KETIK, BANDAR LAMPUNG – Semangat Sumpah Pemuda tentang persatuan dan kesetaraan tidak cukup berhenti dalam upacara maupun slogan. Kesempatan yang sama untuk belajar, bekerja, dan berkarya juga menjadi bagian penting dalam mewujudkan semangat tersebut, termasuk bagi pemuda penyandang disabilitas.
Di Bandar Lampung, Lubi.co Cafe Coworking space berupaya menghadirkan kesempatan itu. Melalui lingkungan kerja yang inklusif, para pemuda berkebutuhan khusus diberi ruang untuk mengembangkan keterampilan, mendapatkan pengalaman, dan membangun kemandirian.
Upaya tersebut menjadi relevan di tengah tantangan akses pekerjaan yang masih dihadapi penyandang disabilitas. Bagi mereka, mendapatkan pekerjaan bukan hanya persoalan penghasilan, tetapi juga kesempatan untuk menunjukkan kemampuan dan mengambil bagian dalam kehidupan sosial.
Pendamping Lubi.co Cafe, Christ Theo Imanuel, mengatakan kesempatan kerja bagi pemuda berkebutuhan khusus masih terbatas dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki kebutuhan khusus.
Menurut Theo, peringatan Hari Sumpah Pemuda seharusnya menjadi momentum untuk memperluas pemahaman tentang persatuan, termasuk dengan memberikan kesempatan kepada setiap pemuda tanpa membedakan kondisi fisik maupun intelektualnya.
Baca Juga:
Jamintel Kejagung Minta Aslinmas dan Abpednas Kawal Keuangan Desa“Sumpah Pemuda mengajarkan kita tentang persatuan tanpa membeda-bedakan. Namun realitanya, kesempatan kerja bagi pemuda berkebutuhan khusus masih sangat terbatas dibandingkan dengan non-berkebutuhan khusus. Di Lubi.co, kami ingin meruntuhkan batasan itu. Kami memberikan kesempatan yang sama bagi mereka untuk bekerja, berkembang, dan mandiri,” ujar Theo, Senin (26/10/2026).
Dari Dapur Difabel, Membangun Kesempatan untuk Berkarya
Komitmen Lubi.co dalam membuka ruang kerja bagi penyandang disabilitas memiliki perjalanan panjang. Inisiatif ini berawal dari usaha sosial bernama Difa atau Dapur Difabel yang dirintis Yayasan Langit Sapta pada 2019.
Saat itu, Dapur Difabel beroperasi di depan kantor PLN, tidak jauh dari Tugu Adipura, Bandar Lampung. Usaha tersebut menjadi bagian dari upaya menyediakan ruang bagi pemuda berkebutuhan khusus untuk belajar dan terlibat dalam aktivitas kerja.
Dalam dua tahun pertama, pengembangannya mendapat dukungan dari PT PLN (Persero) serta sejumlah pihak lain, yakni Nestlé, Wong Coco, Bank Indonesia, JNE, Bukit Randu, dan Emersia. Pendampingan juga diberikan oleh Dinas Sosial Provinsi Lampung.
Bantuan yang diterima berupa fasilitas dan kebutuhan operasional, bukan uang tunai. Dukungan itu mencakup penyediaan ruang, peralatan kerja, bahan baku kayu palet untuk membuat meja dan kursi, serta pelatihan memasak.
Dari proses tersebut, usaha sosial ini terus berkembang. Pada 2023, Difa berganti nama menjadi Lubi.co, singkatan dari Luar Biasa Community.
Kini, Lubi.co beroperasi di Jalan Pangeran Tirtayasa Nomor 200, Sukabumi Indah, Kecamatan Sukabumi, Kota Bandar Lampung.
Perjalanan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas ruang bagi pemuda berkebutuhan khusus agar tidak hanya dipandang sebagai kelompok yang membutuhkan bantuan, tetapi juga sebagai individu yang memiliki potensi untuk bekerja dan berkembang.
Bukan Menyamakan Kemampuan, tetapi Memberikan Kesempatan
Memberikan kesempatan kerja kepada penyandang disabilitas membutuhkan pendekatan yang memperhatikan kebutuhan setiap individu. Lingkungan kerja inklusif tidak selalu berarti menerapkan metode yang sama kepada semua pekerja, melainkan menyediakan dukungan yang memungkinkan setiap orang menjalankan tugasnya.
Theo menjelaskan, pelatihan di Lubi.co dilakukan dengan menyesuaikan karakter dan kemampuan masing-masing pekerja.
Adit, misalnya, merupakan pemuda dengan kebutuhan khusus intelektual yang membutuhkan latihan berulang agar terbiasa menjalankan tugas operasional kafe.
Sementara itu, pekerja tuli dibantu melalui instruksi tertulis untuk memudahkan mereka memahami informasi dan arahan pekerjaan.
“Setiap anak memiliki keunikan tersendiri. Ada yang perlu berlatih secara repetitif agar terbiasa, dan teman-teman tuli sangat terbantu dengan visualisasi instruksi tertulis,” kata Theo.
Pendekatan tersebut memperlihatkan pentingnya dukungan yang sesuai dalam membangun lingkungan kerja yang terbuka bagi penyandang disabilitas.
Kesempatan untuk bekerja perlu diiringi dengan metode pelatihan, komunikasi, dan fasilitas yang mendukung. Dengan demikian, pekerja dapat mengembangkan kemampuan sekaligus menjalankan tanggung jawab sesuai kapasitasnya.
Menghidupkan Semangat Sumpah Pemuda Melalui Kesetaraan
Peringatan Hari Sumpah Pemuda setiap 28 Oktober menjadi pengingat bahwa persatuan tidak berhenti pada perbedaan suku, bahasa, dan latar belakang. Semangat tersebut juga dapat diwujudkan melalui penerimaan terhadap keberagaman kemampuan serta pembukaan akses yang setara bagi seluruh generasi muda.
Bagi Lubi.co, upaya menghadirkan ruang kerja inklusif diharapkan tidak berhenti pada lingkungan kafenya. Pengalaman tersebut diharapkan mendorong lebih banyak perusahaan dan pelaku usaha di Lampung untuk memberikan kesempatan kepada penyandang disabilitas.
Theo menilai, perusahaan perlu mulai memahami kebutuhan tenaga kerja berkebutuhan khusus, termasuk dalam penyediaan fasilitas dan akses komunikasi.
Salah satu dukungan yang dapat diberikan ialah menghadirkan fasilitator bahasa isyarat bagi pekerja yang membutuhkan, sehingga komunikasi di lingkungan kerja dapat berlangsung lebih efektif.
“Kami berharap momentum Sumpah Pemuda di bulan Oktober ini menginspirasi lebih banyak perusahaan untuk mau belajar memahami kebutuhan mereka. Dengan dukungan sarana yang tepat, kesempatan kerja bagi pemuda berkebutuhan khusus akan terbuka semakin lebar. Setiap pemuda Indonesia punya hak yang sama untuk berkontribusi bagi bangsa,” ujarnya.
Selain membuka ruang kerja bagi pemuda berkebutuhan khusus, Lubi.co Cafe juga memberikan apresiasi kepada generasi muda melalui program diskon 10 persen bagi pengunjung berusia 25 tahun ke bawah dalam rangka peringatan Hari Sumpah Pemuda.
Melalui langkah tersebut, Lubi.co berharap semangat Sumpah Pemuda dapat dirasakan lebih luas, bukan sekadar sebagai peringatan sejarah, melainkan sebagai dorongan untuk membangun masyarakat yang memberikan ruang bagi setiap orang untuk tumbuh dan berkontribusi.
Sebab, semangat persatuan akan semakin bermakna ketika tidak ada pemuda yang kehilangan kesempatan untuk berkarya hanya karena kondisi disabilitas yang dimilikinya. (*)