menerjunkan tim medis untuk memberikan dukungan psikologis sebagai bentuk pendampingan langsung. Untuk sektor keamanan, unsur TNI, Polri, kecamatan, kelurahan, hingga kelompok Jaga Warga bersiaga melakukan patroli secara berkala guna memastikan situasi di lokasi tetap kondusif.

Edukasi APAR dan Kesiapsiagaan Ancaman Bencana Berlapis

Sebagai langkah mitigasi darurat, TRC BPBD Sleman bersama Pemadam Kebakaran terus bersiaga di lokasi kejadian untuk memantau perkembangan situasi dan mendata setiap titik api yang muncul. Warga dan relawan kebencanaan yang berjaga dibekali edukasi praktis mengenai cara penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) agar bisa langsung diaplikasikan jika sewaktu-waktu muncul titik api baru. Pemerintah juga memberikan imbauan mitigasi agar barang-barang yang sifatnya mudah terbakar segera dijauhkan dari lokasi titik api guna meminimalisir dampak kerugian.

Di sisi lain, BPBD Sleman menginformasikan bahwa tantangan kebencanaan di wilayah Sleman saat ini sedang berlapis. Selain penanganan api misterius di Seyegan, Kabupaten Sleman saat ini juga berada dalam kondisi siaga darurat erupsi Gunung Merapi yang berstatus Level 3 (Siaga) hingga 31 Juli.

Rekomendasi zona bahaya bahaya saat ini berupa guguran lava dan awanpanas pada sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal 7 km. Pada sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol 5 km. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.

Aktivitas vulkanik Merapi terpantau masih tinggi dengan 120 kali guguran pada malam sebelumnya dan 20 kali guguran pada dini hari. Bersamaan dengan itu, SK siaga darurat cuaca ekstrem berlaku hingga 31 Juli 2026 karena curah hujan tinggi, yang disusul rencana penerbitan SK siaga daerah kekeringan mulai Juli untuk mengantisipasi musim kemarau akibat fenomena El Nino.

Pada akhir keterangannya, Bambang Kuntoro menyampaikan poin-poin imbauan penting kepada masyarakat luas agar situasi tetap terkendali.

"Untuk masyarakat dihimbau tetap tenang dan tidak panik namun tetap meningkatkan kesiapsiagaan. Memeriksa instalasi listrik, hindari membakar sampah tanpa pengawasan terlebih saat ini sudah mulai masuk musim kemarau. Segera melaporkan kepada pemerintah atau dinas terkait apabila melihat hal yang mencurigakan atau munculnya titik api. Menjaga keamanan di sekitar lokasi dan menunggu hasil kajian dan penelitian secara ilmiah," pungkas Bambang menutup pernyataannya. (*)

Tombol Google News

Tags:

Pemkab Sleman BPBD Sleman Kebakaran Seyegan Api Misterius Bambang Kuntoro Kasuran Margomulyo Bencana Sleman Gunung Merapi