KETIK, BATU – Hujan yang mulai turun di Kota Batu pada awal November 2026 membawa perubahan kondisi cuaca setelah periode kemarau berlangsung cukup panjang. Meski demikian, seluruh wilayah belum dapat dipastikan memasuki musim penghujan berdasarkan kriteria klimatologis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Berdasarkan pantauan pada Senin, 2 Oktober 2026, hujan kembali mengguyur Kota Batu sejak dini hari hingga menjelang siang. Intensitasnya bervariasi, mulai ringan, sedang, hingga sesekali cukup deras.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu, Suwoko, menjelaskan bahwa penentuan awal musim hujan harus didasarkan pada prakiraan dan indikator klimatologis yang ditetapkan BMKG.

Karena itu, hujan yang turun dalam beberapa hari terakhir belum dapat dijadikan satu-satunya acuan untuk menyimpulkan perubahan musim.

Berdasarkan dokumen Rilis Prediksi Musim Hujan 2026/2027 Provinsi Jawa Timur yang diterbitkan BMKG Stasiun Klimatologi Kelas I Jawa Timur pada September 2026, hingga 2 November 2026 seluruh wilayah Kota Batu belum dapat dinyatakan telah memasuki musim penghujan.

Baca Juga:
Kejari Batu Terima Pelimpahan Kasus BPR DCN Malang dari OJK, Dua Direksi Terseret Dugaan Kredit Fiktif Miliaran

“Penentuan awal musim hujan harus mengacu pada prediksi dan kriteria klimatologis yang dikeluarkan BMKG, bukan hanya berdasarkan hujan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir,” jelas Suwoko, pada Senin, 2 November 2026.

Meski demikian, sejumlah wilayah di Jawa Timur memang diprakirakan mulai mengalami musim hujan pada November 2026. Sementara itu, secara nasional, BMKG memperkirakan awal musim hujan 2026/2027 di sebagian besar wilayah Indonesia berlangsung pada November hingga Desember, dengan waktu yang berbeda-beda di setiap daerah.

Perkembangan cuaca tersebut menjadi perhatian setelah luapan air terjadi di sejumlah kawasan Kota Batu pada Rabu, 28 Oktober 2026.

Sehari setelah kejadian, Wali Kota Batu, Nurochman, meninjau empat lokasi terdampak luapan air dan longsor untuk melihat kondisi infrastruktur sekaligus dampaknya terhadap masyarakat.

Baca Juga:
Pertama di Indonesia! Kota Batu Tuan Rumah Indovex 2026, Perluas Jaringan Ekonomi Desa

Dalam peninjauan pada Kamis, 29 Oktober 2026, Nurochman memastikan perbaikan awal pada bagian plengsengan yang ambrol akan mulai dikerjakan pada pekan tersebut. Ia didampingi Sekretaris Daerah Kota Batu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR), serta Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH).

Empat titik yang dikunjungi meliputi Jalan Mangga di Desa Oro-Oro Ombo, Dusun Krajan Lor di Desa Tlekung, Dusun Junwatu di Desa Junrejo, dan Jalan Diponegoro di Desa Mojorejo.

Dari hasil peninjauan, luapan air dan kerusakan infrastruktur dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk tumpukan sampah yang menyumbat saluran drainase serta meningkatnya debit air saat hujan deras.

Kondisi tersebut menyebabkan air meluber ke jalan dan berdampak pada sejumlah bangunan maupun properti milik warga.

“Kita fokus ini dulu, hujan pertama dengan kemarau agak panjang kemarin, akhirnya banyak sampah yang tercecer, kemudian terbawa arus air yang lumayan deras, akhirnya ada sumbatan di beberapa titik yang menyebabkan luapan air ke jalan,” ujar Cak Nur, sapaan akrabnya. (*)