KETIK, MALANG – Akademisi Gizi Universitas Negeri Malang (UM), Aprinian Dian Nurhayati, S.Gz., M.Si., menyoroti persoalan gizi yang masih menjadi perdebatan di Indonesia. Sejak program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicetuskan Presiden Prabowo berjalan, sejumlah tokoh publik hingga akademisi turut menyampaikan pandangan terkait persoalan gizi anak di Indonesia.
Dalam menjalankan program kerjanya sebagai Presiden Indonesia, Prabowo telah menerapkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di hampir seluruh wilayah Indonesia. Sejumlah masyarakat mulai merasakan manfaat program tersebut, meski sebagian lainnya turut merasakan dampak negatifnya.
Dosen Program Studi S1 Gizi Universitas Negeri Malang (UM) Aprinian Dian Nurhayati, S.Gz., M.Si., berpendapat bahwa persoalan gizi masih menjadi isu strategis yang memengaruhi kesehatan, produktivitas, dan pertumbuhan ekonomi.
Pandangan tersebut disampaikan untuk mendorong masyarakat memahami pentingnya penerapan pola makan bergizi seimbang, mulai dari pemilihan bahan pangan, cara pengolahan, hingga dukungan kebijakan publik.
Edukasi gizi menjadi langkah penting agar masyarakat tidak lagi memaknai makan sekadar untuk kenyang, tetapi sebagai investasi kualitas hidup.
“Makanan bergizi mendukung pertumbuhan masyarakat, mencegah kesakitan, dan meningkatkan produktivitas,” ujar Aprinian.
Kebutuhan Gizi Berbeda pada Setiap Tahap Kehidupan
Aprinian Dian Nurhayati menjelaskan bahwa kebutuhan gizi setiap orang tidak sama. Hal ini dilihat dari perbedaan usia, aktivitas, dan kondisi fisiologis menentukan jenis serta jumlah zat gizi yang dibutuhkan. Sehingga, makanan bergizi harus memenuhi tiga syarat utama, yakni beragam, berimbang, dan aman dikonsumsi.
Ia menuturkan pada bayi usia 0–6 bulan, ASI merupakan makanan terbaik. Setelah berusia lebih dari enam bulan, kebutuhan gizi mulai berubah melalui MPASI berbahan pangan lokal, seperti jagung dan singkong.
Memasuki usia dewasa, kebutuhan gizi dipengaruhi tingkat aktivitas, sedangkan lansia dianjurkan mengonsumsi makanan yang lebih lunak karena kemampuan mengunyah umumnya menurun.
“Ketika sudah dewasa, kebutuhan gizinya tergantung aktivitasnya. Sementara pada lansia, makanan yang lebih lunak lebih direkomendasikan,” ungkap Aprilian.
Saat ini, Indonesia tengah menghadapi tiga tantangan utama pada gizi, yakni stunting, kelebihan gizi, dan kekurangan zat gizi mikro. Persoalan tersebut berakar pada pola konsumsi yang belum memenuhi prinsip gizi seimbang.
Penyelesaiannya tidak cukup dilakukan melalui intervensi individu, melainkan memerlukan kolaborasi seluruh pihak, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, dunia pendidikan, hingga masyarakat agar edukasi serta akses terhadap pangan bergizi dapat berjalan beriringan.
Makanan Bergizi Tidak Selalu Mahal
Aprinian Dian Nurhayati menekankan bahwa salah satu hambatan terbesar dalam pemenuhan gizi ialah faktor ekonomi.
Masih banyak masyarakat Indonesia yang beranggapan bahwa makanan sehat identik dengan harga mahal sehingga memilih makanan yang mengenyangkan dibandingkan makanan yang bernutrisi.
Menurut Aprinian, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Banyak bahan pangan lokal yang terjangkau, tetapi tetap memenuhi prinsip gizi seimbang.
“Jika sudah masuk ranah ekonomi, kita tidak bisa memaksa. Solusinya adalah mencari bahan makanan yang murah, tetapi tetap memenuhi syarat makanan bergizi, seperti tempe dan tahu,” tuturnya.
Ia menegaskan, selain tempe dan tahu, ikan air tawar seperti lele, sayuran, serta bahan pangan segar di pasar tradisional menjadi pilihan yang bernilai gizi tinggi dengan harga relatif terjangkau.
Dapur Menjadi Kunci Menjaga Nutrisi
Para orang tua juga harus mengerti cara mengelola bahan pangan bergizi agar sebagian kandungan nutrisi tidak hilang disebabkan proses pengolahan yang tidak tepat. Cara memasak menjadi faktor penting dalam mempertahankan kualitas gizi makanan.
Aprinian mencontohkan bahwa tempe yang diolah dengan cara dibacem lebih baik daripada digoreng menggunakan minyak berlebihan.
Beragam teknik memasak tradisional Indonesia, seperti mengukus menjadi pepes atau botok serta merebus singkat untuk urap, dapat menjadi alternatif yang lebih sehat tanpa mengurangi cita rasa.
Menurutnya, kebiasaan mengonsumsi makanan yang digoreng memang telah mengakar dalam budaya kuliner Indonesia.
Namun, pemanfaatan teknik memasak yang lebih sehat dapat menjadi langkah sederhana untuk mengurangi konsumsi minyak berlebih sekaligus mendukung pola makan yang lebih baik.
Kebijakan Publik Perlu Berjalan Bersama Edukasi
Perubahan perilaku masyarakat juga membutuhkan dukungan kebijakan publik. Salah satunya ialah penerapan label Nutri-Level pada minuman kemasan yang bertujuan membantu masyarakat mengenali kadar gula dalam produk serta menekan risiko penyakit tidak menular, termasuk diabetes.
Meski demikian, Aprinian menilai kebijakan tersebut perlu diiringi edukasi bagi pelaku UMKM dan industri pangan agar penyesuaian kandungan gula dapat dilakukan tanpa menghilangkan karakter produk.
“Pemerintah, industri, dan UMKM harus berjalan beriringan sehingga tidak terjadi benturan,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas disiplin, seperti gizi, teknologi pangan, dan ekonomi, agar inovasi pangan sehat tetap mampu mendukung keberlanjutan usaha masyarakat.
UM Turut Berperan dalam Mencetak Agen Perubahan Gizi
Komitmen UM tidak berhenti pada ruang kelas. Program Studi S1 Gizi mengintegrasikan pembelajaran dengan kegiatan penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pengembangan produk pangan, serta media edukasi yang memberi pengalaman langsung kepada mahasiswa.
Kerja sama dengan rumah sakit, puskesmas, hingga industri menjadi upaya dalam memperluas ruang belajar mahasiswa. Bahkan, dalam dua tahun terakhir, lima mahasiswa mengikuti program pertukaran pelajar ke Malaysia untuk memperkaya pengalaman akademik dan praktik profesional.
“Mahasiswa memperoleh pengalaman di lingkungan nyata sekaligus penguatan teori sehingga siap berkontribusi di masyarakat,” jelas Aprinian.
Gizi sebagai Investasi Masa Depan Bangsa
Pada akhirnya, persoalan gizi tidak dapat diselesaikan hanya melalui perubahan menu di meja makan. Namun, dibutuhkan perubahan pola pikir, penguatan edukasi, akses terhadap pangan bergizi, serta kebijakan yang berpihak pada kesehatan masyarakat.
Aprinian Dian Nurhayati berharap agar lulusan gizi mampu menjadi agen perubahan yang menerapkan ilmunya secara nyata di tengah masyarakat.
Ketika gizi dipahami sebagai investasi jangka panjang, manfaatnya tidak hanya dirasakan individu, tetapi juga meningkatkan produktivitas, kualitas sumber daya manusia, dan ketahanan ekonomi bangsa.
Perbaikan gizi berarti memperkuat fondasi Indonesia yang lebih sehat, produktif, dan berkelanjutan, sebuah langkah nyata menuju terwujudnya SDGs 2, SDGs 3, dan SDGs 12.(*)
