KETIK, BANGKALAN – Waktu terasa melambat, tetapi sejatinya ia terus melaju tanpa henti. Detiknya berjalan senyap, membawa serta rasa rindu yang tak pernah benar-benar padam. Rindu pada tanah kelahiran, pada aroma kampung halaman, pada ingatan-ingatan yang diam-diam bersemayam di relung hati para perantau. Rindu itu tidak berteriak, tetapi setia hadir, tumbuh bersama jarak dan waktu.
Dari rasa itulah Ikatan Keluarga Madura (IKAMA) lahir, meski tak sepenuhnya mewakili, setidaknya menjadi tempat menitipkan kangen yang terus menyala bak bara api. Tanpa jeda, apalagi spasi.
Bagi IKAMA, usia 52 tahun bukan sekadar hitungan waktu. Ia adalah jejak panjang sebuah perjalanan, yang dilalui dengan memegang erat nilai-nilai sebagai orang seberang. Angu’ poteah tolang, katembeng pote matah, lebih baik putih tulang daripada putih mata, falsafah Madura itu menjadi penanda sikap hidup yang dijaga lintas generasi.
Peringatan HUT ke-52 IKAMA menjadi ruang kecil untuk menoleh sejenak ke belakang, sebelum menatap jauh ke depan. Setengah abad lebih telah dilewati, dari sebuah ikatan keluarga sederhana hingga menjelma menjadi organisasi yang menumbuhkan harapan. Seperti senja jelang maghrib. IKAMA kini menatap masa depan dengan misi besar membangun sumber daya manusia Madura, dari pinggir, tengah, hingga pusat kota.
Ketua Umum DPP IKAMA, H. Muhammad Rawi, menyebut organisasi yang berdiri sejak 1974 itu lahir dari kebutuhan paling mendasar manusia perantauan: sebuah rumah untuk pulang. Meski hanya lewat silaturahmi, secangkir kopi, dan suguhan sederhana ala kampung halaman.
“IKAMA didirikan untuk menjadi rumah bagi warga Madura di perantauan. Tempat bertemu, saling menguatkan, dan menjaga jati diri,” ujar Haji Rawi.
Namun rumah itu tidak berhenti sebagai simbol persaudaraan. Ia tumbuh, bergerak, dan merambah ke dunia pendidikan. Di Cilincing, Jakarta Utara, DPP IKAMA mendirikan SMP dan SMK di bawah naungan Yayasan Darul Ma’arif. Sekolah tersebut menjadi bukti bahwa mimpi tentang masa depan tidak hanya diucapkan, tetapi ditanam dan dirawat sejak dini.
Perlahan namun pasti, lembaga pendidikan itu berkembang dan memberi akses belajar bagi anak-anak di Jakarta Utara dan sekitarnya.
Bagi Haji Rawi, pendidikan adalah investasi jangka panjang, sebagaimana diajarkan dalam Ta’limul Muta’allim melalui konsep thuulu zamanin, panjang masanya. Ia juga mengutip pemikiran senator Amerika, J. William Fulbright: “Education is a slow-moving but powerful force.” Pendidikan mungkin bergerak pelan, tetapi dampaknya sangat besar bagi masa depan.
Sejak awal berdiri, IKAMA konsisten mendorong pengembangan sumber daya manusia, baik di Pulau Madura maupun di tanah rantau. Harapannya sederhana namun mendalam: lahir generasi Madura yang siap berkontestasi, berkolaborasi, dan berkontribusi bagi NKRI.
“Kami ingin anak-anak Madura tumbuh dengan ilmu, keterampilan, dan karakter yang kuat. Itu bekal utama untuk masa depan mereka,” tegasnya. Kamis 15 Januari 2026.
Upaya pembinaan tersebut tidak hanya diwujudkan melalui jalur pendidikan formal. IKAMA juga aktif dalam beragam kegiatan sosial, dari pemberdayaan masyarakat hingga penguatan jejaring warga Madura di berbagai daerah, bahkan lintas negara.
Perlahan, organisasi ini menjelma menjadi sabuk pengikat lintas generasi: merawat tradisi sekaligus menghadirkan perubahan.
Di usia ke-52 tahun, IKAMA menegaskan komitmennya untuk terus melahirkan SDM andal yang mampu membangun Pulau Madura dan mengambil peran strategis dalam setiap jengkal pembangunan nasional.
IKAMA siap menjadi bagian dari perjalanan besar bangsa, mendukung arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto menuju cita-cita Indonesia Emas 2045.
Di tengah arus zaman yang terus bergerak, IKAMA tetap setia menjaga bara rindu sekaligus menyalakannya menjadi cahaya masa depan. (*)
