KETIK, MALANG – Tim peneliti Universitas Brawijaya (UB) berhasil menemukan empat spesies baru kumbang ambrosia dan kumbang kulit kayu di kawasan UB Forest, Jawa Timur dengan berkolaborasi bersama University of Florida, Michigan State University dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Temuan terbaru dalam bidang biodiversitas hutan tropis ini resmi dipublikasikan pada 21 Juni 2026 dalam Journal of the Celeopterists Bulletin melalui artikel berjudul "Checklist of the Bark and Ambrosia Beetle Spcies (Celeoptera: Curculionidea: Platypodinae and Scolytinae) Collected at the Universitas Brawijaya Forest Properties, East Java, Indonesia with Descriptions of New Species".
Sebagai bentuk penghormatan kepada Universitas Brawijaya yang telah menciptakan alam untuk para flora berkembang biak hingga menjadi tempat tinggal spesies baru, salah satu spesies tersebut diberi nama Amasa.
Penelitian ini dipimpin oleh Prof. Dr. Agr. Sc. Hagus Tarno, SP., MP., Guru Besar Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan UB bersama Yogi Setiawan, SP., MP., yang tengah menjalankan studi doktoral di Kagoshima University, Jepang.
Proses pengambilan data cukup panjang sejak Oktober 2024 di kawasan UB Forest. Penelitian ini berjalan dengan kegiatan Bark and Ambrosia Beetle Academy yang diselenggarakan oleh University of Florida, dengan Universitas Brawijaya sebagai tuan rumah.
Kegiatan tersebut mempertemukan peneliti, akademisi, dan pakar taksonomi dalam mempelajari lebih mendalam keragaman kumbang hutan tropis di Indonesia.
Dari kegiatan tersebut, tim peneliti berhasil mengidentifikasi empat spesies baru: Crossotarsus gunungapi Gulcr, Tarno, and Levia; Cosmoderes arjuno Johnson; Cosmoderes opacus Johnson; dan Amasa brawijaya Smith.
Salah satu spesies kumbang diberi nama khusus berdasarkan Universitas Brawijaya. Amasa brawijaya merujuk pada UB dan warisan sejarah Kerajaan Majapahit. Penamaan ini tentunya sebagai bentuk penghormatan bagi identitas lokal sekaligus menegaskan bahwa hutan Indonesia masih menyimpan kekayaan hayati seperti beragam spesies hewan yang bernilai tinggi bagi ilmu pengetahuan dunia.
Prof. Bagus menyampaikan bahwa nama brawijaya dipilih sebagai bentuk penghargaan karena telah menjadi kampus yang terus meningkatkan potensi untuk mengembangkan beragam penelitian biodiversitas. Dengan nama tersebut, diharapkan citra UB bisa meningkat dalam komunitas ilmiah internasional.
Dalam penelitiannya, proses pengambilan sampel dilakukan pada ranting dan kayu kering yang jatuh ke tanah. Pasalnya kumbang ambrosia ditemukan pada berbagai jenis kayu, seperti pinus, kopi, sonokembang, ficus, dan jenis kayu lainnya yang ditumbuhi jamur sebagai sumber makanan.
Jenis kumbang ambrosia memang terbilang unik karena hidup bersimbiosis dengan jamur. Mereka membuat terowongan di dalam kayu dan menumbuhkan jamur sebagai sumber makanannya. Sehingga, proses pengambilan sampel adalah dari berbagai jenis ranting dan kayu di UB Forest.
Proses identifikasi menggunakan dua pendekatan, yakni analisis morfologi dan analisis molekuler berbasis DNA. Dalam pendekatan morfologi, para peneliti membandingkan karakteristik fisik spesimen dengan koleksi yang tersimpan di berbagai museum serangga dunia.
Sementara analisis molekuler digunakan untuk membandingkan sekuens genetik spesimen dengan mengekstraksi DNA yang berbasis data Internasional. Dalam hal ini, Prof. Hagus menyampaikan hasil dari analisis ini, jika menunjukkan adanya perbedaan signifikan dengan spesies yang telah diketahui sebelumnya, maka bisa ditetapkan sebagai spesies baru.
Spesimen Amasa brawijaya saat ini tersimpan di Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) yang dikelola oleh BRIN sebagai koleksi ilmiah yang dapat menjadi referensi penelitian biodiversitas Indonesia.
Dengan adanya temuan spesies baru ini membuktikan bahwa hutan tropis Indonesia, salah satunya kawasan UB Forest, Jawa Timur, memiliki potensi besar untuk menjadi laboratorium alam untuk penelitian biodiversitas.
Di tengah meningkatkannya perhatian global terhadap konservasi keanekaragaman hayati, riset semacam ini menjadi penting untuk memperkuat data ilmiah tentang spesies serangga, terutama kelompok yang belum banyak dikenal masyarakat luas.
Penelitian ini bukan hanya sekadar menghasilkan publikasi ilmiah internasional, tetapi juga memperkuat posisi Universitas Brawijaya sebagai pusat penelitian kumbang ambrosia di Indonesia.
Prof. Hagus menilai kajian mengenai kumbang ambrosia yang masih terbatas sehingga membuka peluang besar bagi UB untuk menjadi pionir dalam bidang tersebut.(*)
.png)