KETIK, MALANG – Polres Malang mengajak masyarakat bersama-sama membangun ruang digital yang sehat dengan mengedepankan literasi, toleransi dan sikap bijak dalam bermedia sosial.
Hal itu disampaikan dalam Focus Group Discussion (FGD) Dialog Kebangsaan yang membahas tantangan menjaga persatuan di tengah perkembangan teknologi digital.
Kegiatan bertema 'Merawat Bhinneka Tunggal Ika Memperkuat Persatuan Bangsa di Tengah Polarisasi dan Ruang Digital' itu digelar di Poskoffie, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Kamis, 13 Agustus 2026.
FGD tersebut diikuti puluhan peserta dari berbagai unsur. Mulai dari pejabat utama Polres Malang, Bakesbangpol Kabupaten Malang, tokoh agama, organisasi kepemudaan, mahasiswa, organisasi masyarakat hingga komunitas pengemudi.
Kapolres Malang AKBP Rulian Syahuri mengatakan perkembangan ruang digital perlu diiringi dengan kesadaran masyarakat dalam menggunakan media sosial secara bertanggung jawab. Menurutnya, ruang digital memiliki banyak manfaat apabila dimanfaatkan untuk bertukar informasi, memperluas wawasan dan membangun komunikasi yang positif.
"Kita perlu saling berkolaborasi dalam menjaga ruang digital agar menjadi ruang yang sehat, tempat kita berbagi informasi, bertukar pikiran dan membangun komunikasi yang positif," kata Rulian.
Rulian menekankan pentingnya literasi digital, mengingat masyarakat Indonesia merupakan pengguna aktif media sosial. Kemampuan memilah informasi menjadi bagian penting agar masyarakat dapat membedakan informasi yang benar, bermanfaat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Menurutnya, keberagaman yang ada di tengah masyarakat juga perlu tercermin dalam aktivitas di ruang digital. Perbedaan pandangan tidak seharusnya menjadi penghalang untuk membangun komunikasi dan kerja sama.
"Mari kita senantiasa menjunjung tinggi perbedaan dan toleransi. Kebersamaan harus terus kita rawat dengan mempersatukan visi dan misi untuk mewujudkan Kabupaten Malang yang maju, aman, dan kondusif," ujarnya.
Ketua PC GP Ansor Kabupaten Malang H. Fatkhurrozi juga menilai pemuda memiliki peran penting dalam menciptakan suasana digital yang positif. Menurutnya, generasi muda dapat menjadi penghubung antarkelompok sekaligus menghadirkan narasi yang membangun di media sosial.
"Perbedaan bukan alat untuk saling menghapus, melainkan sebagai alat pemersatu bangsa," kata Fatkhurrozi dalam kegiatan tersebut.
Sementara itu, Kepala Bakesbangpol Kabupaten Malang Agus Widodo menyebut perkembangan teknologi dan media sosial turut memengaruhi pola pikir serta pandangan generasi muda. Karena itu, pemahaman mengenai kebhinekaan dan penggunaan ruang digital secara bijak perlu terus ditingkatkan.
Dalam diskusi, peserta juga membahas pentingnya penegakan hukum tanpa memandang status maupun privilese. Konsep keadilan restoratif turut menjadi salah satu pembahasan.
Harapannya, orientasi hukum yang tidak semata-mata memberikan sanksi kepada pelaku, tetapi juga memperhatikan pemulihan korban dan keadaan.
Peserta juga membahas perkembangan digitalisasi yang pada dasarnya dapat menjadi sarana untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas dan konektivitas dalam berbagai aspek kehidupan.
Karena itu, masyarakat dinilai perlu meningkatkan kecakapan dalam menggunakan teknologi agar ruang digital dapat memberikan manfaat yang lebih luas. Media sosial tidak hanya menjadi tempat menerima informasi, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan gagasan, mempererat komunikasi dan menyebarkan pesan-pesan positif.
Melalui dialog tersebut, Polres Malang berharap sinergi antara kepolisian dan berbagai elemen masyarakat terus terjaga. Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk menciptakan lingkungan sosial maupun ruang digital yang nyaman dan kondusif.
"Kami ingin seluruh elemen masyarakat duduk bersama, saling berbagi informasi dan membangun sinergi untuk ruang digital yang lebih sehat. Dengan kolaborasi, kita bisa bersama-sama menjaga Kabupaten Malang tetap aman dan kondusif," pungkas Rulian. (*)
