Situbondo Gagas Anyer–Panarukan 3R, Sejarah Jalan Raya Pos Dibuka Jadi Peluang Ekonomi Baru

12 Oktober 2026 06:08 12 Okt 2026 06:08

Adinda Octaviani, Rahmat Rifadin

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Situbondo Gagas Anyer–Panarukan 3R, Sejarah Jalan Raya Pos Dibuka Jadi Peluang Ekonomi Baru

Bupati Situbondo didampingi Bupati Serang ketika menyerahkan cindramata kepada Menteri PDT, Minggu 11 Oktober 2026 (Foto: Tim Pemkab Situbondo For ketik.com)

KETIK, JAKARTA – Pemerintah Daerah Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, bersama Pemerintah Daerah Kabupaten Serang, Provinsi Banten, membedah sekaligus menginisiasi program Anyer–Panarukan 3R (Road, Route, Roots) untuk menghidupkan kembali nilai sejarah Jalan Raya Pos.

Program tersebut resmi diluncurkan dalam Kick Off Anyer–Panarukan 3R yang berlangsung di Auditorium Bank BJB, Jakarta Selatan, pada hari Minggu tanggal 11 Oktober 2026.

Peluncuran program ini dihadiri Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto, Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo, Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah, serta jajaran pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait.

Mendes PDT Yandri Susanto menyambut baik inisiatif tersebut. Menurutnya, jalur Anyer–Panarukan melintasi ribuan desa dengan karakteristik dan keunggulan yang beragam. Potensi itu dapat menjadi modal untuk mengembangkan ekonomi desa apabila dikelola melalui kolaborasi lintas daerah dan lintas sektor.

“Kemendes akan menjadikan momentum Program Anyer–Panarukan 3R ini untuk menaikkan kelas desa-desa yang ada di jalur Pantura Anyer–Panarukan dengan tetap mengedepankan potensi desa masing-masing,” kata Yandri.

Yandri meyakini program ini dapat berkembang menjadi gerakan yang menghubungkan pembangunan ekonomi, kebudayaan, dan infrastruktur. Pemerintah daerah didorong untuk menggali keunggulan masing-masing desa, mulai dari pertanian, kawasan pesisir, desa wisata, hingga produk budaya dan ekonomi kreatif.

“Saya haqqul yaqin program Anyer–Panarukan 3R akan menjadi gerakan ekonomi, gerakan budaya dan infrastruktur serta lainnya,” tutur Yandri.

Yandri juga menyampaikan bahwa program tersebut direncanakan menjadi kalender tahunan. “Saya berharap jangkauan kegiatan tidak berhenti pada Situbondo dan Serang, tetapi berkembang dengan melibatkan kabupaten/kota serta desa-desa lain di sepanjang jalur bersejarah tersebut. Saya, siap mendukung pengembangan jejaring kerja sama dengan berbagai mitra,” tuturnya.

Sementara itu, Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo mengatakan, inisiatif Anyer–Panarukan 3R berangkat dari pentingnya menghubungkan warisan sejarah dengan kebutuhan masyarakat masa kini. Jalan Raya Pos bukan hanya bagian dari perjalanan sejarah Indonesia, tetapi juga jalur aktivitas ekonomi yang menjadi tumpuan kehidupan banyak warga.

“Tidak hanya sebagai Anyer–Panarukan sebagai eksistensi sejarah, tapi bagaimana masa depan itu juga dijaga. Jalan Anyer–Panarukan itu tumbuh dengan UMKM. Banyak pedagang, kehidupan ekonomi bisnis tumbuh di sana,” kata Mas Rio, panggilan akrabnya.

Menurutnya, pengembangan koridor Anyer–Panarukan perlu memperhatikan perubahan pola perjalanan dan persaingan dengan keberadaan Tol Trans Jawa. Jalur lama tetap memiliki peran penting bagi masyarakat, perdagangan, distribusi produk, dan aktivitas ekonomi lokal.

Oleh karena itu, Mas Rio menekankan perlunya upaya bersama untuk menyiapkan daya tarik dan peluang usaha di sepanjang jalur tersebut. Pengembangan destinasi wisata, pusat kuliner, produk UMKM, serta potensi sejarah dan budaya diharapkan dapat memperkuat manfaat ekonomi bagi masyarakat.

“Meskipun sudah ada tol sekarang, tapi saya yakin masih banyak pengguna jalan Pantura Anyer-Panarukan. Jadi, kita siapkan, tumbuh kembangnya ekonomi bisnis di sepanjang jalan itu,” jelasnya.

Bagi Situbondo, kata Mas Rio, Panarukan menjadi salah satu simpul penting dalam narasi Jalan Raya Pos. Melalui program ini, Situbondo ingin memperkenalkan kekayaan sejarah dan potensi daerahnya sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih luas, agar wilayah yang selama ini dikenal sebagai jalur lintasan juga berkembang menjadi tujuan wisata, budaya, dan ekonomi.

Ekspedisi menjadi langkah lanjutan

Sebagai tindak lanjut, kata Mas Rio, program Anyer–Panarukan 3R diarahkan untuk membangun basis data dan dokumentasi potensi di sepanjang jalur Jalan Raya Pos. Salah satu agenda yang disiapkan adalah ekspedisi penelusuran Anyer–Panarukan untuk memetakan kondisi jalur, situs bersejarah, cerita masyarakat, potensi wisata, produk UMKM, serta peluang kerja sama antardaerah.

“Hasil pemetaan diharapkan menjadi dasar untuk menyusun program yang lebih terarah, mulai dari pengembangan destinasi dan paket wisata, promosi budaya, penguatan jejaring pelaku UMKM, hingga kolaborasi antardesa dalam pemasaran produk unggulan,” jelas Mas Rio.

Program ini, kata Bupati Situbondo, juga membuka ruang keterlibatan generasi muda melalui dokumentasi digital, produksi konten sejarah, kompetisi video, festival budaya, serta berbagai bentuk penceritaan kreatif yang relevan dengan perkembangan media saat ini.

Anyer–Panarukan 3R mengusung tiga gagasan utama: Road, yaitu Jalan Raya Pos sebagai warisan sejarah sekaligus penghubung antardaerah; Route, yakni pengembangan koridor perjalanan, perdagangan, dan destinasi wisata; serta Roots, yaitu penggalian dan penguatan akar sejarah, budaya, identitas, dan kearifan lokal masyarakat.

Melalui kolaborasi pemerintah daerah, pemerintah provinsi, pemerintah pusat, akademisi, dunia usaha, komunitas, media, dan masyarakat, imbuh Mas Rio, program ini diharapkan berkembang menjadi gerakan bersama yang menghubungkan pelestarian sejarah dengan peluang pembangunan yang nyata.

Bagi Situbondo, sambung Mas Rio, inisiatif ini merupakan upaya menempatkan Panarukan dalam narasi sejarah nasional sekaligus membuka kesempatan ekonomi baru bagi masyarakat. Dengan semangat kolaborasi, Anyer–Panarukan diharapkan bukan hanya dikenang sebagai jalur bersejarah, tetapi juga dikembangkan sebagai koridor budaya, pariwisata, dan ekonomi masyarakat.

“Kita tidak sedang menghidupkan kembali sebuah jalan. Tapi, kita sedang menghidupkan kembali cerita tentang perjalanan bangsa. Anyer Panarukan 3R, Road, Route, dan Roots. Dari Anyer ke Panarukan — 1.000 KM untuk Indonesia,” pungkas Mas Rio.

Dilain pihak, Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah menyampaikan bahwa konsep Route dalam Anyer–Panarukan 3R dapat menjadi pintu untuk menggerakkan kegiatan ekonomi masyarakat di sepanjang jalur Pantura Anyer-Panarukan tersebut.

“Kita ingin menjadikan Jalan Raya Pos yang dibangun pada jaman koloneal Belanda ini, sebagai pergerakan ekonomi. Kita bisa menumbuhkan UMKM, kita bisa menumbuhkan kuliner. Kemudian juga kita juga bisa menumbuhkan wisata, misalnya wisata religi dan juga sejarah,” jelas Bupati Serang dalam talkshow peluncuran program tersebut.

Menurut Bupati Serang, pengembangan koridor sejarah perlu diarahkan agar membuka kesempatan bagi pelaku usaha lokal dan pengelola destinasi. Dengan demikian, nilai sejarah tidak hanya menjadi bahan dokumentasi, tetapi juga dapat mendukung tumbuhnya aktivitas wisata, kuliner, dan usaha masyarakat.

Kolaborasi Situbondo dan Serang ini, sambung Ratu, diharapkan menjadi langkah awal untuk mempertemukan potensi kedua daerah sekaligus mendorong partisipasi wilayah lain yang berada di sepanjang Jalan Raya Pos dalam menguatkan akar sejarah dan identitas lokal

Dari perspektif sejarah, kata Ratu, Jalan Raya Pos memiliki arti penting dalam memahami perkembangan infrastruktur, pemerintahan, mobilitas, dan kehidupan sosial ekonomi di Pulau Jawa. Namun, pengembangan warisan sejarah perlu disertai dokumentasi yang cermat, pembacaan kritis atas konteks zamannya, serta pelibatan masyarakat yang hidup di sepanjang jalur tersebut.

Keterangan Prof. Dr. Djoko Marihandono, S.S., M.Si., Guru Besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, peneliti sejarah “Anyer-Panarukan” dapat memperkuat perspektif sejarah dalam program ini dengan menekankan pentingnya penggunaan sumber sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan serta pengaitan sejarah dengan identitas masyarakat masa kini.

“Jalan Raya Pos tidak cukup dipahami hanya sebagai infrastruktur peninggalan masa lalu. Jalur ini perlu dikaji melalui sumber sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan, sekaligus dibaca dalam konteks perubahan masyarakat, kebudayaan, dan kehidupan ekonomi di sepanjang jalurnya,” kata Prof Djoko.

Dengan begitu, lanjut Prof Djoko, pengembangan warisan sejarah dapat tetap berpijak pada fakta dan memberi makna bagi generasi sekarang. “Pendekatan tersebut relevan bagi pengembangan Anyer–Panarukan 3R, terutama untuk mendokumentasikan situs bersejarah, cerita masyarakat, tradisi lokal, serta potensi budaya yang berkembang di berbagai wilayah. Sejarah Jalan Raya Pos juga perlu disampaikan secara utuh, termasuk konteks kolonial dan pengalaman masyarakat pada masa pembangunannya,” tegas Prof Djoko.

Di Situbondo, kata Prof Djoko, pengembangan narasi sejarah dapat dihubungkan dengan potensi Panarukan, Kota Tua Besuki, Pendopo Pate Alos, tradisi lokal, serta produk unggulan seperti kopi, batik, kuliner, dan kerajinan. Keterhubungan tersebut membuka peluang bagi sejarah dan kebudayaan untuk menjadi bagian dari pengembangan destinasi dan ekonomi kreatif. (*)

Tombol Google News

Tags:

Situbondo Gagas Raya Pos Ekonomi Baru