KETIK, SIDOARJO – Komitmen memperkuat kapasitas relawan terus digelorakan Sekber Relawa Penanggukangan Bencana Jawa Timur melalui kegiatan Arisan Ilmu Nol Rupiah ke-65. Mengusung tema “Bersiap Siagalah dalam Segala Hal”, forum belajar gratis ini digelar di Tempina BPBD Jawa Timur, Sabtu 28 Februari 2026, diikuti sekitar 100 peserta dari berbagai organisasi relawan mitra SRPB Jatim.
Kegiatan dibuka oleh Dadang Iqwandy, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jatim. Dalam sambutannya, Dadang menegaskan pentingnya forum belajar berkelanjutan sebagai ruang berbagi pengalaman sekaligus penguatan kapasitas teknis relawan.
“Relawan adalah garda terdepan saat bencana terjadi. Karena itu, peningkatan kompetensi dan kesiapsiagaan harus dilakukan secara konsisten,” ujarnya.
Kupas Survival dan Kesiapsiagaan Lapangan
Pada edisi kali ini, SRPB Jatim menghadirkan tim dari Survival Skills Indonesia sebagai narasumber utama, yakni Wawan Kimiawan (Penasihat) dan Daffa Nouval (Chapter Jatim).
Kalaksa BPBD Jatim saat menyampaikan pentingnya kolaborasi dalam menghadapi bencana bagi relawan di Jawa Timur. (Foto :Sutejo Rc/Ketik.com)
Materi yang disampaikan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga aplikatif dan kontekstual dengan kondisi kebencanaan di Jawa Timur. Beberapa pokok bahasan yang dikupas antara lain:
Manajemen bertahan hidup (survival management) dalam kondisi darurat, termasuk teknik membaca situasi dan menentukan prioritas keselamatan.
Kesiapsiagaan individu dan tim, meliputi standar perlengkapan dasar relawan (personal survival kit) dan manajemen logistik sederhana di lapangan.
Mitigasi risiko berbasis lingkungan, terutama dalam menghadapi perubahan siklus cuaca dan potensi bencana hidrometeorologi.
Wawan Kimiawan salah satu narasumber AINR 65 memaparkan arti penting survival bagi relawan. (Foto : Sutejo Rc/Ketik.com)
Penguatan mental dan kepemimpinan relawan, agar tetap tenang, adaptif, dan mampu mengambil keputusan cepat saat krisis.
Wawan Kimiawan yang juga Koordinator SRPB Jatim, menekankan bahwa survival bukan sekadar kemampuan bertahan hidup di alam bebas, melainkan kemampuan mengelola risiko dalam situasi apa pun. “Kesiapsiagaan harus menjadi budaya, bukan hanya respons saat bencana terjadi,” tegasnya.
Sementara itu, Daffa Nouval mengajak peserta untuk terus mengasah keterampilan teknis sekaligus memperkuat kerja tim. Menurutnya, relawan yang solid lahir dari proses latihan dan pembelajaran yang berkelanjutan.
Di tengah penyampaian materi, Kepala Pelaksana BPBD Jatim, Gatot Subroto, hadir langsung di tengah peserta usai menghadiri agenda di Banyuwangi. Kehadirannya disambut antusias para relawan.
Gatot yang didaulat memberikan arahan singkat mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap perubahan siklus dan dinamika iklim yang semakin tidak menentu.
“Kita harus waspada terhadap perubahan siklus dan iklim. Kapasitas relawan harus terus dimatangkan. Jangan pernah berhenti belajar,” pesannya.
Ia mengapresiasi konsistensi SRPB Jatim dalam menyelenggarakan Arisan Ilmu yang telah berjalan bertahun-tahun. Menurutnya, forum ini menjadi bukti bahwa proses belajar di kalangan relawan tidak pernah berhenti.
“Alhamdulillah, melalui Arisan Ilmu, budaya belajar terus tumbuh. Menghadapi kondisi saat ini, kita tidak bisa sendiri. Harus bersama, saling berkolaborasi dan saling menguatkan,” tandasnya.
Arisan Ilmu Nol Rupiah bukan sekadar forum diskusi, tetapi telah menjadi ruang konsolidasi dan penguatan jejaring antar organisasi relawan di Jawa Timur. Dengan konsep gratis dan terbuka, kegiatan ini menjadi contoh praktik baik kolaborasi multipihak dalam pengurangan risiko bencana.
Semangat kebersamaan yang terbangun dalam kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat kesiapsiagaan kolektif, sehingga relawan Jawa Timur semakin tangguh, adaptif, dan siap menghadapi berbagai potensi bencana di masa mendatang. (*)
