KETIK, MALANG – Tren coffee shop berkonsep alam terus berkembang di Kota Malang. Salah satunya hadir melalui Paddyy Coffee yang menawarkan pengalaman menikmati kopi dengan panorama hamparan sawah hijau di kawasan Lowokwaru.
Kafe yang mulai beroperasi sejak Maret 2026 itu memanfaatkan lahan yang sebelumnya merupakan area persawahan. Alih-alih menghilangkan nuansa alam, pengelola justru mempertahankan bentang sawah sebagai daya tarik utama bagi pengunjung.
Di tengah padatnya aktivitas masyarakat perkotaan, konsep tersebut menjadi alternatif bagi warga yang ingin bersantai maupun mencari suasana tenang tanpa harus keluar dari Kota Malang.
Vlenda, tim operasional Paddyy Coffee, mengatakan ide mendirikan kafe berawal dari keinginan membuka usaha di bidang kuliner. Kesempatan itu muncul ketika tersedia sebidang lahan yang dinilai memiliki potensi karena berada di tengah lingkungan persawahan.
"Nama Paddyy sendiri diambil dari kata paddy yang berarti padi. Kami ingin mempertahankan identitas kawasan ini sekaligus menghadirkan pengalaman menikmati kopi yang dekat dengan alam," ujarnya.
Konsep yang diusung memadukan area outdoor dan indoor. Area luar menyuguhkan pemandangan langsung ke hamparan sawah sehingga pengunjung dapat menikmati udara yang lebih sejuk dan suasana yang menenangkan. Sementara itu, area indoor mengusung nuansa klasik yang dinilai cocok bagi pengunjung yang ingin bekerja maupun mengerjakan tugas.
Suasana tersebut menjadi alasan banyak pengunjung memilih datang ke Paddyy Coffee. Mereka menilai pengalaman menikmati kopi di tengah persawahan memberikan kenyamanan yang berbeda dibandingkan coffee shop yang berada di pusat kota.
"Saya sudah beberapa kali ke sini. Selain tempatnya nyaman, tenang, udaranya juga sejuk, harganya juga cukup terjangkau. Tempat ini juga nyaman untuk mengerjakan tugas," kata salah satu pengunjung, Ibnu Amirudin.
Meningkatnya minat masyarakat terhadap ruang terbuka hijau diperkirakan akan membuat coffee shop berkonsep alam tetap diminati di Kota Malang. Namun, di balik peluang tersebut, pelaku usaha juga dihadapkan pada tantangan menjaga keseimbangan antara pengembangan bisnis, kenyamanan pengunjung, dan kelestarian lingkungan.
Dengan demikian, konsep wisata kuliner berbasis alam diharapkan tidak sekadar menjadi tren sesaat, tetapi juga mampu memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan kawasan di sekitarnya.
