KETIK, SURABAYA – Menteri Sosial RI Saifullah Yusuf atau akrab disapa Gus Ipul memanfaatkan momentum Idulfitri 1447 Hijriah dengan mudik atau pulang ke kampung halamannya di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.
“Iya saya Lebaran ini mudik ke kampung kelahiran dan menemani ibu di Purwosari, Pasuruan,” ujarnya di Surabaya, Senin, 16 Maret 2026.
Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu mengaku hampir setiap tahunnya menemani sang ibu di kampung dan bersilaturahmi bersama keluarga besar, termasuk istri dan keempat anaknya.
Selain ke Pasuruan, Gus Ipul dan keluarganya juga bakal mudik ke Kabupaten Jombang, yang merupakan tanah kelahiran sang istri tercintanya, Fatma Saifullah Yusuf.
Tak hanya bersama keluarga, mantan Ketua Umum GP Ansor tersebut juga selalu menyempatkan diri bersilaturahmi ke sejumlah pondok pesantren di Jawa Timur sekaligus bertemu dengan kiai-kiai sepuh.
Menurut Gus Ipul, tradisi sowan kepada para ulama telah menjadi agenda rutin setiap tahun bersama keluarga. Tahun ini ia berencana memulai kunjungan, kemudian ke Pondok Pesantren Lirboyo di Kediri, Pondok Pesantren Sidogiri di Pasuruan, serta sejumlah pesantren lainnya di berbagai daerah.
Di samping untuk silaturahmi, Gus Ipul mengatakan kunjungan tersebut juga dimanfaatkan untuk memohon doa restu dari para ulama, terutama karena PBNU saat ini sedang mempersiapkan agenda besar organisasi, terutama Muktamar.
Dijadwalkan, Muktamar ke-35 NU diselenggarakan sekitar Juli-Agustus tahun ini. Namun, untuk kepastian waktu dan lokasi belum dipastikan karena masih dalam tahap pembahasan.
Di sisi lain, Gus Ipul juga berpesan kepada para pemudik, khususnya staf maupun Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bekerja di kementeriannya untuk tetap menjaga integritas dalam setiap situasi.
Wagub Jatim periode 2009-2019 itu juga mengingatkan ketika silaturahmi disertai pemberian bingkisan dari pihak yang memiliki hubungan pekerjaan maka hal tersebut berpotensi menjadi gratifikasi.
“Silaturahmi saat Lebaran memang selalu membawa kehangatan. Tapi, wajib jaga profesionalitas dan integritas dalam bekerja. Karena menjaga integritas juga bagian dari merayakan Lebaran dengan hati yang tenang,” tuturnya.
“Silaturahmi boleh, gratifikasi jangan,” tambah pejabat kelahiran Pasuruan, 28 Agustus 1964 tersebut. (*)
