KETIK, JAKARTA – Ayam kampung kerap dianggap lebih sehat daripada ayam broiler karena tekstur dagingnya lebih padat dan pemeliharaannya sering dikaitkan dengan sistem umbaran. Namun, jika dibandingkan berdasarkan kandungan gizi, kedua jenis ayam tersebut memiliki keunggulan dan karakteristik masing-masing.
Dosen Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB University, Shabrina Dyah Wibawanti, SPt, MSi, menjelaskan bahwa perbedaan yang paling konsisten antara ayam kampung dan broiler terletak pada kandungan lemak.
Ayam broiler cenderung mengandung lemak lebih tinggi. Kondisi ini berkaitan dengan karakteristik genetik, pemberian pakan berenergi tinggi, serta sistem pemeliharaan yang dirancang untuk mempercepat pertumbuhan.
“Perbedaan kandungan lemak antara kedua jenis ayam ini merupakan hasil gabungan dari faktor genetik, formulasi pakan, tingkat aktivitas, dan umur panen,” jelas Shabrina.
Sebaliknya, ayam kampung umumnya membutuhkan waktu pemeliharaan lebih lama dan kerap dipelihara dengan sistem umbaran atau free range. Aktivitas fisik yang lebih tinggi membuat ayam menggunakan lebih banyak energi sehingga cenderung tidak menyimpan lemak sebanyak ayam yang dipelihara secara intensif.
Kandungan Protein Ayam Kampung dan Broiler Relatif Setara
Meski ayam kampung sering dinilai lebih unggul, Shabrina menegaskan bahwa jenis ayam ini tidak otomatis memiliki kandungan gizi lebih tinggi dalam semua aspek.
Kandungan protein ayam kampung dan broiler relatif tidak jauh berbeda. Ayam kampung memang dapat memiliki kadar protein sedikit lebih tinggi, tetapi selisihnya relatif kecil dan hasil penelitian menunjukkan variasi.
“Ayam kampung memang dapat memiliki kandungan protein sedikit lebih tinggi, tetapi perbedaannya relatif kecil dan hasil penelitian bervariasi, sehingga secara praktis keduanya dapat dianggap setara sebagai sumber protein”, jelasnya.
Karena itu, konsumen tidak perlu menjadikan jenis ayam sebagai satu-satunya patokan untuk menentukan kualitas protein dalam makanan.
Tekstur daging yang lebih padat juga tidak serta-merta menunjukkan bahwa ayam kampung lebih bergizi. Menurut Shabrina, karakteristik tersebut lebih berkaitan dengan struktur serat otot dan usia panen.
Ayam kampung yang dipanen pada usia lebih tua memiliki ikatan silang kolagen yang lebih kuat pada dagingnya. Kondisi ini membuat tekstur daging terasa lebih padat dan kenyal dibandingkan daging broiler yang umumnya dipanen lebih muda.
Sementara itu, kandungan vitamin, mineral, dan profil asam lemak omega-3, termasuk DHA, turut dipengaruhi oleh pakan yang dikonsumsi ayam selama pemeliharaan.
Bagian Daging dan Cara Memasak Menentukan Asupan Lemak
Selain mempertimbangkan jenis ayam, konsumen perlu memperhatikan bagian daging yang dipilih dan cara mengolahnya. Kedua faktor tersebut turut menentukan jumlah lemak yang masuk ke tubuh.
Sebagai contoh, dada ayam broiler tanpa kulit dapat mengandung lebih sedikit lemak dibandingkan paha ayam kampung yang masih menggunakan kulit. Sebaliknya, proses menggoreng dapat meningkatkan kandungan lemak makanan karena daging menyerap minyak selama pemasakan.
“Penentuan pilihan ayam berdasarkan kandungan gizi tidak dapat semata-mata didasarkan pada jenis ayam, melainkan perlu mempertimbangkan faktor lainnya,” ungkapnya.
Shabrina menyarankan konsumen yang ingin membatasi asupan lemak untuk memilih bagian daging yang relatif rendah lemak, seperti dada tanpa kulit. Konsumen juga dapat mengolah ayam dengan metode selain menggoreng.
Pilihan tersebut dapat diterapkan pada ayam kampung maupun broiler. Dengan demikian, konsumen tetap dapat memperoleh protein dari kedua jenis ayam tanpa harus menganggap salah satunya selalu lebih sehat.
Pada akhirnya, pemilihan ayam sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan gizi, bagian daging, serta metode pengolahan. Ketiga faktor tersebut lebih relevan untuk dipertimbangkan daripada hanya mengandalkan anggapan bahwa ayam kampung selalu lebih sehat dibandingkan ayam broiler. (*)
