KETIK, MALANG – Di tengah semakin dominannya wisata modern sebagai pilihan destinasi di Kota Malang, Kampung Budaya Polowijen tetap bertahan sebagai ruang pelestarian sejarah dan budaya, khususnya sebagai penjaga eksistensi seni topeng Malangan.
Kampung yang berada di Kelurahan Polowijen, Kecamatan Blimbing ini dikenal sebagai salah satu wilayah dengan napas budaya yang masih kuat di Kota Malang. Berbagai kesenian tradisional hingga kini masih dilestarikan oleh warga setempat, mulai dari seni pertunjukan, kerajinan topeng, aneka gerabah, hingga seni pahat.
Selain aktivitas kesenian, Kampung Budaya Polowijen turut memberi perhatian pada dunia literasi warganya. Untuk meningkatkan minat baca masyarakat setempat, kampung ini mendirikan sebuah perpustakaan yang terealisasi berkat bantuan civitas akademika Universitas Widyagama Malang, yang menyumbangkan lebih dari 1.000 buku bagi warga Polowijen.
Perpustakaan tersebut diresmikan oleh Wakil Wali Kota Malang, Sutiaji, pada 10 Juni 2017, didampingi Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang serta jajaran Universitas Widyagama Malang. Kehadiran perpustakaan ini diharapkan dapat mendorong tumbuhnya budaya literasi sekaligus memperkaya wawasan warga tentang sejarah dan budaya lokal.
Selain menikmati suasana kampung, pengunjung yang datang ke Kampung Budaya Polowijen juga dapat menyaksikan langsung keragaman budaya khas yang menjadi identitas wilayah ini.
Seni topeng Malangan dan berbagai pertunjukan budaya lainnya kerap ditampilkan sebagai bagian dari upaya pelestarian sekaligus daya tarik wisata.
Tak hanya menjadi ruang wisata, kampung ini juga difungsikan sebagai wadah pertunjukan bagi warga sekitar. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat dapat sekaligus belajar dan menyelami sejarah budaya yang diwariskan turun-temurun, khususnya terkait asal-usul seni topeng Malangan.
Kampung Budaya Polowijen sendiri dikenal sebagai daerah asal Ken Dedes, dengan sejumlah situs bersejarah seperti Sumur Windu dan Situs Makam Mbah Reni, tokoh yang diyakini sebagai pembuat topeng Malangan pertama. Keberadaan situs-situs ini turut memperkuat posisi Polowijen sebagai kawasan cagar budaya di Kota Malang.
Di tengah gempuran wisata modern yang terus bermunculan, keberadaan Kampung Budaya Polowijen membuktikan bahwa pelestarian budaya dan sejarah lokal tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat maupun wisatawan.
Konsistensi warga dalam menjaga tradisi menjadikan kampung ini sebagai salah satu ikon budaya yang terus bertahan di tengah modernisasi Kota Malang. (*)
.png)