KETIK, JAKARTA – Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) menyambut peresmian Infrastruktur Energi Terintegrasi Pertamina RDMP Balikpapan oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
Peresmian ini merupakan momentum strategis yang sejalan dengan perjuangan FSPPB untuk mengembalikan Pertamina sebagai perusahaan energi nasional yang terintegrasi penuh dari hulu hingga hilir.
Bagi FSPPB, penggunaan istilah "Infrastruktur Energi Terintegrasi" dalam peresmian RDMP Balikpapan mencerminkan arah kebijakan strategis pengelolaan energi nasional yang harus "terintegrasi".
Integrasi rantai nilai energi dipandang sebagai kunci utama dalam memperkuat ketahanan dan mewujudkan swasembada energi Indonesia.
Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius, dalam sambutannya menegaskan peran vital perusahaan. Terutama dalam mewujudkan swasembada energi nasional.
"Pertamina harus menjadi sokoguru dalam mewujudkan swasembada energi nasional," jelas Simon Aloysius dalam keterangan yang diterima Ketik.com, Selasa, 13 Januari 2026.
Momen foto bersama Presiden Prabowo peresmian Infrastruktur Energi Terintegrasi Pertamina RDMP Balikpapan (Foto: FSPPB)
Sementara Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto, dalam amanatnya menaruh harapan besar agar Pertamina kembali pada fungsi strategisnya bagi negara.
"Pertamina yang sebagai national champion kebanggaan bangsa harus mampu kembali menjadi Agent of Change, Agent of Development, dan Agent of Modernization," tegas Presiden Prabowo.
Presiden FSPPB Arie Gumilar menilai bahwa harapan besar yang disampaikan Presiden Prabowo dan Diruy Pertamina bisa diwujudkan dengan mengembalikan kekuatan Pertamina menjadi terintegrasi penuh dari hulu ke hilir.
Karena itu, FSPPB mendesak agar Pertamina disatukan kembali dari bentuk holding-subholding menjadi bentuk terintegrasi dalam struktur satu kesatuan National Oil Company (NOC) yang solid di bawah kepemimpinan langsung Presiden Prabowo.
"RDMP Balikpapan membuktikan bahwa integrasi bukan sekadar konsep, tetapi kebutuhan strategis bangsa,” ungkap Presiden FSPPB Arie Gumilar yang turut menghadiri langsung prosesi peresmian di Balikpapan.
“Infrastruktur energi terintegrasi hanya akan optimal jika dikelola oleh Pertamina yang terintegrasi secara utuh, dengan arah kebijakan tunggal di bawah kepemimpinan Presiden Republik Indonesia," tegasnya.
Dalam momentum itu, FSPPB menegaskan komitmennya untuk terus memperjuangkan reintegrasi Pertamina dari hulu ke hilir, demi tercapainya ketahanan dan swasembada energi nasional, hilirisasi bernilai tambah tinggi, serta pengelolaan energi yang berkeadilan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Sebagai informasi, Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan dengan nilai investasi sekitar US$7,4 miliar ini secara signifikan meningkatkan kapasitas Kilang Balikpapan dari 260 ribu barel per hari (bph) menjadi 360 ribu bph.
Peningkatan kapasitas ini memperkuat struktur industri pengolahan nasional yang terhubung langsung dengan sektor hulu, hilir, serta industri petrokimia.
Beroperasinya Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Complex menjadi bukti nyata terwujudnya infrastruktur energi terintegrasi.
Fasilitas ini memungkinkan residu minyak diolah menjadi BBM berkualitas Euro 5 yang lebih bersih dan rendah emisi, sekaligus menghasilkan LPG, propylene, sulfur, serta produk petrokimia bernilai tambah tinggi.
Dampak langsungnya adalah penguatan pasokan energi nasional, pengurangan ketergantungan impor, serta peningkatan nilai tambah di dalam negeri.
Dari sisi kinerja, peningkatan Nelson Complexity Index (NCI) dari 3,7 menjadi 8,0 serta Yield Valuable Product (YVP) dari 75,3% menjadi 91,8% menegaskan bahwa kilang terintegrasi merupakan fondasi utama efisiensi, daya saing, dan keberlanjutan industri energi nasional.(*)
