KETIK, ACEH BARAT DAYA – Erosi yang terjadi di sepanjang aliran Krueng Babahrot mulai menjadi perhatian warga Desa Cot Seumantok, Kecamatan Babahrot, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Aceh. Gerusan aliran sungai secara perlahan mengikis lahan perkebunan masyarakat yang berada di sekitar daerah aliran sungai (DAS).
Jika tidak segera ditangani, kondisi tersebut dikhawatirkan dapat terus mengurangi luas lahan produktif milik warga yang selama ini dimanfaatkan sebagai perkebunan.
Salah seorang pemilik lahan, Saiful, mengatakan kebunnya menjadi salah satu lahan yang terdampak erosi. Dari luas yang sebelumnya diperkirakan mencapai sekitar 4 hektare, kini sebagian lahannya telah hilang akibat terkikis aliran sungai.
“Lahan saya sendiri lebih kurang ada 1 hektar yang sudah jadi sungai. Pemilik lahan lainnya juga merasakan hal yang sama,” kata Saiful, Minggu (23/8/2026).
Menurut Saiful, kondisi tersebut berkaitan dengan perubahan arah aliran Krueng Babahrot. Ia menyebut, sebelumnya pernah terdapat pembangunan tebing penghalang di sisi lain sungai yang dilakukan oleh salah satu perusahaan galian material di Kecamatan Babahrot.
"Yang terparah saat ini di lokasi yang dulunya ada jembatan gantung penghubung antara Desa Cot Seumantok dan Desa Alue Jereujak. Jembatan tersebut sekarang sudah tidak ada," jelasnya.
Meski demikian, Saiful menegaskan persoalan tersebut tidak ingin diarahkan untuk mencari pihak yang harus disalahkan. Ia berharap perhatian semua pihak lebih difokuskan pada upaya mencari solusi agar erosi tidak terus meluas.
“Tapi bukan itu yang dipermasalahkan. Dulu pernah disampaikan secara lisan kepada perusahaan tersebut, tapi tidak ada tanggapan dan tindak lanjut,” ujarnya.
Bagi Saiful, persoalan utama saat ini adalah bagaimana menyelamatkan lahan masyarakat yang masih tersisa. Sebab, semakin lama erosi berlangsung, semakin besar pula potensi berkurangnya lahan perkebunan warga.
“Kita tidak mencari siapa yang salah. Yang penting bagaimana mencari jalan keluar supaya kebun warga tidak semakin terkikis,” katanya.
Ia berharap pemerintah, baik Pemerintah Kabupaten Abdya, Pemerintah Aceh maupun pemerintah pusat, dapat melihat kondisi tersebut dan melakukan kajian serta langkah penanganan yang tepat. Mengingat lokasi tersebut terdapat ratusan hektare perkebunan milik masyarakat di sepanjang DAS Krueng Babahrot.
Menurutnya, penanganan erosi perlu dilakukan secara bersama-sama dengan mempertimbangkan kondisi aliran sungai, lingkungan serta keberlangsungan lahan masyarakat.
“Kami berharap ada solusi agar ratusan hektare kebun milik warga tidak semakin tergerus dan berubah menjadi aliran sungai,” ujarnya.
Warga berharap persoalan tersebut dapat menjadi perhatian bersama sehingga upaya penanganan Krueng Babahrot tidak hanya mencegah kerusakan lahan, tetapi juga menjaga keberlanjutan perkebunan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya. (*)
.png)