KETIK, ACEH SINGKIL – Persepakbolaan Aceh kembali mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Terbitnya rekomendasi PSSI Pusat terkait penundaan pelaksanaan Kongres Biasa Pemilihan PSSI Provinsi Aceh periode 2026–2030 mendapat perhatian berbagai kalangan.
Salah satunya, Zainal Abidin Simatupang atau akrab disapa ZAS, mantan wakil ketua Askab PSSI Aceh Singkil, menyampaikan dukungan, dan terima kasih kepada PSSI Pusat atas langkah tersebut.
Menurutnya, penundaan kongres dapat menjadi momentum penting untuk memberikan ruang bagi penyelesaian berbagai dinamika yang berkembang, sekaligus memastikan proses organisasi PSSI Aceh berjalan sesuai dengan ketentuan dan Statuta PSSI, katanya, Rabu, 30 September 2026.
“Demi kemajuan sepak bola Aceh ke depan, sudah sewajarnya PSSI Pusat hadir dan mengambil peran untuk menengahi dinamika yang tengah terjadi di lingkungan sepak bola Aceh,” kata Zaenal.
Ia menilai, langkah PSSI Pusat tersebut menjadi harapan bagi para pemerhati sepak bola, baik di Aceh Singkil, maupun Aceh secara umum. Penundaan kongres diharapkan dapat dimanfaatkan untuk membenahi tata kelola organisasi agar semakin profesional, transparan, objektif, serta tetap berpedoman pada aturan yang berlaku.
Harapannya, momentum ini dapat menjadi jalan untuk memperbaiki tata kelola organisasi, membangun kebersamaan, serta mengembalikan fokus utama kepada pembinaan dan kemajuan sepak bola Aceh.
Zaenal juga menyoroti kemungkinan penunjukan Pelaksana Tugas (Plt.) Ketua PSSI Aceh apabila memang diperlukan. Ia berharap sosok yang dipercaya nantinya memiliki integritas dan sikap netral serta tidak mempunyai kepentingan dalam proses pemilihan.
“Yang paling penting adalah netralitas. Plt. nantinya harus mampu menjaga marwah organisasi dan memastikan proses menuju kongres pemilihan ketua berjalan secara demokratis, adil, transparan, serta sesuai statuta PSSI,” tegasnya.
Lebih lanjut, ZAS mengajak seluruh elemen sepak bola Aceh untuk mengedepankan kepentingan organisasi dan kemajuan sepak bola di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
Menurutnya, perbedaan pandangan dalam sebuah organisasi merupakan bagian dari dinamika. Namun, seluruh perbedaan tersebut harus disikapi secara dewasa melalui mekanisme organisasi dan koridor aturan yang berlaku.
"Mari kita jadikan momentum ini sebagai langkah bersama untuk membangun sepak bola Aceh yang lebih baik, profesional, berintegritas, solid, dan berprestasi. Kepentingan sepak bola Aceh harus kita tempatkan di atas kepentingan pribadi maupun kelompok,” pungkasnya. (*)
