KETIK, SLEMAN
– Meniti karier di dunia birokrasi membutuhkan ketangguhan. Keluwesan adaptasi dan kesiapan untuk terus belajar menjadi hal mutlak dalam menjawab tantangan zaman.
Prinsip itulah yang dibuktikan oleh Samino, SIP MEcDev. Jika di hitung ia telah mengabdi lebih dari 31 tahun di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sleman. Kini, Samino mengemban amanah baru sebagai Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman. Pelantikannya dilaksanakan secara resmi pada 20 Oktober 2026.
Bagi Samino, bergeser ke sektor kebudayaan menjadi babak baru yang menantang. Langkah ini sekaligus memberi ruang pengabdian yang sangat segar sepanjang perjalanannya di ranah birokrasi daerah.
"Kebudayaan memang menjadi hal yang baru bagi saya. Namun, ini adalah amanah besar dari bapak Bupati dan Wabup yang harus saya jalankan dengan sebaik-baiknya," kata Samino saat ditemui Ketik.com, Jumat, 6 November 2026.
Dirinya mengaku menyadari betul ada tanggung jawab besar yang dipikul di pundaknya. Ia berkomitmen membumikan visi dan misi daerah lewat pendekatan seni, tradisi, dan kebudayaan.
"Khususnya misi nomor enam, yaitu kemajuan kebudayaan dengan semangat menjaga kebhinekaan, keberagaman, toleransi, serta kesepakatan bersama. Seputar meniko," ujarnya menegaskan komitmennya.
Untuk mengawal agenda pemajuan kebudayaan di Bumi Sembada, Samino memimpin koordinasi lintas struktur di Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan). Selain dukungan Sekretariat, terdapat tiga pilar teknis utama yang menjadi tumpuan pergerakannya. Bidang Warisan Budaya bertugas memayungi pelestarian cagar budaya benda maupun tak benda.
Sementara itu, Bidang Adat, Tradisi, Lembaga Budaya, dan Seni mengampu penguatan tata kehidupan bermasyarakat dan sanggar seni. Di sisi lain, Bidang Sejarah, Bahasa, Sastra, dan Permuseuman berfokus pada penyelamatan rekam sejarah daerah serta pengelolaan museum.
Menyadari luasnya cakupan kerja dan kompleksnya ruang kebudayaan tersebut, Samino menekankan pentingnya merangkul seluruh elemen masyarakat. Ia juga merangkul insan media massa.
"Nyuwun sengkuyung-ipun (mohon dukungan dan kerja samanya). Karena pers itu kan mitra kita untuk menyampaikan hal-hal positif dan informasi ini kepada masyarakat," tutur mantan Panewu Kalasan ini dengan ramah.
Prosesi pelantikan Samino sendiri merupakan bagian dari langkah taktis Pemkab Sleman di bawah kepemimpinan Bupati Harda Kiswaya dan Wakil Bupati Danang Maharsa dalam menyegarkan struktur organisasi dan tata kerja pemerintahan.
Ulasan lengkap mengenai momen mutasi pejabat daerah tersebut dapat dibaca dalam: Ini Daftar 63 Pejabat Sleman Terlantik, Dituntut Jaga Netralitas ASN dan Bebas Ego Sektoral
Rekam Jejak Berjenjang dari Sospol hingga Kewilayahan
Jam terbang dan rekam jejak Samino di Kabupaten Sleman memang terbilang sangat panjang, matang, dan berjenjang. Kiprah birokrasinya bermula di Kantor Sosial Politik (Sospol) Sleman pada tahun 1995 hingga 2000. Selepas dari Sospol, ia mendapat kepercayaan memperkuat pos Ketentraman dan Ketertiban (Trantib) selama satu tahun untuk mengawal kondusivitas wilayah.
Pengalaman mendalam di urusan tata kelola kepegawaian dan pengembangan sumber daya manusia ASN mulai ditempuhnya sejak tahun 2001. Kala itu, ia resmi masuk di Kantor Kepegawaian Sleman instansi yang dalam perjalanannya bertransformasi menjadi BKD hingga kini dikenal sebagai BKPP. Di pos kepegawaian ini, Samino bertahan dan mendedikasikan pengabdiannya cukup lama, yakni hampir 18 tahun, hingga Desember 2019.
Tak cuma matang di balik meja manajemen SDM aparatur, Samino juga sangat kenyang pengalaman teritorial di tingkat akar rumput. Ia mengasah kepemimpinan kewilayahannya saat dipercaya menjabat Panewu Anom (Sekretaris Kecamatan) di Kapanewon Moyudan dan Godean. Sepak terjangnya di wilayah berlanjut saat dipercaya menjabat kepemimpinan puncak sebagai Panewu di Kapanewon Seyegan, sebelum akhirnya memimpin Kapanewon Kalasan.
Kini, Samino memiliki modal yang lengkap. Ia menguasai pemahaman tata politik daerah, penataan birokrasi kepegawaian, hingga penguasaan teritorial kewilayahan. Seluruh pengalaman ini menjadi bekal berharga baginya dalam memimpin Dinas Kebudayaan Sleman.
Pendekatan humanis dan kepemimpinan yang inklusif menjadi kekuatannya. Kehadirannya diharapkan mampu menghidupkan kembali pemajuan tradisi lokal. Pelestarian cagar budaya juga terus didorong. Selain itu, para seniman dan budayawan di Sleman kini memiliki ruang kreasi yang lebih luas. (*)