KETIK, PALEMBANG – Kenaikan harga sagu di Kota Palembang mulai dirasakan masyarakat dan pelaku usaha kuliner. Terbatasnya stok dari distributor menjadi salah satu penyebab naiknya harga bahan baku tersebut, yang berdampak pada daya beli masyarakat hingga keuntungan pedagang.

Berdasarkan pantauan di pasaran, sejumlah jenis sagu mengalami kenaikan harga. Sagu Tani kemasan 500 gram yang sebelumnya dijual Rp9.000 kini menjadi Rp11.000.

Sementara itu, Sagu Cap Udang naik dari Rp20.000 menjadi Rp22.000 per kilogram. Sagu Cap Tani curah mengalami kenaikan dari Rp10.000 menjadi Rp13.000 per kilogram.

Adapun sagu curah merek Srikandi meningkat dari Rp13.000 menjadi Rp18.000 per kilogram.

Kenaikan harga tersebut turut dirasakan para pedagang kuliner, khususnya penjual pempek dan model yang menggunakan sagu sebagai salah satu bahan baku utama.

Baca Juga:
Survei IPO: 58 Persen Warga Kesulitan Penuhi Kebutuhan Pokok, Harga Sembako Jadi Keluhan Utama

Ditemui di Pasar Tradisional Kilometer 5 Palembang, 3 Oktober 2026, pedagang kuliner model, Erwin, mengatakan kenaikan harga sagu berdampak langsung terhadap modal usaha dan keuntungan yang diperolehnya.

“Sekarang harga sagu naik, jadi modal untuk membuat model juga ikut bertambah. Sementara itu, kami harus tetap berjualan dengan mempertimbangkan daya beli masyarakat,” ujar Erwin.

Erwin, salah satu pedagang kuliner (model) pasar km 5 Palembang 3 November 2026 (Foto: Septi N/Ketik.com)

Menurut Erwin, kenaikan harga sagu mulai terjadi sejak sekitar sepekan terakhir. Kondisi tersebut membuat para pedagang kuliner harus menghadapi tantangan dalam mempertahankan keuntungan usaha.

Baca Juga:
Mendag Budi Santoso Sidak Pasar Potrojayan Sleman, Pastikan Harga Pangan Stabil dan Pasokan Aman

“Kalau harga bahan baku naik, keuntungan kami tentu berkurang. Kami berharap harga sagu bisa kembali stabil agar usaha kuliner tetap berjalan,” katanya.

Kenaikan harga sagu juga berdampak terhadap pola belanja masyarakat. Konsumen yang sebelumnya membeli dalam jumlah banyak kini cenderung mengurangi pembelian untuk menyesuaikan pengeluaran.

Terbatasnya pasokan dari distributor dinilai menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga. Kondisi ini membuat pedagang berharap adanya perhatian dari pemerintah untuk menjaga ketersediaan stok dan kestabilan harga bahan pangan.

Para pedagang berharap pemerintah dapat mengambil langkah untuk mengatasi persoalan pasokan sagu agar harga kembali terkendali. Dengan demikian, daya beli masyarakat dapat terjaga dan keberlangsungan usaha kuliner di Kota Palembang tetap berjalan.

Kenaikan harga sagu ini menjadi perhatian tersendiri bagi masyarakat dan pelaku usaha, mengingat sagu merupakan salah satu bahan baku penting dalam berbagai kuliner khas Palembang.(*)