KETIK, JAKARTA – Masyarakat tidak perlu khawatir apabila menemukan perbedaan luas antara sertipikat tanah dengan alas hak lama seperti Letter C, Letter D, girik, maupun petuk. Perbedaan tersebut merupakan hal yang wajar dan dapat terjadi akibat perbedaan metode serta teknologi pengukuran yang digunakan dari waktu ke waktu.
“Yang penting dipahami masyarakat adalah kepastian pengukuran tanah terletak pada kepastian posisi, batas, dan bentuk bidang tanah, bukan semata-mata pada luasnya,” ujar Direktur Survei dan Pemetaan Tematik, Agus Apriawan, saat ditemui di Kementerian ATR/BPN, Jakarta, Kamis (25/6/2026).
Agus Apriawan menjelaskan, alas hak lama pada dasarnya merupakan bukti administrasi penguasaan atau riwayat tanah yang berasal dari pencatatan desa maupun sistem perpajakan pada masa lalu. “Dokumen-dokumen tersebut bukan merupakan bukti hak kepemilikan yang diterbitkan melalui sistem pendaftaran tanah nasional,” jelasnya.
Di masa lalu ada kalanya pengukuran tanah masih menggunakan alat sederhana, seperti pita ukur atau meteran. Alat itu memiliki keterbatasan jika digunakan di medan dengan topografi tertentu. Seiring perkembangan teknologi, metode dan alat pengukuran tanah kini menjadi jauh lebih modern dan banyak alternatif.
Menurut Agus Apriawan, saat ini pengukuran tanah telah memanfaatkan teknologi berbasis satelit melalui global positioning system (GPS) dengan metode real time kinematic (RTK) yang mampu menghasilkan tingkat ketelitian hingga lima sentimeter. Dengan teknologi tersebut, hasil pengukuran terkini menjadi lebih akurat dibandingkan metode sebelumnya.
Perbedaan luas antara data pada alas hak lama dengan sertipikat tidak serta-merta menunjukkan adanya kesalahan. Kondisi tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain keterbatasan alat ukur terdahulu, kondisi geografis saat pengukuran, hingga kemungkinan perubahan batas fisik tanah di lapangan.
“Selama batas-batas tersebut jelas dan disepakati, perbedaan luas yang masih dalam batas toleransi ketelitian merupakan hal yang dapat diterima,” tutur Direktur Survei dan Pemetaan Tematik.
Agus Apriawan pun mengimbau masyarakat untuk tidak ragu melakukan pengukuran atau pendaftaran tanah guna memperoleh kepastian hukum atas bidang tanah yang dimiliki. “Melalui pendaftaran tanah, dokumen lama, seperti Letter C, Letter D, girik, maupun petuk dapat ditingkatkan statusnya menjadi sertipikat sehingga memberikan perlindungan hukum yang lebih optimal bagi pemilik tanah,” pungkasnya.
Terdapat Perbedaan Luas Antara Alas Hak Lama dan Sertipikat? Tak Perlu Khawatir, Ini Penjelasanny
25 Juni 2026 21:41 25 Jun 2026 21:41
T. Rahmat
Editor
Seorang petugas ATR/BPN melakukan pengecekan luas tanah. (Foto: ATR/BPN)
Tags:
A T R/ B P N Jakarta Pertanahan Luas Tanah Agus ApriawanBaca Juga:
Tak Perlu Jauh ke Kantor, Warga Purbalingga Apresiasi Layanan Pertanahan yang Kian DekatBaca Juga:
Mudahkan Masyarakat, ATR/BPN Aktifkan Mobil Layanan Keliling Tanpa Datang ke KantahBaca Juga:
Lantik Pejabat Manajerial dan Fungsional, Menteri ATR/BPN Ingatkan Pentingnya Integritas dan ProfesionalBaca Juga:
Peluncuran Transformasi Layanan Pertahanan Berikan Kepastian Waktu Prosedur dan PenyelesaianBaca Juga:
Dua Tahun Kabinet Merah Putih, ATR/BPN Sertifikasi 53.431 Bidang Tanah WakafBerita Lainnya oleh T. Rahmat
2 November 2026 10:16
Tak Perlu Jauh ke Kantor, Warga Purbalingga Apresiasi Layanan Pertanahan yang Kian Dekat
1 November 2026 16:13
Ratusan Polisi Amankan Aksi Demo PT CA, Kapolres Abdya: Berjalan Kondusif
1 November 2026 16:06
Sengketa 4.847 Hektare PT CA Memanas, Aktivitas Perusahaan Disepakati Berhenti Sementara
1 November 2026 14:22
Jamaluddin Idham Raih JAB Award 2026, Tuai Apresiasi dari Nelayan Aceh Singkil
31 Oktober 2026 19:45
Pengukuran Terjadwal, Warga Kota Bengkulu Rasakan Presisi Waktu Jadwal Ukur Tanah
