KETIK, KENDAL – Suasana Jalan Kiai Haji Asyari, Kecamatan Kaliwungu, tampak berbeda pada Minggu 15 Maret 2024 dini hari. Di tengah riuhnya tradisi ngangklang yang menjadi ciri khas masyarakat setempat setiap bulan Ramadan, terlihat penjagaan ketat dari aparat gabungan guna memastikan situasi tetap kondusif.
Tradisi ngangklang, yang merupakan aktivitas berkumpulnya warga menanti waktu subuh, mencapai puncaknya pada minggu terakhir Ramadan. Berdasarkan pantauan di lokasi sekira pukul 03.00 WIB, ribuan warga yang didominasi pemuda memadati ruas jalan utama di Kaliwungu tersebut.
Berbeda dengan minggu sebelumnya, pengamanan kali ini ditingkatkan secara signifikan. Ratusan personel gabungan yang terdiri atas unsur Polri, TNI, Forkopimcam, hingga organisasi kemasyarakatan (ormas) disiagakan di berbagai titik strategis sepanjang Jalan K.H. Asyari.
Langkah preventif ini diambil menyusul insiden pengeroyokan terhadap anggota Polri yang terjadi di lokasi yang sama pada pekan lalu. Selain itu, beberapa unggahan di media sosial mengenai aksi tawuran antarkelompok pemuda sempat meresahkan masyarakat.
Salafudin, salah seorang anggota Babinsa yang bertugas di lokasi, menegaskan bahwa kehadiran aparat adalah untuk menjamin keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
"Kali ini kami bersama ratusan anggota Polri, Forkopimcam, serta organisasi masyarakat memperketat penjagaan guna menjaga kamtibmas. Hal ini untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan," ujar Salafudin saat diwawancarai awak media di lokasi liputan.
Meski dijaga ketat, antusiasme masyarakat untuk merayakan malam Minggu terakhir pada bulan suci ini tidak surut. Ngangklang tetap menjadi magnet bagi warga Kaliwungu dan sekitarnya untuk bersosialisasi sekaligus merawat tradisi turun-temurun.
Amir, salah seorang pemuda lokal, mengaku tetap semangat datang ke Jalan K.H. Asyari bersama rekan-rekannya. Namun, ia menyayangkan adanya oknum yang menyalahgunakan momen tradisi ini untuk tindakan anarkis.
"Saya setiap menjelang subuh, pas hari malam Minggu begini, bersama teman antusias melihat tradisi ini," kata Amir.
"Memang benar, beberapa minggu kemarin ada insiden yang ramai di media sosial soal tawuran antarpemuda dan yang terakhir kemarin pengeroyokan anggota polisi. Bagi saya, hal ini justru mencoreng tradisi ini." Imbuhnya.
Tradisi ngangklang pada dasarnya adalah simbol kebersamaan dan kegembiraan menyambut hari kemenangan. Melalui pengamanan yang humanis tetapi tegas, diharapkan marwah tradisi asli Kaliwungu ini dapat kembali ke jalurnya sebagai kegiatan positif masyarakat, tanpa dibayangi rasa takut akan konflik antarkelompok.
Hingga azan subuh berkumandang, situasi di sepanjang Jalan K.H. Asyari terpantau aman dan terkendali. Petugas gabungan terus melakukan patroli penyisiran untuk memastikan massa membubarkan diri dengan tertib. (*)
