Catatan Perjalanan Jurnalis Ketik.com

Menembus Langit Konflik demi Rida Ilahi

7 Maret 2026 08:40 7 Mar 2026 08:40

Thumbnail Menembus Langit Konflik demi Rida Ilahi

Di bawah temaram lampu hias yang megah dan pilar-pilar kokoh Masjid Nabawi, gemuruh dunia di luar sana terasa sangat jauh. Inilah momen "pulang" yang paling dinanti; tempat di mana kegelisahan digantikan dengan ketenangan yang menghunjam sanubari. Sujud Subuh yang menjadi penawar segala lelah perjalanan. (Foto: Gina for Ketik.com)

KETIK, JAKARTA – Di layar radar penerbangan global, wilayah Timur Tengah mungkin tampak membara akibat eskalasi konflik Iran-Israel. Namun, di dalam kabin pesawat, suasana justru dipenuhi lantunan talbiyah yang syahdu. Ketakutan akan perang seolah luruh oleh besarnya kerinduan pada Baitullah.

Perjalanan spiritual saya bersama keluarga dan rombongan kecil ini dimulai dari Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Kamis, 5 Maret 2026. Tepat pukul 13.35 WIB, pintu Gate 10 terbuka. Ada pemandangan unik saat kami memasuki burung besi tersebut; meski menggunakan maskapai Saudi Arabian Airlines, pesawat yang melayani kami bekerja sama dengan Garuda Indonesia termasuk pramugari asal Indonesia yang sigap melayani.

Memang sudah beberapa tahun ini Saudia Airlines bersama dengan Garuda Indonesia sepakat menjalin kerjasama codeshare. Penerbangan codeshare, adalah sebuah aliansi atau operasi gabungan antara dua maskapai atau lebih. Dalam praktiknya, penumpang memiliki tiket dengan nomor penerbangan maskapai tertentu (dalam hal ini Saudi Arabian Airlines dengan kode SV). Namun perjalanan tersebut secara fisik dioperasikan oleh maskapai mitra (Garuda Indonesia).

Eksodus Jemaah: Semangat yang Tak Padam oleh Perang

Tidak terlihat barisan penumpang di kabin bagian depan. Namun dalam kabin pesawat yang berseat 3-3-3 terlihat terisi penuh, nyaris 100 persen oleh jemaah umroh asal Indonesia. Mereka adalah "pejuang ibadah" yang sebagian jadwalnya sempat berantakan akibat pembatalan massal maskapai lain pasca-pecahnya dampak perang pada 28 Februari 2026 lalu. Meski belum menerima pengembalian dana (refund), mereka segera mencari penerbangan alternatif agar tetap bisa berangkat.

Di tengah keriuhan bandara, saya sempat berbincang dengan Dewi, seorang jemaah asal Jakarta yang melakukan Umroh Mandiri. Ia terpaksa berganti pesawat karena penerbangan sebelumnya batal terdampak konflik. Setelah tiba di hotel di Madinah, saya kembali bertemu dengan jemaah lain, Septi beserta suami dan keluarganya yang berasal dari Ujung Pandang. Sesama orang Indonesia, kami langsung merasa akrab. Ia pun mengisahkan pengalaman serupa: harus berganti maskapai demi tetap menuju Tanah Suci setelah pesawat yang seharusnya mereka tumpangi beberapa hari sebelumnya batal terbang akibat situasi perang.

 

Foto Suasana syahdu di dalam kabin pesawat yang dioperatori oleh Garuda Indonesia menuju Jeddah. Menariknya, pesawat terisi penuh oleh jemaah asal Indonesia yang tetap semangat berangkat meski sempat menghadapi pembatalan maskapai lain akibat dampak konflik geopolitik. Kedamaian di atas ketinggian ini seolah menghapus segala kekhawatiran tentang dunia di luar sana. (Foto: Gina for Ketik.com)Suasana syahdu di dalam kabin pesawat yang dioperatori oleh Garuda Indonesia menuju Jeddah. Menariknya, pesawat terisi penuh oleh jemaah asal Indonesia yang tetap semangat berangkat meski sempat menghadapi pembatalan maskapai lain akibat dampak konflik geopolitik. Kedamaian di atas ketinggian ini seolah menghapus segala kekhawatiran tentang dunia di luar sana. (Foto: Gina for Ketik.com)



Di tengah kekhawatiran batalnya sejumlah penerbangan transit, penerbangan langsung (direct flight) dari Indonesia menuju Arab Saudi sejauh ini relatif tidak terdampak. Maskapai yang melayani rute langsung ini, antara lain Saudia, Lion Air, dan Garuda Indonesia, tetap menjadi andalan utama jemaah. Hal inilah yang mendorong banyak jemaah umroh mandiri, termasuk Septi dan rombongannya, beralih ke layanan direct demi kepastian berangkat ke Tanah Suci.

Satu hal yang sangat berkesan bagi saya adalah ketenangan kolektif para jemaah. Sejak berada di dalam pesawat hingga menginjakkan kaki di Madinah, tidak ada satu pun jemaah yang menyinggung soal perang atau ketegangan geopolitik. Semua terlihat tenang, fokus pada tujuan ibadah, seolah ada keyakinan tak kasat mata bahwa perlindungan Sang Pencipta jauh lebih besar dari ancaman mana pun.

Buka Puasa di Atas Laut Arab

Penerbangan SV 817 terus melaju membelah cakrawala, menempuh waktu hampir sembilan jam melintasi zona waktu yang terus bergeser. Bagi kami yang tetap teguh menjalankan ibadah puasa, perjalanan ini menjadi ujian fisik sekaligus batin yang unik; durasi puasa kami bertambah sekitar tiga jam mengikuti pergerakan matahari yang seolah enggan tenggelam di ufuk barat. Di dalam kabin yang tenang, sesekali terdengar deru mesin pesawat yang stabil, menemani penantian kami akan saat berbuka yang tak biasa.

Momen yang dinanti akhirnya tiba tepat saat posisi pesawat berada di atas hamparan luas Laut Arab (Arabian Sea). Pukul 17.52 waktu setempat, pengumuman dari kru kabin memecah keheningan, menandakan waktu berbuka telah masuk. Di ketinggian puluhan ribu kaki, dengan pemandangan semburat jingga yang memantul di atas samudra di bawah sana, kami pun membatalkan puasa. Menu yang disajikan pun tergolong lumayan untuk menemani perjalanan panjang berjarak 7327 km dengan waktu penerbangan normal 9 jam 55 menit ini.

Waktu berbuka ini jatuh sekitar 2 jam 25 menit sebelum pesawat melintasi titik Miqot di kawasan tersebut. Untuk di ketahui perbedaan waktu antara Jakarta (WIB) dan Jeddah (AST : Arabia Standard Time) adalah 4 jam, di mana Jakarta lebih cepat. Jika di Jakarta pukul 12.00 WIB, maka di Jeddah baru pukul 08.00.

Sujud Subuh di Masjid Nabawi

Malam semakin larut ketika armada Hiace yang membawa rombongan sepuluh orang kami membelah sunyinya jalur trans-Arab menuju Madinah. Usai berhenti sejenak untuk makan, kami tiba di hotel pada pukul 02.00 dini hari. Hotel kami terletak sangat strategis, tidak jauh dari Pintu 339 Masjid Nabawi.

Meski menempati kamar di lantai 13 yang sangat mengandalkan lift, semangat kami tak surut. Usai sahur kilat, kami segera bergegas. Tidak ada waktu untuk sekadar merebahkan punggung; niat kami sudah bulat untuk mengejar saf dalam salat Subuh perdana di kota Sang Nabi. Langkah kaki kami beradu dengan ribuan jemaah lainnya di atas marmer dingin yang menyejukkan.

Di bawah temaram lampu-lampu Nabawi yang ikonik, lautan manusia sudah memenuhi setiap sudut selasar. Suasananya begitu kontras; penuh sesak namun diliputi ketenangan yang magis. Di momen inilah, saat dahi menyentuh sajadah, segala kegelisahan tentang gemuruh perang di luar sana terasa sangat jauh. Di sini, di jantung Madinah, rasa takut itu kalah telak oleh kedamaian yang menghunjam langsung ke lubuk sanubari sebuah ketenangan yang hanya bisa ditemukan saat seorang hamba benar-benar merasa "pulang" ke rumah kekasih-Nya. (*)

Tombol Google News

Tags:

Umroh 1447 H Fajar Rianto ketik.com Yogyakarta konflik Iran Israel Saudi Arabian Airlines SV 817 Garuda Indonesia Masjid Nabawi Madinah Perjalanan Ibadah jemaah Indonesia umroh mandiri. Ramadan 1447 H Idulfitri 1447 H