Gandeng PHRI, Pemkab Sleman Perkuat Ketahanan Pangan Lewat Aplikasi Digital dan Pertanian Modern

20 Oktober 2026 23:31 20 Okt 2026 23:31

Fajar Rianto, Al Ahmadi

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Gandeng PHRI, Pemkab Sleman Perkuat Ketahanan Pangan Lewat Aplikasi Digital  dan Pertanian Modern

Ketua PHRI Sleman Andhu Pakerti memberikan keterangan terkait peluncuran direktori digital rantai pasok pangan lokal, Selasa malam, 20 Oktober 2026. (Foto: Fajar R/Ketik.com)

KETIK, SLEMAN – Pemerintah Kabupaten Sleman menggandeng Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) meluncurkan inovasi aplikasi peta potensi pertanian dan perikanan.

Peluncuran sistem digital ini akan digulirkan bertepatan dengan momentum peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) 2026 yang mengusung tema "Innovate Today. Nourish Tomorrow", (Berinovasi hari ini. Memberi nutrisi untuk masa depan).

Ketua PHRI Sleman, Andu Pakerti, mengungkapkan bahwa kolaborasi ini diwujudkan melalui sistem informasi pemetaan lokasi serta penyebaran produk binaan Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman.

"Inovasi ini dirancang untuk menghubungkan langsung para pelaku usaha tani, peternak, hingga perikanan lokal dengan sektor perhotelan dan restoran di Sleman," ujar Andu, Selasa malam 20 Oktober 2026.

Menurutnya inovasi digital ini merupakan gagasan PHRI Sleman. Aplikasi tersebut difungsikan sebagai peta digital komoditas unggulan wilayah Sleman.

Melalui platform yang diintegrasikan ke laman resmi phrisleman.com pada kanal khusus supplier, data pasokan hasil tani dan perikanan disajikan secara terbuka.

Data ini bisa diakses langsung oleh pengusaha hotel, restoran, hingga investor. Rantai pasok yang selama ini panjang dan berbelit pun diharapkan bisa terpotong.

"Harapannya bisa memudahkan rekan-rekan hotel ke depannya jika ada pembelanjaan. Mereka bisa membuka halaman website tersebut sehingga terjadi direct purchase atau pembelian langsung ke petani lokal," jelas Andu.

Menurutnya sistem ini memungkinkan manajemen hotel di berbagai sudut Sleman seperti kawasan wisata Kaliurang dan sekitarnya untuk melacak serta memesan pasokan pangan segar dari produsen terdekat.

"Begitu nanti pihak hotel masuk ke aplikasi itu, terbaca di dekat situ mana yang ada peternak telur, ayam, sampai produk gabah penggilingan beras. Jadi, mereka bisa kontak langsung," imbuhnya.

Sebelumnya pada Ketik.com, Kepala DP3 Kabupaten Sleman, Liem Astuti, menilai integrasi data ini sangat penting demi menjaga kepastian harga sekaligus ketersediaan bahan pangan di daerah.

"Kami ingin memastikan rantai distribusi dari sawah sampai ke meja makan berjalan lebih pendek dan efisien.

Aplikasi kolaborasi dengan PHRI ini memberi ruang bagi produk petani lokal untuk langsung masuk ke pasar industri kuliner dan perhotelan," kata Liem.

Teknologi dan Peta FSVA

Foto Kepala DP3 Kabupaten Sleman Liem Astuti menekankan pentingnya efisiensi rantai distribusi pangan dari petani ke industri perhotelan. (Foto: Fajar R/Ketik.com)Kepala DP3 Kabupaten Sleman Liem Astuti menekankan pentingnya efisiensi rantai distribusi pangan dari petani ke industri perhotelan. (Foto: Fajar R/Ketik.com)

Sementara di tingkat lahan, Pemkab Sleman mulai menerapkan Advanced Agriculture System (PM-AAS) di Kapanewon Seyegan sebagai proyek percontohan.

Metode ini menggabungkan penggunaan mesin pertanian modern dengan pengaturan jarak tanam presisi.

Hasilnya, produktivitas lahan berhasil digenjot hingga menembus angka lebih dari 9 ton gabah kering panen per hektare.

Pengawasan wilayah rawan pangan turut diperkuat lewat Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan (Food Security and Vulnerability Atlas / FSVA).

Peta ini memantau kondisi ketersediaan, pasokan, hingga pergerakan harga pangan di tingkat kapanewon secara berkala. Jika ada indikasi kerawanan di suatu wilayah, pemkab Sleman bisa langsung menerjunkan intervensi secara presisi.

Perda Perlindungan, Asuransi Gagal Panen

Selain itu, perlindungan petani diperkuat lewat Perda Nomor 6 Tahun 2025. Pemkab Sleman mengalokasikan anggaran asuransi pertanian pada APBD 2026 senilai Rp1,8 juta per hektare untuk menekan risiko kerugian akibat cuaca ekstrem maupun serangan hama.

Rangkaian kebijakan terpadu ini berhasil mendongkrak produksi beras Sleman dari 60.200 ton pada 2024 menjadi 63.786 ton pada 2025.

Capaian Indeks Ketahanan Pangan (IKP) Sleman pun melesat ke angka 85,50. Angka ini merupakan yang tertinggi di Pulau Jawa dan menduduki peringkat ke-7 secara nasional.

Seluruh capaian dan inovasi tersebut bakal dipamerkan dalam puncak perayaan Hari Pangan Sedunia Kabupaten Sleman yang digelar di halaman Kantor DP3 Sleman pada Rabu, 21 Oktober 2026. (*)

Tombol Google News

Tags:

ketahanan pangan aplikasi digital Pertanian Sleman pertanian modern Phri Sleman DP3 Sleman Petani Lokal Supplier Lokal Hotel Restoran Pasar Pangan Perizinan UMKM Pasokan Beras Rantai pasok Pemkab Sleman Asuransi pertanian Hari Pangan Komoditas Unggulan produk lokal