KETIK, MALANG – Melalui program South East Asia Academic Mobility (SEAAM), akademisi Indonesia mempresentasikan riset tentang tata kelola jejak air kecerdasan buatan dan hak atas air di Malaysia. Rangkaian kegiatan pada 26–29 Oktober 2026 ini juga mencakup penguatan kapasitas dosen, mobilitas mahasiswa, forum pemuda ASEAN, dan pemberdayaan masyarakat.
Perjalanan akademik lintas negara bukan sekadar kesempatan mengunjungi negara lain. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk berbagi pengetahuan, memperluas jejaring profesional, dan membangun kolaborasi yang bermanfaat bagi perguruan tinggi maupun masyarakat.
Semangat inilah yang mewarnai perjalanan akademik Dra. Jundiani, S.H., M.Hum., bersama komunitas South East Asia Academic Mobility (SEAAM). Mengusung tema kegiatan Penguatan Dosen Indonesia dalam Membangun Jejaring Akademik Global/Internasional, rangkaian agenda di Malaysia berlangsung pada 26–29 Oktober 2026.
Kegiatan ini melibatkan akademisi dari delapan perguruan tinggi di Indonesia, yakni IAIN Parepare, UIN Sunan Kalijaga, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Universitas Trisakti, UIN Palopo, STAI DDI Kota Makassar, STEBI Al Muhsin, dan STIKES Majene.
Para peserta mengikuti kegiatan di UCYP University, Universiti Malaysia Terengganu (UMT), serta Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA), Terengganu. Pertemuan lintas institusi ini membuka peluang pertukaran pengalaman, pengembangan kapasitas akademik, dan penjajakan kerja sama pendidikan di kawasan Asia Tenggara.
Presentasikan Riset di UCYP University
Salah satu agenda utama perjalanan ini adalah partisipasi Jundiani dalam South East Asia Symposium in Islamic Civilization 2026 yang diselenggarakan di UCYP University, Pahang, Malaysia.
Dalam forum akademik internasional tersebut, ia mempresentasikan dua makalah ilmiah berjudul “Governing the Water Footprint of AI through Environmental Law Reform for Climate Justice” dan “ASEAN Climate Mitigation and Adaptation Initiatives and the Basic Right to Water”.
Kedua makalah tersebut mengangkat isu lingkungan yang semakin relevan di tengah perkembangan teknologi digital dan meningkatnya tantangan perubahan iklim.
Makalah pertama membahas tata kelola jejak air kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) melalui reformasi hukum lingkungan untuk mewujudkan keadilan iklim. Isu ini penting karena perkembangan AI tidak hanya berkaitan dengan inovasi dan efisiensi kerja, tetapi juga dengan kebutuhan sumber daya yang menopang infrastrukturnya, termasuk pusat data.
Pengoperasian pusat data membutuhkan energi dan, dalam sejumlah sistem pendingin, air. Karena itu, penggunaan air dalam infrastruktur digital perlu menjadi bagian dari pembahasan mengenai keberlanjutan lingkungan. Kemajuan teknologi perlu diimbangi dengan tata kelola yang memperhatikan daya dukung lingkungan serta keberlanjutan sumber daya.
Melalui makalah tersebut, Jundiani menyoroti pentingnya pembaruan hukum lingkungan agar mampu merespons tantangan yang muncul akibat transformasi digital. Inovasi tidak semestinya hanya diukur berdasarkan kecepatan, produktivitas, dan keuntungan ekonomi, tetapi juga dari tanggung jawab ekologis serta dampaknya terhadap masyarakat.
Sementara itu, makalah kedua membahas inisiatif mitigasi dan adaptasi iklim di ASEAN serta hak dasar atas air. Air bukan sekadar sumber daya untuk mendukung aktivitas ekonomi, melainkan kebutuhan mendasar yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat, keberlanjutan ekosistem, dan tanggung jawab antargenerasi.
Dalam menghadapi perubahan iklim, upaya menjaga ketersediaan air membutuhkan kebijakan yang tidak hanya berorientasi pada lingkungan, tetapi juga memperhatikan hak masyarakat untuk memperoleh akses terhadap air. Kerja sama antarnegara menjadi penting karena tantangan lingkungan kerap melampaui batas administratif.
Bagi Jundiani, kesempatan mempresentasikan kedua makalah tersebut di forum internasional merupakan ruang untuk mempertemukan kajian hukum lingkungan dengan perspektif akademik lintas disiplin dan lintas negara. Forum semacam ini juga membuka peluang bagi akademisi Indonesia untuk berkontribusi dalam pembahasan isu-isu kontemporer yang berdampak pada masyarakat global.
Partisipasi tersebut sekaligus menegaskan pentingnya penelitian hukum yang responsif terhadap perubahan zaman. Kajian akademik tidak cukup berhenti pada pembacaan peraturan yang berlaku, tetapi juga perlu mengevaluasi kemampuan kerangka hukum dalam menjawab tantangan baru, mulai dari perkembangan AI hingga pemenuhan hak dasar atas air.
SEAAM dan Kolaborasi Akademik Lintas Kampus
Kehadiran peserta dari delapan perguruan tinggi Indonesia memberikan dimensi tersendiri dalam rangkaian kegiatan SEAAM. Para peserta berasal dari institusi dengan karakter dan bidang keilmuan yang beragam, sehingga pertemuan ini menjadi kesempatan untuk bertukar pengalaman, memperluas jejaring, dan menjajaki kolaborasi.
Dalam dunia pendidikan tinggi, kerja sama tidak selalu harus dimulai melalui program berskala besar. Dialog antardosen, pertukaran gagasan, pengenalan sistem pendidikan, hingga penjajakan penelitian bersama dapat menjadi langkah awal yang penting.
Jika ditindaklanjuti secara konsisten, pertemuan lintas kampus berpotensi berkembang menjadi program konkret, seperti kuliah tamu, pertukaran mahasiswa, penelitian kolaboratif, publikasi ilmiah, dan pengabdian kepada masyarakat.
Melalui SEAAM, pengalaman akademik Indonesia dipertemukan dengan lingkungan pendidikan tinggi di kawasan Asia Tenggara. Pengalaman tersebut diharapkan tidak berhenti pada kunjungan, tetapi dapat dikembangkan menjadi kegiatan pendidikan, penelitian, dan pemberdayaan di institusi masing-masing.
Mobilitas Mahasiswa dan Penguatan Kapasitas Dosen
Selain presentasi ilmiah, rangkaian kegiatan ini mencakup mobilitas mahasiswa (student mobility) dan pengembangan kapasitas dosen. Mobilitas mahasiswa memberikan kesempatan untuk belajar di luar lingkungan kampus sendiri, mengenal budaya berbeda, dan memahami beragam perspektif pendidikan.
Sementara itu, penguatan kapasitas dosen diperlukan untuk meningkatkan kualitas pengajaran, penelitian, publikasi ilmiah, serta kontribusi perguruan tinggi kepada masyarakat.
Dosen saat ini menghadapi tuntutan yang semakin luas. Selain menguasai bidang keilmuan, mereka perlu mengembangkan kemampuan menulis karya ilmiah, membangun jejaring internasional, memanfaatkan teknologi secara tepat, dan menghubungkan hasil penelitian dengan persoalan nyata.
Interaksi lintas negara dapat memperkaya wawasan sekaligus membuka kesempatan mempelajari pendekatan baru dalam pengembangan pendidikan tinggi.
Namun, keberhasilan kegiatan semacam ini tidak cukup diukur dari terlaksananya kunjungan atau pertemuan. Hal yang lebih penting adalah tindak lanjutnya: apakah pengalaman tersebut memperkuat pembelajaran, meningkatkan kompetensi, menghasilkan kolaborasi, dan mendorong lahirnya kegiatan yang bermanfaat.
Dengan demikian, mobilitas akademik dan pengembangan kapasitas dosen dapat menjadi investasi jangka panjang bagi peningkatan mutu pendidikan tinggi.
ASEAN Youth Forum dan Pemberdayaan Masyarakat
Agenda lain dalam perjalanan ini adalah ASEAN Youth Forum serta kegiatan yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat atau pengabdian kepada masyarakat (PKM).
Forum pemuda ASEAN menjadi ruang dialog bagi generasi muda dari berbagai latar belakang untuk bertukar gagasan mengenai tantangan dan peluang di Asia Tenggara.
Generasi muda memiliki peran penting dalam merespons perubahan sosial, perkembangan teknologi, persoalan lingkungan, dan kebutuhan pembangunan berkelanjutan. Pertemuan lintas negara dapat memperluas pemahaman bahwa berbagai persoalan masyarakat memiliki keterkaitan regional.
Karena itu, kemampuan berdialog, bekerja sama, dan menghargai perbedaan menjadi modal penting untuk membangun inisiatif bersama.
Di sisi lain, pemberdayaan masyarakat mengingatkan bahwa pengetahuan akademik perlu terhubung dengan kehidupan sehari-hari. Perguruan tinggi tidak hanya bertanggung jawab menghasilkan lulusan dan publikasi ilmiah, tetapi juga berperan dalam mengembangkan solusi, mendampingi komunitas, dan memperkuat kapasitas masyarakat.
Pengalaman lintas negara diharapkan dapat memperkaya perspektif akademisi dalam merancang program pengabdian yang sesuai dengan kebutuhan dan konteks lokal.
Fam Trip Terengganu: Mengenal Potensi Lokal
Rangkaian kegiatan di Malaysia pada 26–29 Oktober 2026 juga mencakup Fam Trip Terengganu. Agenda ini melengkapi kegiatan akademik dengan kesempatan mengenal wilayah, budaya, dan potensi lokal.
Bagi akademisi, pemahaman terhadap karakter suatu wilayah dapat menjadi bahan refleksi untuk melihat hubungan antara pendidikan, kebudayaan, pembangunan, dan pemberdayaan masyarakat.
Kunjungan ke suatu daerah tidak semestinya hanya dimaknai sebagai kegiatan wisata. Pengalaman tersebut juga dapat memunculkan pertanyaan tentang bagaimana potensi lokal dikembangkan, identitas budaya dipertahankan, dan masyarakat memperoleh manfaat dari berbagai peluang pembangunan.
Perspektif ini relevan untuk memperkaya pendekatan pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat, khususnya ketika perguruan tinggi berupaya menghubungkan pengetahuan akademik dengan kebutuhan nyata.
Memperluas Jejaring ke Thailand dan Singapura
Setelah menyelesaikan rangkaian kegiatan di Malaysia, perjalanan akademik bersama SEAAM direncanakan berlanjut ke Thailand dan Singapura. Agenda berikutnya tetap berfokus pada pengembangan akademik, penguatan jejaring, dan pemberdayaan masyarakat.
Perjalanan lintas negara ini membawa pesan bahwa kerja akademik tidak seharusnya dibatasi oleh batas geografis. Negara-negara di Asia Tenggara memiliki karakter dan pengalaman berbeda, tetapi juga menghadapi sejumlah tantangan yang saling berkaitan.
Melalui interaksi regional, akademisi memiliki kesempatan memperluas perspektif, mengenali peluang kolaborasi, dan mengembangkan gagasan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di negara masing-masing.
Pada akhirnya, perjalanan akademik bersama SEAAM bukan semata-mata tentang mengunjungi tiga negara. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan upaya menghubungkan riset, pendidikan, pengembangan kapasitas dosen, partisipasi generasi muda, dan pemberdayaan masyarakat dalam satu rangkaian yang saling mendukung.
Presentasi dua makalah di UCYP University menjadi salah satu wujud kontribusi ilmiah akademisi Indonesia dalam forum internasional. Sementara itu, kunjungan ke perguruan tinggi lain dan agenda lanjutan di Thailand serta Singapura membuka peluang untuk memperluas pertukaran pengalaman dan membangun kolaborasi berkelanjutan.
Pengetahuan akan memberikan manfaat lebih besar ketika tidak hanya dikembangkan di ruang akademik, tetapi juga dibagikan, diuji melalui dialog, dan diterapkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Itulah semangat yang ingin dibawa dari perjalanan akademik Indonesia di kawasan ASEAN: melintasi batas negara, mempertemukan gagasan, dan memperluas kontribusi perguruan tinggi bagi masa depan bersama.
