KETIK, MALANG – Penggiat sekaligus pelestari budaya Malang, Syamsul Subakri, menyampaikan pandangan kritisnya terkait pemahaman masyarakat terhadap konsep "kampung budaya" dan pelestarian tradisi.
Hal tersebut ia sampaikan setelah acara Atur Tirto Wening Kali Brantas yang berlangsung di Kampung Warna-Warni Jodipan pada Minggu, 26 Juli 2026.
Menurut Ki Tardjo, sapaannya, selama ini masih banyak pihak yang keliru dalam memaknai kampung budaya. Predikat tersebut sering kali hanya dinilai dari aktivitas berkumpul di lapangan, mengenakan pakaian etnik, atau sekadar menghias kawasan dengan ornamen bergaya retro.
"Budaya itu tidak semudah itu. Kalau mengacu pada 10 Aspek Pemajuan Kebudayaan, mulai dari adat istiadat, bahasa, pengetahuan tradisional, hingga seni, semuanya harus diajarkan.
Kebanyakan tempat lain hanya berfokus pada seninya saja," tegas Ki Tardjo.
Dalam kesempatannya, Ki Tardjo meluruskan pandangan bahwa hal-hal tradisional identik dengan kata "kuno".
Menurutnya, kata tradisional merujuk pada metode atau cara penyampaian secara langsung (tradisi), setara dengan istilah teknis seperti mekanikal atau elektrikal.
Ia menekankan bahwa cara atau tradisi tersebut boleh terus berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan hakikat utamanya. Ia mencontohkan proses pembuatan batik yang kini telah banyak mengalami modifikasi.
"Dulu batik menggunakan lilin malam dan pewarna alami dari kulit kayu. Sekarang ada pewarna reaktif, bahkan ada canting elektrik. Bahannya berkembang, tapi caranya tetap dipertahankan," jelasnya.
Lebih lanjut, Ki Tardjo mengajak para pelaku budaya dan masyarakat luas untuk tidak ragu memanfaatkan teknologi digital dalam mendokumentasikan kekayaan warisan budaya takbenda (intangible cultural heritage).
Jika pada masa lalu ada anggapan bahwa ilmu atau tradisi tidak boleh dicatat agar tidak "hilang kesaktiannya", maka di era modern ini teknologi justru menjadi sarana penting untuk merekam gambar dan suara agar ilmu tersebut tidak punah.
"Harapannya, ketika wawasan masyarakat sudah terbuka, kita tidak lagi menganggap budaya itu kuno. Justru dari sana budaya bisa terus dikembangkan, bahkan dibuatkan semacam hiburan atau konten agar pesan dan nilainya bisa ditangkap dengan tepat oleh audiens," pungkasnya. (*)
