Direktur WCC Dian Mutiara Malang: Kartini Sosok Penembus Batas Zaman

21 April 2026 13:54 21 Apr 2026 13:54

Thumbnail Direktur WCC Dian Mutiara Malang: Kartini Sosok Penembus Batas Zaman

Direktur WCC Dian Mutiara, Sri Wahyuningsih, menilai Kartini merupakan sosok penembus batas. (Foto: Dendy/Ketik.com)

KETIK, MALANG – Bagi Sri Wahyuningsih, Direktur Women Crisis Center Dian Mutiara, sosok Raden Ajeng Kartini bukan sekadar tokoh sejarah yang dikenang setiap tanggal 21 April. Kartini, menurutnya, adalah simbol keberanian seorang perempuan yang mampu menembus batas-batas zamannya.

“Saya sampai pada kesimpulan bahwa Kartini sebetulnya tokoh yang luar biasa,” ujarnya. “Karena di zamannya, dia berani menembus batas-batas yang tidak mudah dilalui oleh perempuan.”

Sri menilai, latar belakang keluarga Kartini turut membentuk kesadaran kritisnya sejak dini. Sebagai putri dari ibu yang bukan permaisuri, Kartini tumbuh dalam situasi sosial yang tidak sepenuhnya setara. Ibunya tinggal di kamar-kamar yang diperuntukkan bagi para selir, sebuah kondisi yang menurut Sri menunjukkan adanya hierarki yang kuat dalam lingkungan keluarga bangsawan pada masa itu.

Namun justru dari kondisi itulah, Sri melihat kebijaksanaan Kartini mulai terbentuk.

Kartini, menurutnya, memiliki keberanian untuk belajar dan membaca, bahkan menguasai bahasa Belanda di lingkungan yang terbatas bagi perempuan. Kemampuan tersebut tidak datang begitu saja, melainkan melalui kebiasaan belajar dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.

“Dia menggunakan kesempatan belajar itu untuk mencerdaskan dirinya sendiri, lalu membagikannya kepada kaumnya,” kata Sri.

Bagi Sri Wahyuningsih, perlawanan Kartini terhadap diskriminasi tidak dilakukan dengan cara konfrontatif, melainkan melalui kebijaksanaan dan pemikiran. Kartini menolak ketidakadilan terhadap perempuan, bukan hanya melalui gagasan, tetapi juga melalui pengalaman hidup yang ia tuliskan secara jujur.

Surat-menyurat Kartini dengan sahabat-sahabatnya di Belanda, menurut Sri, menjadi sarana penting untuk menyuarakan keresahan sekaligus harapannya terhadap masa depan perempuan.

“Dia tidak belajar dari teori saja, tetapi dari pengalaman hidupnya sendiri. Dari situ muncul keberanian untuk mengungkapkan apa yang dialaminya,” ungkapnya.

Sri juga menekankan bahwa gagasan Kartini tentang kesetaraan tidak hanya menyangkut pendidikan, tetapi juga pengakuan terhadap kemampuan perempuan sebagai individu yang setara dengan laki-laki.

Pada masa itu, perempuan umumnya tidak mendapatkan kesempatan pendidikan tinggi. Namun Kartini memiliki keinginan kuat untuk belajar lebih jauh dan menunjukkan bahwa perempuan memiliki kapasitas intelektual yang layak dihargai.

“Dia ingin sekolah tinggi, ingin bahasanya dihormati dan diakui, bahkan oleh orang-orang Belanda pada masa itu,” tutur Sri.

Sebagai akademisi yang kerap mengajar mata kuliah gender, Sri mengaku selalu menjadikan Kartini sebagai contoh utama dalam setiap diskusi tentang kesetaraan.

Menurutnya, Kartini tidak hanya memperjuangkan dirinya sendiri atau keluarganya, tetapi juga membuka jalan bagi perempuan lain agar mendapatkan hak yang sama, terutama dalam pendidikan.

“Setiap kali saya memberi kuliah tentang gender, contoh pertama saya adalah Kartini,” ujarnya.

Sri juga melihat bahwa kekuatan terbesar Kartini terletak pada kemampuannya menulis. Tulisan-tulisan Kartini, yang kemudian dibukukan dan diwariskan lintas generasi, menjadi jejak pemikiran yang terus hidup hingga saat ini.

“Keunggulan Kartini adalah dia menulis. Tulisan itu menjadi warisan yang tidak pernah mati,” kata Sri.

Melalui tulisan-tulisan itulah, generasi setelahnya dapat memahami pemikiran Kartini secara langsung. Bagi Sri, siapa pun yang membaca surat-surat Kartini dengan kesadaran kritis akan mampu menangkap siapa sosok Kartini yang sesungguhnya.

Di mata Sri Wahyuningsih, Kartini bukan hanya pahlawan nasional, tetapi juga simbol keberanian perempuan untuk melawan diskriminasi dengan kecerdasan dan keteguhan.

“Menurut saya, Kartini adalah tokoh yang sangat luar biasa. Saya bangga sekali beliau menjadi pahlawan nasional,” ujarnya.

Lebih dari satu abad setelah masa hidupnya, semangat Kartini masih terasa relevan hingga hari ini. Dalam pandangan Sri Wahyuningsih, perjuangan Kartini bukan sekadar sejarah masa lalu, tetapi warisan pemikiran yang terus menginspirasi perempuan Indonesia untuk berani belajar, bersuara, dan memperjuangkan kesetaraan di tengah masyarakat.

Tombol Google News

Tags:

#WCC Dian Mutiara #Sri Wahyuningsih Women Crisis Center #Raden Ajeng Kartini RA Kartini Hari Kartini #Info Malang #Berita Malang