KETIK, JAWA TIMUR – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengungkapkan data angka kemiskinan dan cakupan kesehatan kepada seluruh masyarakat di Jawa Timur yang hampir menyentuh angka 100 persen.
Capaian itu ia utarakan dalam sambutannya, sebagai inspektur upacara peringatan HUT ke-81 Provinsi Jawa Timur yang berlangsung di halaman Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Senin, 12 Oktober 2026.
Ia menjelaskan, angka kemiskinan esktrem di Jawa Timur telah turun menjadi 0,29 persen.
"Alhamdulillah, ikhtiar kolektif ini membuahkan hasil yang patut kami syukuri bersama, berdasarkan data per Maret 2026, kemiskinan ekstrem di Jawa Timur nyaris berhasil kami tuntaskan karena berada pada angka 0,29 persen," kata Khofifah.
Ia berharap kerja keras ini terus dilanjutkan untuk mengejar target nol kemiskinan ekstrem di Jawa Timur. "Mudah-mudahan terus bisa maksimal sehingga kemiskinan ekstrem bisa nol persen," imbuhnya.
Berdasarkan data yang dikeluarkan Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) dan Badan Pusat Statistik (BPS) per 28 April 2026 angka kemiskinan ekstrem di Jawa Timur berhasil diturunkan hingga 0,29 persen di 2025.
Angka tersebut, tercatat jauh lebih rendah di bawah rata-rata nasional yang ada di angka sebesar 0,85 persen. Apabila dilihat secara makro, periode 2020-2025 kemiskinan ekstrem Jawa Timur turun sebesar 4,26 persen poin.
Rincinya kemiskinan ekstrem Jatim di tahun 2020 ada di angka 4,55 persen dan turun menjadi 0,29 persen pada 2025. Capaian ini lebih signifikan dibanding penurunan nasional sebesar 3,05 persen.
Upaya menekan angka kemiskinan ini karena Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur melakukan sejumlah langkah strategis, seperti memberikan pelatihan terhadap masyarakat, dengan penguatan BUMDes.
"Kami semua bersyukur bahwa hari ini Jawa Timur memiliki 4.716 desa mandiri melalui BUMDes. Kami memperluas kesempatan kerja yang berkualitas dan memperkuat kemampuan masyarakat untuk berusaha," jelas Khofifah.
"Pada Mei 2026, tingkat pengangguran terbuka Jawa Timur berhasil kita tekan pada angka 3,42 persen, sebuah capaian yang menunjukkan resiliensi ekonomi kita," imbuhnya.
Pada layanan kesehatan, Pemprov Jawa Timur membentuk pilar Jatim Sehat dimana berkomitmen menghadirkan jaring pengaman kesehatan yang inklusif juga dinilai telah menunjukkan hasil positif.
"Hingga September 2026, tercatat 96,12 persen warga Jawa Timur telah terlindungi oleh jaminan kesehatan. Peningkatan layanan kesehatan ini dibuktikan dengan kualitas fasilitas medis," tuturnya.
Keberhasilan Pemprov Jawa Timur dalam penanganan kemiskinan dan peningkatan layanan kesehatan sejalan dengan tema besar peringatan HUT ke-81 Provinsi Jawa Timur, yaitu "Jatim Unggul Maju Berkelanjutan".
Pencapaian pada kedua sektor fundamental tersebut diharapkan terus memperkuat daya saing dan keseimbangan sosial di Jawa Timur. (*)
