Air Hujan Bisa Membawa Polutan, Pakar IPB Jelaskan Risiko bagi Rambut dan Pernapasan

17 Oktober 2026 19:40 17 Okt 2026 19:40

Thumbnail Air Hujan Bisa Membawa Polutan, Pakar IPB Jelaskan Risiko bagi Rambut dan Pernapasan

Ilustrasi wanita yang sedang kehujanan. (Pexels)

KETIK, JAKARTA – Air hujan yang membasahi rambut dan kulit kepala dapat membawa partikel dari lingkungan. Selain debu dan polutan udara, air hujan juga dapat berinteraksi dengan mikroorganisme serta berbagai zat lain selama berada di atmosfer.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr. Widya Khairunnisa, mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan kebersihan rambut setelah kehujanan, terutama jika terpapar hujan dalam waktu lama atau berada di lingkungan dengan tingkat debu dan polusi tinggi.

“Dalam kondisi tertentu, paparan polutan berpotensi memicu stres oksidatif dan peradangan, meskipun penelitian yang secara langsung menghubungkan air hujan dengan gangguan rambut dan kulit kepala masih terbatas,” kata dr. Widya.

 

Bilas Rambut dengan Air Bersih

Partikel yang terbawa air hujan dapat menempel pada rambut dan kulit kepala. Karena itu, Widya menyarankan agar rambut dibilas dengan air bersih dan segera dikeringkan setelah kehujanan.

Jika rambut terkena hujan dalam waktu lama, terutama di lingkungan yang banyak debu dan polusi, mencuci rambut menggunakan sampo lembut dapat membantu membersihkan partikel yang menempel.

Langkah tersebut berfokus pada kebersihan rambut dan kulit kepala. Namun, masyarakat tetap perlu memahami bahwa bukti penelitian yang secara langsung menghubungkan air hujan dengan gangguan rambut dan kulit kepala masih terbatas.

Udara Dingin Bisa Memperburuk Gejala Pernapasan

Selain kualitas air hujan, paparan suhu dingin juga perlu diperhatikan. Kondisi ini dapat menimbulkan rasa tidak nyaman dan memengaruhi saluran pernapasan, khususnya pada orang yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.

Widya menyebutkan, kelompok yang perlu lebih berhati-hati antara lain orang yang sedang demam, sangat lelah, mengalami infeksi saluran pernapasan, atau memiliki asma dan rhinitis.

“Sebagian orang perlu lebih berhati-hati terhadap paparan udara dingin, seperti mereka yang sedang demam, sangat lelah, mengalami infeksi saluran pernapasan, atau memiliki asma dan rhinitis. Pada kondisi tersebut, udara dingin dapat memicu atau memperburuk gejala saluran pernapasan,” jelasnya.

Pada orang yang memiliki asma atau rhinitis, paparan udara dingin dapat memperburuk gejala yang sudah ada. Karena itu, mereka perlu memperhatikan respons tubuh saat berada di lingkungan bersuhu rendah dan menghindari paparan dingin berkepanjangan jika memicu keluhan.

Widya menegaskan bahwa risiko setelah kehujanan tidak semata-mata berkaitan dengan rambut basah, tetapi juga kualitas air, lamanya paparan dingin, dan kondisi kesehatan masing-masing orang.

“Jadi, masalahnya bukan pada keramas saat hujan, tetapi pada paparan dingin berkepanjangan, kualitas air, dan kondisi kesehatan seseorang,” paparnya.

Mitos Kehujanan bikin Flu

Sementara itu, kehujanan atau rambut basah tidak otomatis menyebabkan flu. Menurut Widya, flu atau common cold merupakan infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus, sehingga masyarakat perlu membedakan paparan hujan dari penyebab langsung infeksi tersebut. (*)

Tombol Google News

Tags:

kesehatan air hujan Rambut Dan Kulit Kepala Polusi Udara Asma Rhinitis IPB University