KETIK, MALANG – Pemerintah Kota (Pemkot Malang) sedang menyiapkan antisipasi kenaikan harga cabai. Lahan seluas 2 hektare di Baran, Kelurahan Buring, Kecamatan Kedungkandang pun telah disiapkan untuk penanaman.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang, Slamet Husnan menjelaskan tanah di lahan tersebut telah diolah dan diberi pupuk.
"Salah satu contoh di Kota Malang ini ada lahan seluas 2 hektare yang sudah disiapkan berupa guludan-guludan, artinya tanah sudah diolah, diberi pupuk juga," ujarnya, Jumat 2 Oktober 2026.
Menurut Slamet, kenaikan harga cabai salah satunya disebabkan oleh faktor musim kemarau. Petani masih menunggu musim hujan untuk mulai melakukan penanaman
"Tinggal menunggu awal musim hujan maka akan langsung dilakukan penanaman. Bahkan bibitnya pun juga sudah siap," lanjutnya.
Selain menunggu persiapan lahan, Kota Malang juga menunggu panen cabai di lahan bukan persawahan yang sudah mulai ditanam. Diperkirakan dalam jangka waktu 3-3,5 bulan ke depan tanaman cabai telah dapat dipanen.
"Tanaman cabai yang ada di lahan bukan persawahan itu sudah mulai tanam. Kemungkinan 3-3,5 bulan lagi mulai bisa panen. Tetapi panen pertama pun nanti tidak banyak. Mungkin panen ke 8-10 baru meningkat hasil produksinya," sebutnya.
Berdasarkan data di Siskaperbapo harga cabai rawit besar di Kota Malang saat ini Rp66.000 per kilogram. Nantinya apabila harga cabai terus merangkak naik hingga menyentuh Rp100.000 maka akan dilakukan intervensi melalui Warung Tekan Inflasi (WTI).
"Biasanya nanti dari TPID, kalau memang kenaikan harganya sampai Rp100.000 akan ada intervensi melalui Warung Tekan Inflasi yang akan dijalankan oleh Diskopindag. Selain cabai besar dan cabai kecil, biasanya ada bawang merah dan bawang putih butuh intervensi," pungkasnya. (*)
