KETIK, SURABAYA – Kadin Institute resmi menandatangani Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dengan Handwerkskammer Dortmund dan Industrie- und Handelskammer Trier. Penandatanganan yang berlangsung di Surabaya pada Kamis, 26 Februari 2026 ini menjadi langkah konkret untuk memperluas peluang pendidikan dan pelatihan vokasi berbasis sistem ganda (Ausbildung) bagi generasi muda Indonesia di Jerman.
Managing Director of Vocational Education and Training Center HWK Dortmund, Tobias Schmidt, menilai kerja sama ini sebagai langkah yang strategis untuk mengembangkan talenta lintas negara.
“Penandatanganan Nota Kesepahaman ini merupakan tonggak penting dan mencerminkan komitmen bersama kita untuk mengembangkan jalur yang kuat dan inovatif bagi talenta muda antara Indonesia dan Jerman. Ini adalah momen yang patut kita rayakan,” ujarnya.
Meski demikian, Tobias menegaskan bahwa kesuksesan kemitraan tidak berhenti pada penandatanganan dokumen. “Nilai dan dampak sesungguhnya hanya akan terwujud melalui komitmen berkelanjutan, kolaborasi aktif, serta tindak lanjut yang nyata,” tegasnya.
Ia mengungkapkan bahwa Jerman saat ini menghadapi kekurangan tenaga kerja profesional di sektor skilled crafts, terutama di bidang plumbing, sanitasi, konstruksi, elektrisi, dan keahlian teknis lainnya. Tantangan terbesar dalam program pemagangan internasional, menurutnya, terletak pada penguasaan bahasa Jerman.
“Kemampuan bahasa minimal B1, dan idealnya B2, menjadi prasyarat penting. Namun, motivasi dan kemauan untuk berintegrasi juga sangat menentukan,” jelas Tobias.
Managing Director IHK Trier, Ulrich Schneider, menyampaikan bahwa wilayah Trier juga mengalami kekurangan tenaga kerja yang cukup serius, khususnya di sektor pariwisata dan hospitalitas.
“Sebagai kota tertua di Jerman dan destinasi wisata utama, Trier sangat bergantung pada sektor pariwisata. Namun saat ini, hotel, restoran, dan sektor layanan kesulitan mencari tenaga profesional,” ujarnya.
Ulrich menekankan bahwa fokus kerja sama ini bukan sekadar jumlah peserta, melainkan keberlanjutan dan kualitas program. “Kami ingin membangun proyek yang berstandar jelas dan mempersiapkan generasi muda agar benar-benar siap menghadapi dunia kerja di Jerman,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa jalur utama dalam kerja sama ini adalah sistem pelatihan kerja ganda (dual vocational training system). “Peserta harus memiliki kemampuan bahasa minimal B1, namun dalam praktiknya perlu dipersiapkan hingga B2, serta memiliki kontrak pendidikan dengan perusahaan sebelum mengajukan visa,” tambah Ulrich.
Dari sisi fasilitasi, Pengurus Proyek Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ), Niklas Cramer, menjelaskan bahwa peserta Indonesia di Jerman dilindungi oleh hukum ketenagakerjaan setempat.
“Peserta Indonesia akan menerima kontrak yang sama dengan pekerja Jerman, dengan hak dan kewajiban yang setara,” ujarnya.
Niklas menambahkan bahwa dalam sistem dual Jerman terdapat pengawasan ketat dari pejabat pemerintah. “Kontrak diperiksa agar sesuai hukum, dan jika terjadi konflik, ada mekanisme resmi yang melindungi pekerja, baik Jerman maupun Indonesia,” jelasnya.
Terkait masa depan peserta, ia menegaskan bahwa para lulusan tidak diwajibkan untuk langsung kembali ke Indonesia. “Setelah kontrak pelatihan berakhir, peserta memiliki waktu sekitar 12 bulan untuk mencari pekerjaan baru di Jerman sebelum visa berakhir,” kata Niklas.
Ia juga menjelaskan bahwa peserta menerima tunjangan pelatihan sekitar 1.000 euro per bulan pada tahun pertama, yang meningkat setiap tahun selama masa pelatihan 2 hingga 3,5 tahun. “Ini bukan gaji penuh, tetapi tunjangan pelatihan. Pendidikan dilakukan melalui sistem dual, dua hari di sekolah vokasi dan tiga hari di perusahaan,” tambahnya.
Pimpinan Proyek Pusat Migrasi dan Pembangunan Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ), Makhdonal Anwar, menilai kerja sama ini sebagai bagian dari upaya perbaikan tata kelola migrasi ketenagakerjaan. “Hari ini kita tidak hanya menandatangani perjanjian, tetapi membangun fondasi mobilitas tenaga kerja yang berkualitas, aman, dan berkelanjutan dari Indonesia ke Jerman,” ujarnya.
Dukungan juga datang dari Ketua Umum Kadin Jawa Timur, Adik Dwi Putranto. “Sejak lama kami bercita-cita menjalin kerja sama langsung dengan mitra Kadin luar negeri, khususnya di bidang pendidikan dan pelatihan vokasi,” katanya.
Menurutnya, sekitar 80 persen program Kadin Jatim berfokus pada vokasi berbasis sistem ganda.
Kepala Dinas Tenaga Kerja Jawa Timur, Sigit Priyanto, menilai kerja sama ini sejalan dengan tuntutan global.
“Persaingan dunia kerja menuntut SDM dengan kompetensi nyata yang diakui internasional. Program Ausbildung adalah jawabannya,” ujarnya.
Direktur Kadin Institute, Nurul Indah Susanti, menambahkan bahwa kerja sama ini menjadi peluang strategis di tengah tantangan pengangguran nasional. “Ini sinyal sangat positif karena menghadirkan kesempatan kerja nyata bagi putra-putri Indonesia,” ujarnya.
Ia menegaskan peran Kadin Institute dalam memastikan keterkaitan pendidikan dan kebutuhan industri.
“Link and match harus nyata. Saat ini kami memiliki 17 program pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan industri Jerman, didukung sertifikasi ganda,” pungkas Nurul.(*)
