KETIK, MALANG – Universitas Negeri Malang (UM) menyelenggarakan peringatan Dies Natalis ke-72 bertajuk Sehat, Bergerak, Berdampak, dan Berkelanjutan pada Minggu, 18 Oktober 2026 di Graha Cakrawala UM. Kegiatan ini digelar sebagai wujud penguatan komitmen UM untuk menjadi perguruan tinggi yang mandiri, unggul, dan berdampak.
Momentum HUT ke-72 ini juga dimanfaatkan untuk memperkuat tata kelola, meningkatkan mutu akademik, serta menegaskan kontribusi nyata UM bagi masyarakat.
Secara khusus, acara ini menghadirkan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. Mantan Rektor UMM ini menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) unggul sebagai pusat inovasi dan teknologi yang bermanfaat bagi seluruh lapisan masyarakat.
"Perguruan tinggi yang bertugas mencetak SDM unggul sebagai pusat inovasi, pusat teknologi, semuanya itu harus memiliki kebermanfaatan," ujarnya.
Prof. Fauzan juga menekankan agar UM berupaya memberikan pembelajaran yang lebih adaptif. Dosen diharapkan tidak hanya sekadar menyampaikan materi, tetapi juga membimbing praktik secara langsung.
"Perlu adanya rekayasa sistem pembelajaran yang lebih adaptif. Jangan sampai kita ini hanya sekedar mengajari tentang, tetapi harus mengajar," jelasnya.
Selain itu, ia turut mengapresiasi perkembangan UM yang hingga kini mampu menghasilkan berbagai karya ilmiah serta mengembangkan beragam cabang ilmu pengetahuan.
Pemberian penghargaan kepada Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., dalam acara Dies Natalis ke-72 UM pada Minggu, 18 Oktober 2026. (Foto: Aliyah/Ketik.com)
Sementara itu, Rektor UM, Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., menyampaikan UM berkomitmen menjadi perguruan tinggi yang menjunjung tinggi integritas dan moralitas, serta terus menjaga jiwa dan pikiran agar tetap menjadi manusia yang bermartabat.
Pada peringatan usia ke-72 ini, Prof. Hariyono menekankan pentingnya kesiapan lulusan yang siap kerja melalui dorongan pendidikan emansipatoris. Mahasiswa diharapkan tidak hanya menguasai bidang studi tertentu, tetapi juga memiliki keterampilan sosial.
"Makanya kita di dalam pendidikan yang emansipatoris ini, bagaimana yang kita ubah bukan sekedar pengetahuannya itu sendiri, tapi bagaimana kami para dosen, tendik, dan mahasiswa berani juga mengubah mindset kita, cara pandang kita," ungkap Prof. Hariyono.
Menurutnya, perubahan pola pikir merupakan sesuatu yang inheren (melekat) dalam kehidupan. Ia mencontohkan papan karangan bunga yang pada akhirnya hanya menjadi sampah, yang menurutnya dapat menjadi bahan refleksi untuk lebih mencintai kehidupan dan lingkungan.
"Makanya kami pun juga berharap kolega kami di UM, setiap acara seremonial tidak memotong bunga hanya untuk acara seremonial," ucapnya.
Prof. Hariyono mengimbau seluruh civitas akademika untuk terus mewujudkan lingkungan UM yang sehat, bergerak, berdampak, dan berkelanjutan. Fokus saat ini bukan hanya membangun UM untuk masa kini, melainkan mengusahakan agar UM tetap unggul dari generasi ke generasi.
"UM yang sehat harus kita jaga. UM yang bergerak harus kita percepat, UM yang berdampak harus kita perluas, dan UM yang berkelanjutan harus kita wariskan," jelas Prof. Hariyono.
"Kita tidak sedang membangun UM hanya untuk hari ini. Kita sedang membangun UM yang akan tetap unggul ketika generasi kita telah berganti," pungkasnya.(*)
