KETIK, BATU – Gelaran Festival Bantengan Nuswantara 2026 berlangsung sangat meriah pada Minggu, 2 Agustus 2026. Lebih dari 150 kontingen tampil memukau dan berhasil menyedot perhatian ribuan penonton yang memadati sepanjang rute festival.
Rangkaian perhelatan budaya ini telah menghentak sejak pukul 09.00 WIB. Para peserta berparade melintasi Stadion Gelora Brantas di Jalan Agus Salim, kawasan Alun-Alun Kota Batu, hingga menyentuh garis finish di Balaikota Kota Batu.
Geliat festival budaya tahunan ini pun turut menggerakkan roda ekonomi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta pedagang kaki lima di sekitar lokasi acara. Meski daya beli masyarakat terasa dinamis, antusiasme pedagang untuk melayani para pengunjung tetap tinggi.
Salah seorang pedagang, Surahno, mengaku jumlah pembeli pada Festival Bantengan Nuswantara tahun ini tidak seramai penyelenggaraan sebelumnya. Padahal, ini merupakan kali ketiga dirinya berjualan di ajang budaya tersebut.
"Saya sudah tiga kali ikut jualan di acara Bantengan seperti ini. Kalau dulu lumayan ramai, tetapi sekarang pembelinya sudah menurun," ujar Surahno saat ditemui di lokasi.
Surahno menawarkan dagangannya kepada pengunjung Festival Bantengan Nuswantara di area finish Balai Kota Batu, Minggu, 02 Agustus 2026. (Foto: Faiz/Ketik.com)
Suharno menjual kacang, tahu, dan telur puyuh dengan harga terjangkau, mulai dari Rp5.000 per porsi. Selain berjualan di Festival Bantengan, ia juga rutin menawarkan dagangannya di berbagai kegiatan karnaval maupun acara keramaian lainnya di wilayah Malang Raya.
Menurut Surahno, hasil penjualan selama mengikuti festival tidak menentu. Dalam satu kali kegiatan, ia biasanya memperoleh omzet sekitar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu, bergantung pada banyaknya pembeli.
"Mudah-mudahan sampai malam nanti dagangan saya habis semua," katanya.
Tingginya potensi perputaran pengunjung hingga malam hari menjadi harapan besar bagi para pelaku usaha kecil. Meski jumlah pembeli menurun, Surahno memilih tetap bertahan hingga festival usai. Ia optimis arus pengunjung yang terus berdatangan pada malam hari dapat menghabiskan seluruh barang dagangannya, seiring puncak kemeriahan pesta budaya Nuswantara tersebut.(*)
