Lahan Apel di Kota Batu Kian Tergerus, Pemkot Siapkan Langkah Penyelamatan

20 April 2026 13:47 20 Apr 2026 13:47

Dafa Wahyu P., Gumilang

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Lahan Apel di Kota Batu Kian Tergerus, Pemkot Siapkan Langkah Penyelamatan

Wali Kota Batu, Nurochman (topi putih) saat panen apel di Desa Tulungrejo. (Foto: Prokopim Setda Kota Batu)

KETIK, BATU – Luas lahan perkebunan apel di Kota Batu terus menyusut dalam tiga tahun terakhir, penurunan ini mengancam status daerah sebagai sentra apel sekaligus ikon pertanian unggulan.

Berdasarkan catatan, luas lahan apel pada 2022 masih mencapai 1.092 hektare. Angka tersebut kemudian turun menjadi sekitar 823,33 hektare pada 2023, dan kembali menyusut hingga tersisa 740,07 hektare pada akhir 2024.

Wali Kota Batu, Nurochman, menegaskan bahwa apel bukan sekadar komoditas pertanian, melainkan identitas daerah yang harus dijaga bersama.

“Apel Batu ini bukan sekadar hasil panen, tetapi merupakan identitas Kota Batu. Jika tidak kita jaga bersama, bukan tidak mungkin suatu saat hanya tinggal nama,” ujarnya, Senin, 20 April 2026.

Ia menjelaskan, penyusutan lahan terjadi akibat berbagai faktor, mulai dari alih fungsi lahan menjadi permukiman, vila, dan kafe, dampak perubahan iklim, menurunnya kualitas tanah, hingga tingginya biaya perawatan tanaman.

Menurutnya, aspek ekonomi menjadi pertimbangan utama bagi petani dalam mempertahankan kebun apel.

“Petani harus mendapatkan keuntungan. Jika biaya pupuk, obat, dan tenaga kerja lebih besar dibanding hasil panen, tentu mereka akan memilih beralih ke komoditas lain,” kata Cak Nur, sapaan akrabnya.

Tak hanya luas lahan, produksi apel di Kota Batu juga mengalami penurunan. Pada 2024, total produksi tercatat sekitar 140.285 kuintal, lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Pemerintah Kota Batu menegaskan komitmennya untuk menjaga keberlanjutan komoditas tersebut agar tetap menjadi penopang ekonomi masyarakat.

“Kami ingin apel Batu tetap hidup, memiliki daya saing, dan terus menjadi sumber ekonomi masyarakat. Jangan sampai ikon Kota Batu hilang karena kita terlambat bertindak,” tegas Cak Nur.

Sementara itu, data dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan KP) Kota Batu menunjukkan tren penurunan lahan apel telah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir.

Pada 2020, luas lahan masih berada di kisaran 1.200 hektare, kemudian turun menjadi 1.092 hektare pada 2022, dan sekitar 1.044 hektare pada 2023 berdasarkan pendataan sebelumnya. Kini, luas lahan tersisa sekitar 740 hektare.

Saat ini, sentra perkebunan apel masih terkonsentrasi di Kecamatan Bumiaji, terutama di Desa Tulungrejo, Bulukerto, Sumbergondo, dan Desa Bumiaji.

Di wilayah tersebut, petani masih mempertahankan varietas unggulan seperti apel Manalagi dan Anna.

Kondisi tersebut menunjukkan penyusutan lahan berbanding lurus dengan penurunan produksi.

Sebagai langkah penyelamatan, Pemerintah Kota Batu mulai menyiapkan berbagai upaya, mulai dari penguatan kelembagaan petani, pemberian bantuan bibit unggul, perbaikan jalan usaha tani, hingga kolaborasi riset untuk mengembangkan varietas apel yang lebih tahan terhadap perubahan iklim. (*)

Tombol Google News

Tags:

#LahanApel #ApelKotaBatu #WaliKotaBatu #InfoKotaBatu #BeritaKotaBatu #PenyusutanLahanApel