UNUJA Dorong Recovery Flores Berbasis Ekonomi, Vokasi, dan Teknologi

22 September 2026 11:40 22 Sep 2026 11:40

Haryono, Rahmat Rifadin

Redaksi Ketik.com
Thumbnail UNUJA Dorong Recovery Flores Berbasis Ekonomi, Vokasi, dan Teknologi

Pascasarjana Universitas Nurul Jadid (UNUJA) bersama WIZSTREN Indonesia mendorong model recovery yang tidak berhenti pada penyaluran bantuan darurat. (Foto: Haryono/Ketik.com)

KETIK, BONDOWOSO – Pemulihan masyarakat terdampak bencana di Flores, Nusa Tenggara Timur, mulai diarahkan ke tahap yang lebih panjang: membangun kembali kemampuan ekonomi dan sumber daya manusia warga.

Pascasarjana Universitas Nurul Jadid (UNUJA) bersama WIZSTREN Indonesia mendorong model recovery yang tidak berhenti pada penyaluran bantuan darurat. Pendekatan yang dikembangkan menempatkan pemberdayaan, penguatan ekonomi lokal, penyediaan akses air bersih, serta pendidikan vokasional berbasis digital sebagai bagian dari pemulihan berkelanjutan.

Asesmen lapangan dilakukan sejak 19 September 2026 oleh Direktur Eksekutif WIZSTREN sekaligus Dosen Pascasarjana UNUJA, Dr. Robert Edy Sudawan, M.Pd., bersama relawan lokal.

Dari asesmen tersebut, sedikitnya tiga kebutuhan utama teridentifikasi, yakni penguatan ekonomi masyarakat, akses air bersih, serta pendidikan vokasional yang terintegrasi dengan keterampilan digital.

Salah satu lokasi yang menjadi perhatian berada di Routing, Manggarai. Di wilayah tersebut terdapat sekitar 12 hektare lahan produktif yang berpotensi dikembangkan untuk pertanian jagung.

Tim mengkaji kemungkinan dukungan pembiayaan melalui skema Qardhul Hasan dan/atau Wakaf Produktif. Skema tersebut diarahkan agar lahan pertanian tidak sekadar kembali produktif, tetapi dapat menjadi basis pendapatan masyarakat dalam jangka panjang.

Persoalan berbeda ditemukan di Golo Sepang, Manggarai Barat. Keterbatasan air tawar dan kondisi air sumur yang asin menjadi salah satu tantangan utama warga. Karena itu, tim melakukan asesmen terhadap kemungkinan penerapan teknologi penyulingan atau desalinasi sebagai bagian dari solusi pemulihan jangka panjang.

Namun, bagi Pascasarjana UNUJA, pembangunan kembali tidak cukup hanya dengan memulihkan sarana dan memenuhi kebutuhan dasar. Kapasitas manusia menjadi salah satu kunci agar masyarakat mampu melanjutkan proses pemulihan secara mandiri.

Foto

Pendidikan vokasional dirancang untuk membekali warga dengan keterampilan yang sesuai dengan potensi lokal. Bidangnya dapat mencakup pertanian, pengolahan hasil, kewirausahaan, hingga pengelolaan usaha.

Keterampilan tersebut kemudian diperkuat dengan literasi dan kemampuan digital.

Masyarakat tidak hanya diarahkan untuk mampu menghasilkan produk, tetapi juga memahami bagaimana mengemas, memasarkan, menjual, dan mengembangkan produk melalui pemanfaatan teknologi digital.

Direktur Pascasarjana UNUJA, Dr. H. Akmal Mundiri, M.Pd., menyebut pendekatan tersebut sebagai bagian dari implementasi nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi.

“Perguruan tinggi tidak boleh berhenti di ruang kelas. Ilmu pengetahuan harus hadir, menyentuh persoalan nyata, dan memberikan manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Itulah esensi Tri Dharma Perguruan Tinggi.”

Menurut Akmal, recovery seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai proses mengembalikan kondisi masyarakat seperti sebelum bencana. Pemulihan juga perlu menjadi momentum untuk membangun kemampuan baru agar masyarakat lebih siap menghadapi tantangan ekonomi setelah bencana.

“Kita tidak ingin berhenti pada bantuan sesaat. Masyarakat harus dibekali keterampilan, literasi digital, dan kemampuan mengembangkan potensi ekonomi lokal agar mampu bangkit dan mandiri.”

Pandangan serupa disampaikan Robert Edy Sudawan. Menurutnya, bantuan sosial tetap penting sebagai respons awal terhadap kondisi masyarakat terdampak, tetapi pemberdayaan harus menjadi tujuan berikutnya.

“Bantuan sosial adalah pintu masuk. Tujuan akhirnya adalah pemberdayaan. Ketika masyarakat memiliki keterampilan, akses teknologi, dan kemampuan mengembangkan usaha, maka bantuan telah berubah menjadi jalan menuju kemandirian.”

Sementara itu, Ketua Dewan Pengurus WIZSTREN, GSCB KH. Reza Fahlipi Bahtiar, Ph.D., menekankan pentingnya memastikan program recovery memiliki kesinambungan sekaligus dampak yang dapat diukur.

WIZSTREN, kata dia, membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari perguruan tinggi, lembaga filantropi, dunia usaha, lembaga pendidikan vokasi, komunitas, donatur, hingga mitra strategis lainnya untuk mendukung proses pemulihan di Flores.

Pendekatan tersebut menempatkan masyarakat bukan semata sebagai penerima bantuan, melainkan sebagai subjek utama dalam proses pemulihan.

Target akhirnya bukan sekadar membuat masyarakat mampu bertahan setelah bencana, tetapi mendorong mereka kembali produktif dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki.

Dari bantuan menuju pemberdayaan. Dari keterampilan menuju produktivitas. Dari teknologi menuju kemandirian. (*)

Tombol Google News

Tags:

Wizstren UNUJA Paiton Probolinggo Bencana Di Flores