KETIK, JAKARTA – Penggunaan natrium dehidroasetat sebagai bahan pengawet makanan berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan, terutama jika terjadi paparan dalam dosis tinggi atau dalam jangka panjang. Senyawa ini dapat mengiritasi saluran pencernaan dan memengaruhi keseimbangan mikrobiota usus.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, dr. Christy Efiyanti, Sp.PD., menjelaskan bahwa natrium dehidroasetat atau sodium dehydroacetate (Na-DHA) merupakan agen antimikroba berspektrum luas. Dalam kondisi paparan akut atau dosis tinggi, senyawa tersebut dikategorikan berbahaya jika tertelan.
“Dalam situasi paparan akut atau dosis tinggi, natrium dehidroasetat diklasifikasikan sebagai zat yang berbahaya jika tertelan. Senyawa ini dapat secara langsung mengiritasi lapisan mukosa lambung dan usus,” ujar dosen bidang ilmu penyakit dalam tersebut.
Berpotensi Mengganggu Hati dan Ginjal
Menurut dr. Christy, kemampuan natrium dehidroasetat dalam menghambat bakteri dan jamur juga berpotensi mengganggu keseimbangan mikrobiota usus. Perubahan tersebut dapat memicu peradangan lokal tingkat rendah dan gangguan metabolisme.
Ia menjelaskan, sejumlah penelitian melaporkan bahwa paparan Na-DHA dapat berkaitan dengan penurunan berat badan, berkurangnya nafsu makan, gangguan hati dan ginjal, serta kelainan pembekuan darah.
Pada penelitian terhadap tikus, paparan senyawa tersebut juga dilaporkan berkaitan dengan perdarahan dan gangguan koagulasi. Temuan ini merupakan hasil penelitian pada hewan dan perlu dibedakan dari bukti dampak pada manusia.
Selain itu, penelitian pada ikan zebra menunjukkan potensi risiko terhadap sistem kardiovaskular.
“Penelitian pada ikan zebra juga menunjukkan adanya potensi risiko terhadap sistem kardiovaskular, di mana senyawa ini memicu masuknya ion Ca2+ dan mengakibatkan kerusakan mitokondria pada kardiomiosit,” jelasnya.
Kardiomiosit merupakan sel otot jantung yang berperan dalam kontraksi jantung. Kerusakan mitokondria pada sel tersebut menjadi bagian dari temuan penelitian yang disampaikan Christy.
Risiko Dipengaruhi Dosis dan Lama Paparan
Christy menekankan bahwa tingkat risiko toksisitas berkaitan dengan jumlah senyawa yang masuk ke tubuh dan lamanya paparan. Paparan dalam jumlah tinggi atau berulang dalam jangka panjang dapat meningkatkan potensi gangguan kesehatan.
Meski demikian, hasil penelitian toksikologi, terutama yang menggunakan hewan percobaan, tidak dapat langsung disamakan dengan dampak pada manusia. Penilaian risiko pada manusia perlu mempertimbangkan bukti ilmiah yang tersedia serta tingkat paparannya.
Bagi masyarakat yang menduga telah mengonsumsi makanan yang mengandung natrium dehidroasetat dan kemudian mengalami keluhan, Christy menyarankan agar berkonsultasi dengan dokter, terutama jika gejala terasa mengkhawatirkan.
Informasi mengenai potensi risiko tersebut menjadi pengingat pentingnya memperhatikan keamanan bahan tambahan pangan dan tidak mengabaikan keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan yang dicurigai mengandung senyawa berbahaya. (*)
