KETIK, BATU – Dinkes Kota Batu mengakui masih banyak anggota keluarga pasien yang enggan menjalani pemeriksaan karena merasa tidak mengalami keluhan kesehatan. Padahal, kelompok tersebut merupakan pihak yang paling berisiko terpapar bakteri TBC.
“Yang masih menjadi kendala adalah banyak anggota keluarga pasien menolak diperiksa karena merasa sehat. Padahal mereka merupakan kontak erat yang memiliki potensi tertular. Oleh karena itu, TPT sangat penting agar penularan tidak terus terjadi di lingkungan keluarga,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Batu, dr. Icang Sarrazin, Jumat, 24 Juli 2026.
Berdasarkan data Dinkes Kota Batu, tingkat partisipasi masyarakat dalam mengikuti program TPT baru mencapai sekitar 30 persen. Rendahnya angka tersebut dinilai menjadi tantangan serius dalam upaya menekan penyebaran TBC di Kota Batu.
Untuk meningkatkan cakupan skrining dan terapi pencegahan, Dinkes menggandeng seluruh fasilitas pelayanan kesehatan, mulai dari puskesmas, klinik, hingga Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Batu.
Kolaborasi tersebut difokuskan pada pelacakan kontak erat sekaligus memperluas edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pemeriksaan TBC.
“Kami berharap masyarakat tidak takut menjalani pemeriksaan. Semakin cepat TBC ditemukan, semakin cepat pula pengobatan dilakukan sehingga risiko penularan kepada keluarga maupun lingkungan sekitar dapat diminimalkan,” pungkasnya.
Maka dari itu, Kota Batu terus mengintensifkan skrining tuberkulosis (TBC) sebagai upaya memutus rantai penularan penyakit menular tersebut.
Meski berbagai langkah telah dilakukan, tingkat partisipasi masyarakat untuk menjalani pemeriksaan dini maupun terapi pencegahan masih tergolong rendah dan menjadi tantangan dalam mewujudkan target eliminasi TBC.
dr. Icang Sarrazin, mengatakan skrining merupakan tahapan paling krusial untuk menemukan kasus sejak dini sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan risiko penularan dapat ditekan.
“Deteksi dini merupakan kunci utama dalam pengendalian TBC. Namun hingga saat ini, jumlah masyarakat yang mengikuti skrining masih belum sesuai dengan yang kami harapkan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis.
Penyakit ini menyebar melalui percikan dahak penderita ketika batuk, bersin, atau berbicara, terutama jika terjadi kontak dalam waktu lama di ruang tertutup.
Selain memberikan pengobatan kepada pasien yang telah terdiagnosis positif, Dinkes Kota Batu juga memperkuat pelaksanaan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bagi orang yang tinggal serumah atau memiliki kontak erat dengan penderita.
Menurut dr Icang, langkah tersebut penting untuk mencegah munculnya kasus baru pada kelompok yang memiliki risiko penularan paling tinggi.
“Kami tidak hanya berfokus pada pengobatan pasien TBC, tetapi juga memberikan Terapi Pencegahan Tuberkulosis kepada anggota keluarga maupun kontak erat agar penyebaran penyakit dapat dihentikan sedini mungkin,” katanya.
Pasien TBC diwajibkan menjalani pengobatan selama enam bulan sesuai standar medis. Sementara itu, anggota keluarga atau kontak erat yang belum menunjukkan gejala dapat memperoleh terapi pencegahan selama tiga bulan setelah melalui pemeriksaan oleh tenaga kesehatan.(*)
