KETIK, MALANG – Miftahul Huda, M.Pd., Ph.D., dosen Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Humaniora, Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, mendampingi mahasiswa dalam program International Student Mobility and Academic Sharing (I-SMASH) Eropa 2026 di Belgia. Dalam kesempatan tersebut, mereka berkesempatan bertemu langsung dengan Duta Besar Republik Indonesia untuk Belgia, Luksemburg, dan Uni Eropa, Andy Rachmianto.
Program International Student Mobility and Academic Sharing (I-SMASH) Eropa 2026 diikuti oleh tiga mahasiswa Program Studi Sastra Inggris dan satu mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Arab. Program ini memberikan pengalaman baru bagi mahasiswa Fakultas Humaniora UIN Malang.
Sebagai mahasiswa terpilih yang berkesempatan belajar di Eropa, mereka mendapatkan pengalaman berharga. Tidak hanya bagi mahasiswa, perjalanan ini juga menjadi pengalaman berkesan bagi dosen pendamping.
Miftahul Huda mengungkapkan bahwa program ini merupakan pengalaman pertama bagi para mahasiswa. Karena itu, mereka menghadapi sejumlah tantangan untuk beradaptasi dengan lingkungan di Eropa.
Cuaca menjadi salah satu persoalan yang harus dihadapi. Saat ini, Belgia tengah memasuki musim dingin. Selain itu, perbedaan zona waktu juga mengharuskan mahasiswa menyesuaikan pola aktivitas dan istirahat.
Miftah, sapaan karib Miftahul Huda, pun menjelaskan, secara biologis tubuh mereka mungkin belum merasa mengantuk. Namun, secara sosiologis, waktu sudah menunjukkan malam hari sehingga mereka harus beristirahat. Begitu pula sebaliknya ketika pagi tiba.
Para mahasiswa juga belajar mengenal kultur masyarakat Belgia. Salah satunya adalah kedisiplinan, terutama dalam hal ketepatan waktu transportasi umum seperti bus dan kereta. Miftah menceritakan, mahasiswa bahkan pernah berlarian untuk mengejar bus.
"Jadi, mengatur pola waktu dan kedisiplinan. Mungkin yang mereka juga perlu struggle dengan itu. Cuman so far mereka cukup senang, cukup antusias karena mereka melihat dunia yang baru," jelas Miftah.
"Mereka juga berkomunikasi dengan banyak orang Indonesia yang sudah lama tinggal di sini, mengenal cara pandang mereka. Hubungan antara ayah dan anak yang berbeda dengan hubungan ayah dan anak di Indonesia," imbuhnya.
Selama mengikuti program I-SMASH, mahasiswa juga mendapatkan kesempatan bertemu langsung dengan Duta Besar RI untuk Belgia, Andy Rachmianto. Kesempatan ini tidak lepas dari pengalaman Miftah yang pernah menempuh pendidikan doktoral di University of Antwerp, Belgia, sehingga memiliki sejumlah relasi di kalangan diplomat.
Miftah awalnya mencoba menghubungi Kepala Fungsi Protokol dan Konsuler KBRI Brussels. Saat itu, informasi yang diterimanya menyebutkan bahwa Wakil Duta Besar akan menyambut mahasiswa I-SMASH karena Andy Rachmianto sedang berada di Jakarta.
"Karena kebetulan saya pernah studi di sini dan cukup banyak kenal dengan diplomat. Baik yang lokal staff maupun yang home staff di KBRI. Jadi dua hari sebelum kami tiba di sini. Saya coba kontak kepala fungsi protokol dan konsuler itu. Siapa tahu ada yang bisa menyambut mahasiswa I-SMASH," jelas Miftah.
Namun, ketika kembali menghubungi pihak KBRI, Miftah mendapat informasi bahwa Wakil Duta Besar memiliki agenda pertemuan lain. Kabar baiknya, Andy Rachmianto ternyata sudah kembali ke Belgia dan berkesempatan menyambut mahasiswa UIN Malang.
Miftah mengungkapkan, Andy Rachmianto menyambut baik kunjungan tersebut. Bahkan, ia berharap mahasiswa UIN Malang dapat tinggal lebih lama di Belgia.
Dalam pertemuan itu, mahasiswa mendapatkan sejumlah wawasan penting. Andy Rachmianto menyampaikan empat hal, mulai dari tantangan pendidikan di Belgia hingga peluang kerja sama internasional.
Pertama, Andy membahas tantangan menempuh pendidikan di Belgia, khususnya bagi mahasiswa Indonesia. Ia mendorong mahasiswa untuk memanfaatkan berbagai peluang beasiswa, baik dari pemerintah Indonesia maupun Belgia, atau menempuh pendidikan dengan biaya mandiri.
Miftah menuturkan, biaya pendidikan di Belgia relatif sedikit lebih tinggi dibandingkan Indonesia. Namun, menurutnya, mahasiswa masih memiliki peluang untuk membiayai pendidikan dengan bekerja paruh waktu.
Dubes RI, Andy Rachmianto berbincang santai dengan Miftahul Huda dan 4 mahasiswa Fakultas Humaniora UIN Malang. (Foto: Dok. Ketik.com)
Kedua, Andy Rachmianto menjelaskan situasi sosial dan politik di Belgia, termasuk demonstrasi yang dilakukan masyarakat. Aksi tersebut antara lain berkaitan dengan pemangkasan anggaran fasilitas umum, pendidikan, kesehatan, dan lapangan pekerjaan, sementara dukungan terhadap Rusia dalam konflik dengan Ukraina menjadi salah satu isu yang disorot dalam kebijakan anggaran.
Andy juga menyampaikan peluang dan tantangan bagi masyarakat Indonesia yang bekerja maupun menempuh pendidikan di Belgia. Saat ini, pemerintah setempat menghadapi tekanan keuangan dan berupaya meningkatkan penerimaan negara, salah satunya melalui kenaikan pajak.
Kebijakan tersebut turut berdampak pada biaya hidup. Sejumlah pemilik akomodasi, seperti rumah dan tempat kos, menaikkan harga sewa. Akibatnya, mahasiswa harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal.
Miftah membandingkan kondisi tersebut dengan pengalamannya saat menempuh pendidikan doktoral di Belgia. Kala itu, ia menerima beasiswa sebesar 1.400 euro dan mengalokasikan 500 euro untuk biaya tempat tinggal.
Sementara itu, harga sewa kamar kos saat ini telah mencapai 700 hingga 750 euro. Di sisi lain, besaran beasiswa masih berada di angka 1.400 euro.
"Artinya 50 persen atau bahkan lebih dari biaya beasiswa, biaya pendidikan itu kan habis untuk membayar akomodasi. Belum lagi membeli makan, makan itu makin mahal sekarang di sini," tutur Miftah.
Kondisi geopolitik tersebut secara tidak langsung turut memengaruhi akses pendidikan dan keterjangkauan biaya hidup. Dampaknya dirasakan banyak mahasiswa dan menjadi salah satu persoalan yang memicu demonstrasi.
Terakhir, Andy Rachmianto menyampaikan bahwa beberapa waktu sebelumnya Kementerian Agama RI telah berkunjung ke Belgia untuk menjajaki peluang kerja sama. Dalam pertemuan tersebut, Kemenag RI meminta dukungan dalam bidang pendidikan, termasuk program student mobility.
Berkaca dari pengalaman mengikuti I-SMASH, Miftah berpesan agar mahasiswa UIN Malang memiliki pola pikir terbuka dan mampu melihat berbagai persoalan dari perspektif global. Hal tersebut dinilai penting agar mereka lebih mudah beradaptasi dengan dinamika internasional.
Selain itu, ia menekankan pentingnya menumbuhkan rasa ingin tahu atau curiosity. Menurutnya, mahasiswa perlu memiliki inisiatif untuk mencari pengalaman dan pengetahuan baru, bukan sekadar menunggu arahan.
"Contoh sederhana misalnya, kalau mau ke mana-mana itu saya yang pesankan tiket, saya yang lihatkan jadwal dan sebagainya. Nah seharusnya itu kan mungkin mereka bisa nambah rasa ingin tahu," ungkap Miftah.
Ia menilai, mahasiswa perlu mengembangkan inisiatif melalui rasa ingin tahu tersebut. Sebab, jika hanya menunggu arahan, kesempatan untuk mendapatkan pengalaman baru akan menjadi terbatas.
"Jadi mungkin curiosity dan open-mindedness itu yang perlu untuk ditingkatkan, tapi mereka secara langsung atau tidak sebenarnya sudah banyak belajar. Cuman agar akselerasi proses belajarnya lebih cepat, ya memang kemampuan untuk beradaptasi," pungkasnya. (*)
