KETIK, BLITAR – Sebuah nama bisa lahir dari banyak hal. Ada yang dipilih karena terdengar menjual, ada pula yang lahir dari kebiasaan sederhana yang kemudian melekat begitu saja.
Begitu pula dengan Kopi Jos Jiz.
Di balik nama yang terdengar unik itu, terselip cerita tentang sosok yang cukup akrab bagi masyarakat Blitar dan Jawa Timur, yakni pendakwah Gus Iqdam.
Komisaris Utama Kopi Jos Jiz yang juga Wakil Bupati Blitar, Beky Herdihansah, mengungkapkan bahwa nama tersebut terinspirasi dari ungkapan “Jos Jiz” yang kerap dilontarkan Gus Iqdam ketika mengaji.
“Kenapa namanya Jos Jiz? Karena dari dulu saya memperhatikan sahabat saya Gus Iqdam yang merupakan salah satu komisaris di PT Sapujagat Internasional, sering mengatakan ‘Jos Jiz-Jos Jiz’ sewaktu mengaji,” ujar Beky,
Namun Beky buru-buru memberikan penegasan dengan nada bercanda ketika menjelaskan nama tersebut.
“Ini Kopi Jos Jiz lho ya, bukan Brazco,” tegasnya sembari terkekeh, merujuk pada merek kopi milik pelawak Cak Percil.
Candaan itu mengundang suasana cair dalam momentum peluncuran Kopi Jos Jiz.
Di balik tawa tersebut, tersimpan ambisi yang jauh lebih serius.
Kopi Jos Jiz tidak ingin berhenti sebagai produk minuman baru yang sekadar menambah panjang daftar merek kopi di pasaran.
Produk ini diproyeksikan menjadi bagian dari upaya mengangkat potensi kopi lokal Kabupaten Blitar sekaligus membuka ruang ekonomi baru bagi masyarakat.
Dalam sambutannya, Beky menegaskan bahwa peluncuran Kopi Jos Jiz merupakan bagian dari ikhtiar membangun usaha yang memiliki manfaat lebih luas.
“Launching ini bukan sekadar memperkenalkan sebuah produk kopi, tetapi juga menjadi bagian dari ikhtiar kami untuk mengangkat potensi kopi lokal Kabupaten Blitar,” kata Beky.
Menurutnya, Blitar memiliki kekayaan hasil pertanian dan perkebunan yang luar biasa, termasuk komoditas kopi yang memiliki karakter rasa khas dan layak dibawa ke pasar yang lebih luas.
Karena itu, Kopi Jos Jiz ingin mengambil peran bukan hanya sebagai pelaku bisnis, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem yang menghubungkan produk, petani, UMKM, hingga generasi muda.
“Kami ingin menghadirkan produk yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat,” tuturnya.
Beky berharap keberadaan Kopi Jos Jiz dapat membuka peluang kerja, memberdayakan petani kopi, mendukung pelaku UMKM, sekaligus mendorong generasi muda Blitar agar semakin produktif dan mandiri secara ekonomi.
Bagi Blitar, peluang itu sebenarnya sudah tersedia di depan mata.
Data yang disampaikan Bupati Blitar Rijanto menunjukkan, pada 2025 luas panen kopi di sejumlah wilayah sentra seperti Gandusari, Garum, Selopuro, Doko, dan Wlingi mencapai 2.399 hektare dengan produksi mencapai 1.886 ton green bean.
Angka tersebut menunjukkan bahwa kopi bukan barang baru bagi masyarakat Blitar.
Yang menjadi pekerjaan berikutnya adalah bagaimana hasil kebun itu tidak berhenti sebagai komoditas mentah.
“Potensi ini harus terus kita dorong agar tidak hanya berhenti pada hasil panen, tetapi juga berkembang pada pengolahan, branding, pemasaran, hingga lahirnya kedai-kedai kopi dan industri kreatif berbasis kopi,” ujar Rijanto.
Rijanto pun menyambut positif lahirnya Kopi Jos Jiz sebagai salah satu pemain baru yang mencoba mengambil peluang tersebut.
Menurutnya, keberanian membangun usaha berbasis produk lokal merupakan bagian penting dalam memperkuat ekonomi daerah.
Terlebih, kopi saat ini telah mengalami pergeseran makna di tengah generasi muda.
Secangkir kopi tidak lagi sebatas minuman untuk mengusir kantuk.
Kedai kopi telah berubah menjadi ruang bertemu, berdiskusi, bekerja, belajar, berkarya, hingga membangun jejaring bisnis.
Profesi seperti barista, kreator konten kopi, roaster, hingga pengelola kedai pun tumbuh menjadi bagian dari ekosistem ekonomi kreatif.
“Ini adalah peluang ekonomi baru yang harus kita tangkap bersama,” kata Rijanto.
Karena itu, ia berharap Kopi Jos Jiz tidak hanya menjual secangkir kopi kepada konsumen.
Lebih jauh, produk tersebut diharapkan mampu menjadi salah satu penggerak ekosistem kopi di Kabupaten Blitar.
“Bukan hanya menjual secangkir kopi, tetapi juga menghadirkan kebanggaan terhadap kopi lokal Blitar, menciptakan lapangan pekerjaan, dan menumbuhkan semangat kewirausahaan di kalangan anak muda,” tegasnya.
Harapan serupa disampaikan Beky.
Ia ingin Kopi Jos Jiz suatu hari tidak hanya dikenal di Kabupaten Blitar, tetapi mampu menembus pasar regional hingga nasional.
Bahkan, mimpi yang dibangun bukan semata-mata soal seberapa banyak kopi terjual, melainkan seberapa besar keberadaan produk tersebut mampu menciptakan efek berantai bagi masyarakat.
“Harapan kami ke depan, Kopi Jos Jiz tidak hanya dikenal di Kabupaten Blitar, tetapi juga mampu menjadi kebanggaan Blitar di tingkat regional maupun nasional,” ungkap Beky.
Bagi dia, semakin banyak produk lokal Blitar yang tumbuh, semakin besar pula peluang terciptanya lapangan pekerjaan dan menguatnya perekonomian masyarakat.
Di titik itulah Kopi Jos Jiz mencoba menempatkan dirinya.
Bukan sekadar kopi yang diseduh, tetapi sebuah usaha yang ingin menyeduh potensi Blitar menjadi kekuatan ekonomi baru.
Pemerintah Kabupaten Blitar pun menyatakan dukungannya terhadap tumbuhnya usaha kreatif dan produktif berbasis potensi lokal.
Rijanto berharap Kopi Jos Jiz mampu berkembang menjadi salah satu ikon kopi kebanggaan Kabupaten Blitar, sekaligus menyerap lebih banyak tenaga kerja.
“Saya mendoakan semoga usaha ini semakin maju, semakin dikenal luas, semakin banyak menyerap tenaga kerja, dan mampu menjadi salah satu ikon kopi kebanggaan Kabupaten Blitar,” ujar Rijanto.
Sementara bagi Beky, perjalanan tersebut tentu tidak akan selalu mudah.
Karena itu, ia meminta doa dan dukungan seluruh pihak agar Kopi Jos Jiz dapat tumbuh dan berkembang sekaligus membawa keberkahan.
Sebab pada akhirnya, cerita tentang Kopi Jos Jiz bukan hanya tentang bagaimana biji kopi Blitar diseduh menjadi secangkir minuman.
Ia juga tentang bagaimana potensi yang selama ini tumbuh di lereng-lereng kebun bisa memiliki jalan lebih panjang menuju pasar.
Dan dari secangkir kopi itulah, sebuah mimpi tentang Blitar yang lebih berdaya mulai diracik.
