KETIK, JAKARTA – Ketegangan di Lebanon Selatan kembali meningkat setelah serangan Israel menewaskan satu orang dan melukai belasan warga, sementara dua tentara Israel tewas dalam ledakan di sebuah bangunan yang diduga telah dipasangi jebakan.
Insiden ini terjadi di tengah berlangsungnya perundingan untuk memperkuat kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon.
Dilansir dari Aljazeera dijelaskan, serangan udara Israel itu terjadi pada Rabu, 5 Agustus 2026 waktu setempat. Serangan itu menghantam atap aula di area pemakaman di Kota Tibnin, Lebanon Selatan.
Kementerian Kesehatan Lebanon menyebut satu orang tewas dan 12 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.
Serangan itu terjadi setelah dua tentara Israel tewas dan beberapa lainnya terluka dalam ledakan alat peledak rakitan di sebuah bangunan yang dipasangi jebakan di Desa Majdal Selem, Lebanon Selatan.
Menurut data Kementerian Kesehatan Lebanon, sejak 2 Maret, serangan Israel di Lebanon telah menyebabkan sedikitnya 4.333 orang meninggal dunia dan 12.250 lainnya terluka.
Pasca ledakan yang menewaskan tentaranya, militer Israel mengklaim telah melancarkan serangan presisi di sejumlah wilayah Lebanon Selatan.
Israel menyebut operasi tersebut sebagai respons atas dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Hezbollah.
Juru bicara militer Israel Ella Waweya, juga mengeluarkan kembali perintah evakuasi bagi warga Desa al-Mansouri. Penduduk diminta bergerak ke wilayah utara sebelum serangan lanjutan dilakukan.
Meski intensitas pertempuran menurun dalam beberapa pekan terakhir, situasi di perbatasan Lebanon-Israel masih dinilai rentan. Serangan udara Israel masih terjadi secara berkala, terutama di desa-desa yang berada di sepanjang garis depan.
Perundingan Gencatan Senjata Berlanjut di Roma
Di tengah meningkatnya ketegangan, perundingan antara Israel dan Lebanon terus berlangsung di Roma, Italia. Hari kedua pembicaraan berakhir pada Rabu dan dijadwalkan berlanjut hingga Kamis.
Perundingan tersebut mengacu pada kerangka kerja yang didukung Amerika Serikat dan disepakati pada Juni.
Kesepakatan itu mencakup pelucutan senjata Hezbollah, penarikan pasukan Israel secara bertahap, serta pengerahan tentara Lebanon ke wilayah selatan dalam zona uji coba atau pilot zones.
Namun, Hezbollah tetap menolak melakukan perundingan langsung dengan Israel dan menegaskan tidak akan menyerahkan persenjataannya.
Pemimpin Hezbollah Naim Qassem sebelumnya menyatakan bahwa pembicaraan tersebut hanya akan membawa rasa malu, penghinaan serta berbagai bentuk konsesi bagi Lebanon.
Oleh karena itu, situasi ini membuat masa depan gencatan senjata masih dipenuhi ketidakpastian, sementara warga Lebanon Selatan kembali menghadapi kekhawatiran akan berulangnya konflik. (*)
