KETIK, NGANJUK – Upaya memperluas akses pendidikan sekaligus memperkuat nilai kebangsaan terus digencarkan melalui penyaluran Program Indonesia Pintar (PIP) yang dibarengi Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan.
Kegiatan ini menyasar siswa dari berbagai jenjang pendidikan serta orang tua wali murid, sebagai bagian dari strategi memastikan bantuan pendidikan tepat sasaran.
Ketua DPRD Nganjuk, Tatit Heru Tjahjono, mengatakan penyaluran PIP kali ini difokuskan kepada 94 siswa dari tingkat Ibtidaiyah (SD), Tsanawiyah (SMP), hingga Aliyah (SMA). Penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis kepada para orang tua siswa penerima.
Menurut Tatit, PIP jalur aspirasi merupakan instrumen penting untuk mencegah anak putus sekolah sekaligus memperkuat fondasi kebangsaan di tengah masyarakat.
“Kami tidak ingin ada satu pun anak yang terlewat dari bantuan PIP. Karena itu, tim turun langsung ke desa-desa, berkoordinasi dengan sekolah dan orang tua, agar data penerima benar-benar akurat,” ujar Tatit.
Ia menambahkan, pendekatan jemput bola menjadi kunci agar program bantuan pendidikan benar-benar menyentuh kelompok yang membutuhkan, terutama di wilayah pedesaan.
Selain penyaluran bantuan, kegiatan juga diisi Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan yang disampaikan Anggota Komisi IV DPR RI, Sadarestuwati pada 28 Desember 2025 di Balaidesa Karangtengah Bagor Nganjuk.
Dalam pemaparannya, Sadarestuwati menegaskan pentingnya menanamkan nilai Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI sejak dini, seiring perjuangan anak-anak dalam mengenyam pendidikan.
“Pendidikan dan nilai kebangsaan tidak bisa dipisahkan. Anak-anak kita harus tumbuh dengan semangat persatuan, toleransi, dan keadilan sosial. PIP ini kami harapkan dapat meringankan beban ekonomi keluarga, agar anak-anak bisa fokus menyelesaikan pendidikan setinggi mungkin,” kata Sadarestuwati.
Ia juga menyoroti masih adanya kesenjangan akses pendidikan di sejumlah daerah, baik di Jawa maupun luar Jawa.
Menurutnya, tantangan pemerataan pendidikan masih nyata, mulai dari keterbatasan sekolah lanjutan hingga faktor ekonomi yang memaksa anak bekerja lebih dini.
“Banyak daerah yang belum sepenuhnya menikmati pendidikan 12 tahun. Beasiswa PIP menjadi salah satu solusi agar anak-anak tidak berhenti sekolah hanya karena alasan biaya,” ujarnya.
Kegiatan serupa digelar di beberapa titik sebagai bagian dari rangkaian sosialisasi dan penyaluran PIP, dengan jumlah penerima yang ditargetkan terus bertambah. Setiap lokasi mengusung format yang sama, yakni penyaluran bantuan pendidikan disertai penguatan wawasan kebangsaan.
“Sekarang bukan zamannya wakil rakyat hanya bekerja dari balik meja. Kami harus hadir di tengah masyarakat, mendengar langsung kebutuhan mereka, dan memberi solusi konkret, salah satunya lewat pendidikan,” tegas Tatit.
Salah satu wali murid penerima PIP, Ani (40), mengaku sangat terbantu dengan bantuan tersebut. Ia mengatakan PIP meringankan biaya pendidikan anaknya yang duduk di jenjang SMP.
“Alhamdulillah, bantuan ini sangat membantu. Untuk seragam, buku, dan kebutuhan sekolah lainnya jadi lebih ringan. Saya juga senang bisa ikut sosialisasi, jadi lebih paham pentingnya persatuan dan pendidikan untuk masa depan anak,” ungkapnya.
Melalui penyaluran PIP dan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan, DPR RI dan DPRD berharap lahir generasi muda yang tidak hanya berpendidikan, tetapi juga memiliki karakter kebangsaan yang kuat sebagai bekal membangun Indonesia ke depan. (*)
