Deni Wijaya Sebut Seni Nyethe Bukan Sekadar Budaya Nongkrong, Tapi Kearifan Lokal Tulungagung

17 September 2026 01:41 17 Sep 2026 01:41

Sugeng Hariyadi, Al Ahmadi

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Deni Wijaya Sebut Seni Nyethe Bukan Sekadar Budaya Nongkrong, Tapi Kearifan Lokal Tulungagung

Tokoh Masyarakat Ngunut sekaligus Owner Sinar Papua Deni Wijaya (memegang cangkir kopi) berikan dukungan dan Suportnya pada Lomba Seni Cethe Polres Tulungagung Cup 2026. (Foto : Hariya/Ketik.com)

KETIK, TULUNGAGUNG – Halaman Mapolsek Ngunut, Polres Tulungagung, dipenuhi suasana hangat dan penuh kebersamaan pada Rabu malam, 16 September 2026.

Sebanyak 60 peserta dari berbagai kalangan mengikuti Lomba Seni Cethe Polres Tulungagung Cup 2026.

Kegiatan yang diinisiasi Polsek Ngunut tersebut menjadi wadah silaturahmi sekaligus ruang bagi masyarakat untuk menunjukkan kreativitas dalam seni cethe, yakni seni menggoreskan ampas kopi pada batang rokok yang dikenal sebagai salah satu kearifan lokal Kabupaten Tulungagung.

Antusiasme peserta mendapat apresiasi dari berbagai elemen masyarakat.

Salah satunya Deni Wijaya, tokoh masyarakat Ngunut yang juga dikenal sebagai owner Sinar Papua.

Deni menilai kegiatan tersebut mampu mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang dalam suasana guyub dan rukun.

“Pada malam hari ini di Polsek Ngunut sangat luar biasa. Semua elemen masyarakat dengan latar belakang yang berbeda-beda, dengan kreativitas kemampuan nyethe, baik yang mahir, pemula, maupun yang sekadar mencari hiburan, semua berkumpul di Polsek ini dengan guyub rukun,” ujar Deni Wijaya.

Menurut Deni, kegiatan tersebut tidak hanya berorientasi pada perlombaan.

Lebih dari itu, ajang tersebut dinilai menjadi ruang untuk membangun kebersamaan dan memperkuat kekompakan masyarakat.

Ia menilai diperlukan pelopor yang mampu mewadahi potensi masyarakat sekaligus menjaga kebersamaan.

Menurutnya, seni cethe sebagai bagian dari kearifan lokal Tulungagung perlu terus dilestarikan dan dikembangkan melalui pembinaan.

“Tulungagung ini cikal bakal pusatnya seni nyethe. Budaya ini lahir dari masyarakat sendiri, jadi harus sangat dilestarikan. Bahkan yang memiliki bakat perlu ada bimbingan dan arahannya. Seni nyethe ini adalah bagian dari kesenian dan kearifan lokal yang bisa dipadukan dengan seni lukis, bukan sekadar budaya nongkrong semata,” tambahnya.

Deni juga menyampaikan rencana untuk mendukung kegiatan serupa pada masa mendatang bersama Sinar Papua.

Ia berharap kegiatan seni cethe dapat dikembangkan dalam skala lebih besar sehingga mampu menjaring bakat-bakat baru dari Tulungagung dan daerah sekitarnya.

Lomba Seni Cethe Polres Tulungagung Cup 2026 di Mapolsek Ngunut berlangsung dengan aman dan tertib.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang pertemuan masyarakat untuk menikmati seni dan tradisi lokal dalam suasana kekeluargaan.(*)

Tombol Google News

Tags:

Polsek Ngunut Lomba Seni Cethe Polres Tulungagung Seni Cethe Cethe Tulungagung Nyethe budaya lokal Kearifan lokal Deni Wijaya Sinar Papua Masyarakat Ngunut Seni Lukis Kreativitas Warga Silaturahmi Guyub Rukun Kabupaten Tulungagung ngunut Tulungagung berita tulungagung info tulungagung