KETIK, PALEMBANG – Bertempat di Kantor BPS Provinsi Sumatra Selatan, BPS Provinsi Sumatra Selatan, merilis berita resmi Inflasi Sumatra Selatan dipimpin oleh Kepala BPS Sumatera Selatan Moh Wahyu Yulianto, 2 November 2026.
Pada Oktober 2026, Provinsi Sumatera Selatan mengalami inflasi year on year (y-on-y) sebesar 2,87 persen. Hal ini menunjukkan bahwa harga rata-rata barang dan jasa di provinsi ini meningkat dibandingkan dengan Oktober 2025.
Indeks Harga Konsumen (IHK) untuk bulan Oktober 2026 tercatat sebesar 112,70. Angka ini mencerminkan kenaikan harga yang terjadi di berbagai sektor.
Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Muara Enim, dengan angka inflasi mencapai 3,46 persen dan IHK sebesar 114,99. Kenaikan ini dipicu oleh gangguan pasokan barang yang disebabkan oleh fenomena El Nino.
Sebaliknya, inflasi terendah tercatat di Kota Palembang, dengan angka inflasi sebesar 2,69 persen dan IHK 111,95. Hal ini disebabkan oleh pasokan impor yang melimpah, yang berhasil menekan laju inflasi.
Baca Juga:
BPS Sumsel: Ekonomi Mulai Menguat, Ekspor hingga Aktivitas Pelabuhan Tumbuh pada Paruh Kedua 2026Dari sisi inflasi month to month (m-to-m), Provinsi Sumsel mencatat inflasi sebesar 0,44 persen. Kenaikan ini terutama disebabkan oleh peningkatan harga cabai merah dan beras.
Inflasi year to date (y-to-d) untuk periode Januari hingga Oktober 2026 mencapai 2,34 persen. Ini menunjukkan bahwa inflasi secara kumulatif di tahun ini masih dalam batas yang terkendali.
Meskipun luas panen tanaman pangan di Sumsel mengalami peningkatan sebesar 16.450 hektar atau 2,93 persen, harga tetap terpengaruh oleh faktor eksternal.
Penurunan luas panen di Jawa, yang mencapai 37.868 hektar, berkontribusi pada kenaikan harga nasional, sehingga mempengaruhi kondisi pasar di Sumsel.
Baca Juga:
Rapat Karhutla di Palembang, Prabowo Siap Terjunkan 1.000 Perwira TNI-PolriNTP (Nilai Tukar Petani) Tanaman Pangan di Sumsel justru mengalami kenaikan sebesar 9,24 persen, menunjukkan bahwa pendapatan petani meningkat meskipun ada tekanan harga.
Faktor-faktor yang mempengaruhi inflasi di Sumsel sangat kompleks, termasuk kondisi cuaca, pasokan barang, dan perubahan permintaan di pasar.
BPS terus memantau perkembangan inflasi dan faktor-faktor yang mempengaruhinya untuk memberikan informasi yang akurat kepada masyarakat dan pengambil kebijakan.
Dengan data ini, diharapkan masyarakat dapat memahami dinamika inflasi di Provinsi Sumsel dan mengambil langkah yang tepat dalam menghadapi perubahan harga di pasar. (*)