Ekonomi Bondowoso Melaju 5,83 Persen, Lampaui Jatim dan Nasional

9 September 2026 16:20 9 Sep 2026 16:20

Haryono, Muhammad Faizin

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Ekonomi Bondowoso Melaju 5,83 Persen, Lampaui Jatim dan Nasional

Perekonomian Kabupaten Bondowoso menunjukkan akselerasi signifikan sepanjang triwulan II 2026. Pertumbuhan ekonomi daerah mencapai 5,83 persen secara tahunan (year on year/yoy), meningkat dibandingkan capaian triwulan I Foto: Humas Bank Indonesia for Ketik.com

KETIK, BONDOWOSO – Perekonomian Kabupaten Bondowoso menunjukkan akselerasi signifikan sepanjang triwulan II 2026. Pertumbuhan ekonomi daerah mencapai 5,83 persen secara tahunan (year on year/yoy), meningkat dibandingkan capaian triwulan I yang berada di angka 5,42 persen.

Capaian tersebut bahkan berhasil melampaui pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang tercatat 5,72 persen dan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen.

Kinerja ini menjadi sinyal positif bagi perekonomian Bondowoso. Sejumlah sektor utama bergerak lebih kuat, terutama pertanian, industri pengolahan dan perdagangan.

Di sektor pertanian, penguatan terjadi seiring masuknya periode panen berbagai komoditas perkebunan unggulan. Produksi kopi arabika dan robusta, hortikultura, serta ketersediaan bahan pangan lokal menjadi salah satu penopang meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat.

Kenaikan produksi bahan baku tersebut kemudian memberi efek lanjutan terhadap industri pengolahan. Aktivitas pengolahan kopi, produksi makanan dan minuman lokal hingga pemrosesan hasil kayu mengalami peningkatan karena ditopang pasokan bahan baku pascapanen yang lebih besar.

Geliat ekonomi juga terlihat dari sektor perdagangan. Mobilitas masyarakat selama masa libur sekolah, distribusi hasil panen serta meningkatnya kebutuhan bahan pokok ikut mendorong transaksi perdagangan. Aktivitas jasa, termasuk perawatan kendaraan yang menunjang kegiatan pertanian, turut mengalami peningkatan.

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Bondowoso juga mendapat dorongan dari meningkatnya Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB). Investasi fisik swasta, pembangunan fasilitas pengolahan komoditas perkebunan serta modernisasi peralatan pertanian menjadi bagian dari aktivitas yang mendorong pembentukan modal.

Konsumsi pemerintah turut menguat seiring percepatan penyerapan APBD dan pelaksanaan program kerja daerah. Belanja operasional pemerintahan maupun pengadaan fasilitas publik ikut memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi.

Namun, konsumsi rumah tangga justru mengalami perlambatan. Kondisi ini dinilai sebagai dampak normalisasi pengeluaran masyarakat setelah tingginya konsumsi selama Ramadan dan Idulfitri pada triwulan sebelumnya.

Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid menyambut positif capaian tersebut. Menurutnya, pertumbuhan 5,83 persen menunjukkan bahwa roda perekonomian daerah bergerak semakin kuat.

“Ini tentu menjadi kabar baik bagi Bondowoso. Pertumbuhan ekonomi 5,83 persen menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi masyarakat, dunia usaha, sektor pertanian, perdagangan maupun industri pengolahan terus bergerak. Bahkan capaian kita berada di atas pertumbuhan Jawa Timur dan nasional,” kata Abdul Hamid Wahid.

Meski demikian, Bupati mengingatkan agar capaian tersebut tidak berhenti sebagai angka statistik. Pertumbuhan ekonomi harus diterjemahkan menjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat, pendapatan, kesempatan kerja dan penguatan pelaku usaha lokal.

“Yang paling penting bukan hanya bagaimana angka pertumbuhan itu naik, tetapi bagaimana pertumbuhan tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, kita akan terus mendorong hilirisasi, memperkuat UMKM, membuka ruang investasi, serta mengembangkan potensi pertanian, perkebunan, pariwisata dan ekonomi kreatif,” tegasnya.

Salah satu sektor yang menjadi perhatian adalah komoditas kopi. Bondowoso dinilai memiliki modal kuat untuk mengembangkan kopi tidak hanya sebagai komoditas perkebunan, tetapi juga sebagai produk industri bernilai tambah.

“Kopi adalah salah satu kekuatan Bondowoso. Kita ingin petani tidak hanya menjual hasil panen, tetapi juga mendapatkan manfaat lebih besar dari proses pengolahan, branding, pemasaran hingga akses pasar yang lebih luas. Begitu juga dengan hortikultura dan komoditas unggulan lainnya,” ujarnya.

Pemerintah daerah juga diarahkan untuk memperkuat hilirisasi agroindustri. Pengolahan kopi dan hortikultura pascapanen, sertifikasi produk untuk menembus pasar ekspor serta kemitraan UMKM dengan jaringan ritel modern menjadi sejumlah langkah yang dapat meningkatkan nilai tambah ekonomi lokal.

Di sisi lain, sektor pariwisata dan agrowisata juga dipandang memiliki potensi besar untuk menciptakan efek ekonomi berantai. Integrasi destinasi alam dengan sentra perkebunan kopi, termasuk kawasan Ijen Geopark, diharapkan dapat memperluas peluang ekonomi masyarakat.

“Momentum pertumbuhan ini harus kita jaga bersama. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Dibutuhkan kolaborasi dengan masyarakat, pelaku usaha, petani, UMKM, dunia pendidikan, perbankan dan seluruh pemangku kepentingan,” kata Abdul Hamid.

Menurutnya, percepatan investasi juga perlu dibarengi dengan penyederhanaan perizinan dan promosi potensi daerah. Investasi diarahkan terutama pada sektor pengolahan hasil pertanian dan perkebunan yang memiliki potensi menciptakan lapangan kerja sekaligus meningkatkan nilai tambah produk lokal.

Selain pertumbuhan, pemerintah juga harus menjaga stabilitas harga dan ketahanan pangan. Penguatan kerja sama antardaerah, digitalisasi rantai pasok pangan serta dukungan terhadap sektor pertanian menjadi bagian penting agar pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.

“Target akhirnya adalah pertumbuhan ekonomi yang berkualitas, inklusif dan berkelanjutan. Artinya, pertumbuhan harus membuka lebih banyak kesempatan, memperkuat usaha masyarakat dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan warga Bondowoso,” pungkasnya. (*) 

Tombol Google News

Tags:

Bank Indonesia (bi) Pertumbuhan Ekonomi Daerah Pemkab Bondowoso kabar bondowoso info bondowoso Bondowoso Berkah Ekonomi Melaju Pesat