KETIK, MALANG – Universitas Islam Malang (Unisma) menghadirkan Wakil Rais Aam PBNU, KH Afifuddin Muhajir di momen peringatan Hari Santri 2026. Dalam kuliah tamu tersebut, membahas topik menarik bertajuk Islam, Negara, dan Syariat Agama.

Direktur Pascasarjana Unisma, Masud Said menjelaskan penting untuk mengerti bagaimana mengimplementasikan syariat keislaman dalam hidup bernegara.

Dengan menghadrikan KH Afifuddin Muhajir, ia berharap pengetahuan dan spiritualitas mahasiswa dan sivitas akademika Unisma dapat semakin meningkat.

"Tema ini kami angkat karena negara ini harus tambah jelas juntrungannya. Termasuk Islam dan syariat Islam itu bagaimana implementasinya karena semakin ke sini Allah kasih banyak tantangan dan juga rezeki," ujarnya, Jumat, 30 Oktober 2026.

Wakil Rektor III Unisma, Muhammad Yunus menjelaskan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah terus dijadikan sebagai metodologi berfikir.

Baca Juga:
Gelar Kuliah Tamu Internasional, UNT Al-Muafa Sampang Bahas Tantangan AI dan Robotika

Nilai-nilai yang diusung meliputi sikap tawasuth (moderat), tasamuh (toleransi), tawazun (seimbang), dan i'tidal (adil), serta mengamalkan prinsip amar ma'ruf nahi mungkar. Setiap santri maupun mahasiswa Unisma dituntut untuk mengembangkan kesadaran beragama, bermasyarakat, dan bernegara.

"Penting untuk kita bagaimana terus memperjuangkan negara, menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia di tengah-tengah persaingan global yang luar biasa pada hari ini," ujarnya.

Menurutnya penting menyerap pemahaman ilmu fikih yang dimiliki ulama agar dapat memperkuat pemahaman keagamaan serta menumbuhkan semangat menjaga NKRI.

Terlebih antara agama dan juga negara memiliki tujuan yang berkaitan, yakni menjamin kesejahteraan rakyat hingga menjaga umat memperoleh keselamatan dunia dan akhirat.

Baca Juga:
Mahasiswa FISIP UB Bersiap! Kuliah Tamu Legislatif Master Class Digelar Besok, Hadirkan Anggota DPR RI Viktor Bungtilu Laiskodat

"Keduanya memiliki tujuan yang sama, yakni bagaimana menjaga masyarakatnya, negara berkewajiban untuk menjaga rakyatnya, menjaga kesejahteraan rakyatnya dan serta melindungi hukum. Agama memiliki tujuan juga untuk menjaga umatnya untuk selamat dunia dan akhirat," ungkapnya.

Dalam ceramahnya, KH Afifuddin Muhajir turut menjelaskan penetapan Hari Santri sebagai pengakuan dari negara terhadap peran para kiai dan santri dalam kemerdekaan Indonesia.

Hal tersebut tercermin dalam Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 yang terus menyebar melalui masjid maupun pesantren hingga muncullah peristiwa Pertempuran 10 November 1945.

"Seandainya tidak ada Resolusi Jihad, tidak akan ada yang namanya peristiwa 10 November 1945. Akan tetapi, di sejarah-sejarah tidak pernah diajarkan apa yang disebut dengan Resolusi Jihad atau Kiai," ujarnya.

Dalam ajaran Islam, terdapat tiga aspek yang harus diperhatikan yakni akidah, akhlak dan juga syariat. Di dalam syariat sendiri terdapat aturan praktis terkait hubungan manusia dengan Allah SWT dan juga sesama manusia.

"Kalau yang dimaksud syariat di sini adalah akhlak, aturan-aturan praktis yang mengatur perilaku dan tingkah laku manusia, baik dalam hubungan dengan Allah taala maupun hubungan antar sesama manusia," ungkapnya. (*)