KETIK, SURABAYA – Memastikan "tumbuh kembang anak" yang optimal bukan sekadar soal memasukkan mereka ke sekolah favorit, melainkan dimulai dari fondasi paling dasar yaitu asupan nutrisi sejak hari pertama kehidupan.
Hal ini disampaikan Kepala Perwakilan Unicef Wilayah Jawa, Tubagus Arie Rukmantara, kepada Ketik.com di Surabaya, Minggu, 8 Maret 2026. Ia sekaligus menekankan bahwa asupan gizi berkualitas seperti Air Susu Ibu (ASI) eksklusif menjadi kunci generasi masa depan lebih cerah.
Arie, yang juga Partnership Specialist Unicef, menjelaskan bahwa mandat menyejahterakan anak Indonesia tidak bisa dilakukan secara parsial, harus berkesinambungan.
Ia memaparkan sebuah peta jalan ”life cycle” yang luas di mana pemberian ASI eksklusif menjadi pondasi utama dan asupan pertama kepada bayi yang tidak tergantikan.
"Tidak ada yang bisa menggantikan ASI eksklusif. Sudah diteliti dari zaman dulu sampai sekarang itu bahwa tidak ada yang bisa menggantikan (kayanya kandungan gizi) ASI eksklusif," tegas Arie.
Sebagai informasi, ASI eksklusif sangat kaya nutrisi, mengandung air (87,5%), protein (terutama whey), lemak (DHA/AA), laktosa, vitamin, mineral, dan antibodi dalam proporsi sempurna.
Ini adalah nutrisi terbaik untuk pertumbuhan otak dan sistem saraf, serta meningkatkan daya tahan tubuh. ASI mudah dicerna dan disesuaikan biologis dengan kebutuhan bayi.
Setelah fondasi nutrisi yang kemudian dilengkapi dengan makanan pendamping ASI sebagai pelengkap Masa Keemasan (1000 Hari Pertumbuhan) dan lalu gizi seimbang seterusnya selama menjalani pertumbuhan.
Seribu Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu 270 hari kehamilan + 730 hari pertama anak, adalah periode emas (window of opportunity) untuk perkembangan otak, fisik, dan kekebalan tubuh. Nutrisi optimal, seperti zat besi dan protein, sangat penting untuk mencegah stunting dan gangguan kognitif.
Setelah fondasi gizi terpenuhi, fokus "tumbuh kembang anak" kemudian dilengkaping degan perlindungan kesehatan melalui imunisasi rutin dan lengkap, gaya hidup sehat, dan mencegah penularan penyakit menular lewat cara hidup bersih dan sehat, seperti sering mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun serta mempraktikkan etika bersin serta memakai masker apabila sedang menderita flu dan batuk.
Arie menegaskan bahwa anak harus terlindungi dari penyakit menular yang berpotensi melumpuhkan, agar proses tumbuh kembang mereka tidak terhambat. Langkah awal ini sangat penting agar semua anak punya kesempatan yang sama untuk menjalani hidup.
Memasuki usia sekolah, penting bagi anak mendapatkan akses pendidikan. UNICEF mendorong agar setiap anak, tanpa memandang latar belakang ekonomi, gender, atau kondisi fisik, mendapatkan akses yang setara sejak dari Pendidikan Anak Usian Dini (PAUD) sampai dengan minimal Sekolah Menengah Atas, bahkan hingga perguruan tinggi.
Arie turut mendorong agar masyarakat mengenal dan menyukseskan Wajib Belajar 13 tahun, dengan memasukkan PAUD. Penyempurnaan kebijakan pendidikan yang sebelumnya hanya sampai 12 tahun (SD sampai SMA).
Dalam tahap ini, lingkungan bermain dan ruang publik yang ramah anak atau "third space" , diluar rumah (first space) dan sekolah (second space) juga sangat penting untuk mengasah kemampuan sensorik dan motorik anak serta kecerdasan sosial (social quotient) anak.
Namun, jalan menuju potensi terbaik tersebut tidak akan tercapai tanpa perlindungan anak yang kuat. Arie menyoroti pentingnya melindungi anak dari berbagai tindakan kekerasan anak, mulai dari perundungan (bullying), kekerasan seksual, hingga ancaman digital dan praktik jahat lainnya seperti "child grooming".
Perlindungan anak adalah salah satu hak dasar anak selain tumbuh kembang, pendidikan dan partisipasi, dan oleh karena itu wajib dilaksanakan oleh negara dan seluruh anggota masyarakat. Keterlibatan dewasa harus berdasar prinsip utama "for the best interest of the child", di mana setiap tindakan orang dewasa terhadap anak haruslah demi kepentingan terbaik anak tersebut.
"Apapun tindakan orang dewasa, kalau bukan for the best interest of the child maka itu salah. Bahkan kalau perlu dibuat hukum untuk melarangnya," ujarnya dengan tegas, menambahkan bahwa norma sosial masyarakat juga harus mendukung perlindungan anak.
Terkait isu child grooming yang kian meresahkan, Arie menggarisbawahi bahwa norma sosial masyarakat harus pro perlindungan anak. Masyarakat tidak boleh lagi membiarkan praktik-praktik yang mendiskriminasi anak, menutup ruang partisipasi mereka dengan tidak boleh bersuara, dan mengekang pilihan anak atau memanipulasi pengertian mereka terhadap dunia.
Ia memberikan perbedaan mendasar antara bimbingan sehat dan grooming. "Grooming itu kamu nggak punya pilihan, kamu nggak dikasih opsi... Kalau for the best interest of the child, kamu dikasih pilihan dengan penjelasan baik buruknya," jelasnya.
Dengan demikian, edukasi parenting yang tepat harus diberikan agar orang tua dan lingkungan mampu mengenali tanda-tanda bahaya serta memberikan opsi pilihan yang sehat bagi masa depan anak.
Kolaborasi menjadi kata kunci dalam mewujudkan visi ini. UNICEF Indonesia tidak bekerja sendiri, melainkan bergandengan tangan dengan pemerintah pusat hingga daerah, organisasi masyarakat seperti PKK dan Pramuka serta media.
Hal ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem yang mendukung penuh akses pendidikan dan kesejahteraan anak secara menyeluruh.
"Urusan anak bukan urusan kami saja. Misalnya, perkumpulan seperti Surabaya Friendship Club dan media Ketik.com juga peduli sama anak... Itu berarti urusan anak bukan urusan kami saja," tambah Arie mengapresiasi peran komunitas lokal.
Dengan memperhatikan tumbuh kembang anak secara utuh, sejak lahir sampai dewasa, mulai dari menjamin pemberian ASI, akses kesehatan dan pendidikan, hingga perlindungan dan partisipasi, masyarakat sedang menyiapkan masa depan Indonesia yang lebih baik.
"Norma penting sekali dibangun untuk memastikan bahwa setiap anak sampai ke tingkat paling mulia, mencapai potensi terbaiknya. Tugas kita bersama memastikan setiap anak bisa meraih mimpi setinggi langit, kalaupun jatuh, mereka jatuh diantara bintang-bintang," pungkasnya. (*)
