KETIK, BOJONEGORO – Dentuman keras yang terdengar di Bojonegoro dan wilayah sekitarnya memunculkan beragam dugaan di tengah masyarakat. Rekaman yang memperlihatkan kilatan cahaya di langit turut memicu spekulasi mengenai kemungkinan meteor, aktivitas geologi, hingga fenomena atmosfer.

Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Dr Givo Alsepan, mengingatkan bahwa masyarakat tidak dapat langsung menyimpulkan penyebab peristiwa tersebut hanya berdasarkan suara dentuman atau rekaman yang beredar di media sosial.

Menurutnya, peneliti perlu menggabungkan bukti dari sejumlah bidang ilmu untuk mengidentifikasi sumber suara tersebut. Kajian itu mencakup fisika atmosfer, geofisika, dan astronomi agar setiap dugaan dapat diuji berdasarkan data yang relevan.

“Kemiripan suara bukan bukti kesamaan penyebab. Untuk mengetahui sumbernya, kita perlu menggabungkan bukti dari berbagai bidang ilmu, bukan hanya mengandalkan kesaksian atau rekaman yang beredar di media sosial,” jelasnya.

Rekaman dan kesaksian warga perlu diverifikasi

Baca Juga:
Wacana Pengobatan TBC Satu Bulan, Pakar Medis Jelaskan Perbedaan TBC Aktif dan Laten

Givo menjelaskan bahwa rekaman visual dapat membantu proses penyelidikan, tetapi peneliti perlu memastikan waktu kejadian, lokasi pengambilan gambar, dan lintasan objek yang terlihat. Informasi tersebut penting untuk mengetahui apakah kilatan cahaya dan dentuman benar-benar berkaitan dengan peristiwa yang sama.

Kesaksian warga juga perlu dilengkapi keterangan mengenai waktu dan lokasi kejadian, arah datangnya suara, serta jeda antara kemunculan kilatan cahaya dan dentuman. Peneliti kemudian dapat mencocokkan informasi tersebut dengan data ilmiah yang tersedia.

Selain rekaman kamera, pemeriksaan dapat melibatkan data seismograf, informasi aktivitas petir, serta kondisi cuaca ketika kejadian berlangsung. Penggabungan data dari berbagai sumber dapat membantu menguji dugaan dan menyingkirkan kemungkinan yang tidak didukung bukti.

Meteor, geologi, dan atmosfer menjadi kemungkinan yang perlu diuji

Baca Juga:
2 Hari Surabaya Diguyur Hujan, BMKG Sebut Belum Masuk Musim Penghujan

Givo menyebut meteor yang memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan tinggi sebagai salah satu kemungkinan yang dapat ditelusuri. Interaksi benda antariksa dengan atmosfer dapat menghasilkan panas intensif dan, dalam kondisi tertentu, gelombang kejut yang menimbulkan suara dentuman.

Namun, kilatan cahaya yang terlihat berdekatan dengan dentuman belum cukup untuk memastikan bahwa meteor menjadi penyebabnya. Peneliti perlu memverifikasi rekaman dan mencocokkannya dengan data lain sebelum menarik kesimpulan.

Kemungkinan aktivitas geologi juga perlu diperiksa menggunakan bukti yang relevan. Pergerakan batuan dan pelepasan energi dapat menghasilkan gelombang seismik, tetapi dentuman keras tidak otomatis menunjukkan terjadinya gempa bumi.

Fenomena atmosfer, seperti aktivitas petir dan perubahan struktur suhu udara, juga dapat memengaruhi perambatan suara. Karena itu, peneliti perlu menguji setiap kemungkinan secara terpisah sebelum menentukan penyebab yang paling sesuai dengan bukti.

“Sampai penyebabnya terverifikasi, penjelasan yang paling tepat adalah bahwa sumber dentuman tersebut belum dapat dipastikan secara ilmiah. Kesimpulan harus mengikuti kekuatan bukti yang tersedia,” tegasnya.

Givo mengimbau masyarakat agar tidak menyebarkan dugaan sebagai fakta sebelum memperoleh konfirmasi. Warga yang memiliki rekaman kejadian sebaiknya menyimpan berkas asli dan melaporkannya kepada pihak berwenang.

“Jika menemukan benda asing atau lokasi yang diduga terdampak, jaga jarak dan jangan sentuh benda yang belum diketahui asalnya,” imbuh Dr Givo.

Untuk menelusuri kemungkinan penyebabnya, peneliti juga perlu memeriksa dugaan meteor dengan memverifikasi kilatan cahaya dan lintasan objek yang terekam. Selain itu, data kegempaan, aktivitas petir, dan kondisi atmosfer dapat membantu menguji kemungkinan penyebab dari sisi geologi maupun meteorologi. (*)